INDUSTRY.co.id - Jakarta - Shopee Indonesia mencatat pencapaian besar dalam penjualan produk lokal. Sejak 2022 hingga Agustus 2026, sebanyak 4 miliar produk lokal berhasil terjual melalui kanal Shopee Pilih Lokal, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk dalam negeri.
Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang mengatakan, angka tersebut merupakan akumulasi penjualan produk lokal yang dipasarkan melalui kanal khusus Shopee Pilih Lokal.
"Sejak tahun 2022 sudah ada 4 miliar produk yang berhasil terjual melalui kanal Shopee Pilih Lokal ini," kata Balques dalam Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut Balques, Shopee terus memperkuat pemasaran produk lokal dengan meningkatkan eksposur produk agar lebih mudah ditemukan konsumen. Langkah tersebut juga bertujuan membantu pelaku UMKM memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Selain penjualan, Shopee juga mengembangkan pelatihan digital melalui Kampus Shopee yang telah menjangkau 514 kabupaten dan kota di Indonesia.
Program tersebut mencakup lebih dari 350 jam pelatihan dan sekitar 400 modul untuk meningkatkan kemampuan digital pelaku usaha.
Shopee juga menawarkan Program Ekspor Shopee dan Program Ekspor Shopee Flexi bagi pelaku usaha yang ingin menjual produknya ke pasar internasional.
Balques menjelaskan, Program Ekspor reguler memberikan dukungan penuh dalam pengelolaan penjualan, sedangkan Program Flexi memberi keleluasaan kepada penjual untuk menentukan harga, margin, dan strategi bisnis secara mandiri.
"Kalau Program Ekspor reguler kita bantu manajemennya dari A sampai Z. Kalau yang Flexi bisa dikelola sendiri, bebas menentukan margin, harga, strategi, dan lain-lain," ujarnya.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak digitalisasi adalah Mpok Mumun, penjual oleh-oleh khas Jakarta.
Sebelum bergabung dengan Shopee pada 2022, ia hanya berjualan di pasar tradisional. Kini omzet usahanya mencapai Rp50 juta hingga Rp75 juta per bulan.
"Alhamdulillah, omzetnya bisa Rp50 juta sampai Rp75 juta per bulan," kata Mpok Mumun.
Usahanya kini berkembang menjadi empat toko dan tiga titik penjualan tambahan dengan total 17 karyawan.
Produk yang dijual antara lain dodol, kembang goyang, biji ketapang, rengginang, akar kelapa, dan bir pletok.
"Dengan Shopee kita jadi bisa meluncur ke semua daerah," ujarnya.
Tak hanya pasar domestik, sejumlah pelaku UMKM juga telah mengekspor produknya ke Filipina, Malaysia, dan Singapura melalui platform Shopee.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengatakan, digitalisasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan perdagangan di Indonesia.
"Jualan sekarang memang kita tidak bisa menghindar dari digitalisasi," kata Budi.
Meski demikian, ia menilai perdagangan secara offline tetap memiliki peran penting sehingga banyak pelaku usaha kini menggabungkan penjualan online dan offline (hybrid).
Pemerintah memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui 130 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.324 triliun pada 2026, didukung penetrasi internet yang mencapai 79,5 persen dari total populasi.
Untuk memperkuat ekosistem perdagangan digital, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang mengatur pengutamaan promosi produk dalam negeri dan UMKM, transparansi informasi, mekanisme pengaduan, serta perlindungan konsumen.