INDUSTRY.co.id - Jakarta - Teknologi digital kini semakin mengubah cara masyarakat berinvestasi. Kecerdasan buatan (AI), trading bot, hingga sistem analisis otomatis mulai banyak dimanfaatkan investor untuk membaca peluang pasar sekaligus mengelola risiko secara lebih terukur.

Direktur Utama PT Smartin Advisor Sistem (SAS) Odang Supriatna mengatakan, teknologi digital dapat membantu investor mengambil keputusan transaksi berdasarkan manajemen risiko yang sesuai dengan profil masing-masing.
 
"Penggunaan teknologi digital membuat keputusan transaksi menjadi terukur, berdasarkan mitigasi risiko sesuai profil investor," kata Odang dalam workshop jurnalis bertema Pemanfaatan Teknologi dalam Mitigasi dan Menangkap Peluang Investasi di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
 
Menurutnya, Smartin sebagai perusahaan penasihat berjangka resmi di bawah pengawasan Bappebti, OJK, dan Bank Indonesia telah mengembangkan berbagai teknologi investasi, mulai dari expert advisor (EA), AI, sinyal trading, indikator teknikal, hingga program edukasi.
 
Salah satu teknologi yang ditawarkan adalah tradingmatic bot untuk platform MetaTrader 4 (MT4) yang menggunakan strategi dengan target keuntungan dan batas kerugian yang terukur. Selain itu, ada Quadran EA di MetaTrader 5 (MT5) yang mengandalkan strategi smart breakout trading.
 
Di bidang AI, Smartin menghadirkan Gold Mind AI yang memberikan sinyal beli dan jual secara real-time dengan dukungan berbagai indikator pasar. Ada pula Finsfree, sistem analisis multiindikator AI yang dapat digunakan untuk puluhan pasangan mata uang dan berbagai time frame.
 
Meski demikian, Odang menegaskan teknologi tidak menggantikan pentingnya pemahaman investor. Karena itu, Smartin juga menyediakan edukasi mengenai analisis pasar, manajemen risiko, hingga disiplin trading.
 
"Tujuan kami membantu masyarakat memahami investasi yang benar dan legal serta terhindar dari investasi bodong atau scam," ujarnya.
 
Senada dengan itu, President Director ACM Merchantile Exchange Arwandi J Setiabudi menilai, literasi keuangan merupakan fondasi utama dalam investasi. Menurutnya, risiko harus selalu menjadi prioritas sebelum mengejar keuntungan.
 
"Mitigasi risiko yang paling dasar adalah financial literacy. Investor harus dibekali pengetahuan yang cukup agar dapat mengambil keputusan sesuai profil risikonya," kata Arwandi.
 
Sementara itu, Product Marketing Supervisor Bittime Fini Charisa mengingatkan bahwa AI dan automated trading hanyalah alat bantu analisis. Teknologi tidak dapat menjamin keuntungan maupun menghilangkan risiko, terutama di pasar aset digital yang sangat fluktuatif.
 
"Teknologi berperan sebagai enabler, bukan pengganti pemahaman investor. Pengguna tetap harus memahami profil risiko, karakteristik aset, dan mekanisme produk sebelum bertransaksi," ujar Fini.
 
Workshop tersebut juga menghadirkan Chief Technology Officer Smartin Ervan Chandra Gunawan dan analis pasar Dupoin Futures Indonesia Geraldo Kofit. 
 
Kolaborasi antara pelaku industri, penyedia teknologi, dan media diharapkan dapat meningkatkan literasi keuangan digital serta mendorong ekosistem investasi yang lebih sehat di Indonesia.