INDUSTRY.co.id - Jakarta - Citigroup atau Citi menegaskan arah baru pertumbuhan bisnisnya dengan membidik imbal hasil yang lebih kuat dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Komitmen itu dipaparkan dalam ajang Investor Day 2026 yang digelar di kantor pusat Citi di New York pada 7 Mei 2026.

Dalam forum yang dipimpin langsung oleh Chair dan Chief Executive Officer Citi, Jane Fraser, manajemen membeberkan strategi pertumbuhan jangka pendek dan menengah, termasuk target baru Return on Tangible Common Equity (RoTCE). Citi menilai jaringan global yang dimilikinya tetap menjadi pembeda utama di tengah meningkatnya volatilitas pasar dan tekanan makroekonomi dunia.

Manajemen Citi menyebut jaringan internasional bank tersebut kini semakin relevan karena mampu menopang kebutuhan klien lintas negara dalam berbagai kondisi pasar. Saat ini, Citi melayani sekitar 80% perusahaan Fortune 500 di Amerika Serikat maupun global.

Skala bisnis Citi juga tercermin dari sekitar 3.800 koridor lintas negara unik yang dilayani untuk klien Banking. Di lini Markets, sebanyak 42% pendapatan sepanjang 2025 berasal dari negara-negara non-G10. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik menyumbang sekitar 30% pendapatan bisnis Wealth.

Citi menyebut semakin banyak klien memanfaatkan kehadiran fisiknya di lebih dari 90 negara dan jaringan yang melayani lebih dari 180 negara. Nilai transaksi yang diproses bahkan mencapai US$ 6 triliun per hari.

Perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis melalui peningkatan kebutuhan klien dan pemanfaatan teknologi di lima bisnis inti yang kini semakin terintegrasi. Strategi tersebut juga diarahkan untuk memperdalam relasi dan memperbesar pangsa bisnis dari klien-klien utama.

Salah satu indikator penguatan bisnis itu terlihat dari posisi Citi yang hingga kini telah menjadi penasihat dalam tiga transaksi merger dan akuisisi (M&A) terbesar di dunia yang diumumkan sepanjang tahun ini.

Investor Day berlangsung tidak lama setelah Citi membukukan kinerja solid pada kuartal I-2026. Dalam laporan keuangan yang diumumkan 14 April 2026, pendapatan grup tercatat mencapai US$ 24 miliar atau tumbuh 14% secara tahunan. Sementara laba bersih melonjak 42% menjadi US$ 5,8 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Transformasi bisnis yang dijalankan Citi juga mulai tercermin pada pergerakan saham perseroan. Manajemen mengungkapkan harga saham Citi telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Investor Day terakhir pada Maret 2022.

CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, mengatakan sinergi bisnis global Citi turut menopang pertumbuhan kinerja perseroan di Indonesia.

“Jaringan internasional dan pendekatan disiplin Citi, sebagaimana disampaikan dalam Investor Day, terus mendorong pertumbuhan yang kuat. Hal ini tercermin dari kinerja baik Citi Indonesia sepanjang 2025 yang didukung oleh sinergi bisnis Banking, Markets, dan Services. Kami tetap berkomitmen menghadirkan solusi terbaik bagi klien, memperkuat dukungan terhadap perekonomian Indonesia, serta berkontribusi pada pertumbuhan Citi yang berkelanjutan,” ujar Batara.

Selain Jane Fraser, sejumlah petinggi Citi turut memberikan paparan dalam Investor Day tersebut, antara lain Chief Financial Officer Gonzalo Luchetti, Head of Services Shahmir Khaliq, Head of Markets Andy Morton, Head of Banking Vis Raghavan, Head of Wealth Andy Sieg, serta Head of U.S. Consumer Cards Pam Habner.