INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di tengah denyut kreatif Jakarta, tepatnya di ruang dinamis MBloc Space, tiga menteri duduk dalam satu meja, menyatukan visi tentang masa depan ekonomi rakyat. Muhaimin Iskandar memimpin pertemuan itu—sebuah Rapat Tingkat Menteri yang bukan sekadar forum formal, melainkan ruang temu gagasan lintas sektor.
Hadir pula Maman Abdurrahman dan Teuku Riefky Harsya, membawa mandat masing-masing kementerian untuk merajut strategi bersama. Fokusnya jelas: mempercepat pengentasan kemiskinan lewat penguatan UMKM dan ekonomi kreatif.
Pertemuan ini menelusuri progres sekaligus merumuskan langkah konkret dalam kerangka Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), termasuk menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025. Namun lebih dari sekadar laporan, diskusi berkembang pada satu ide sentral: membangun ekosistem ekonomi berbasis kawasan yang hidup, adaptif, dan inklusif.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah gagasan “Pasar 1001 Malam”—sebuah model pemberdayaan yang menghidupkan ruang-ruang idle menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif.
“Pemerintah memastikan UMKM dan ekonomi kreatif menjadi bagian integral dari Program Kerja Prioritas Nasional. Kita ingin setiap program negara memberikan efek domino yang nyata bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat rentan,” ucap Menko Muhaimin.
Nada yang sama mengalir dalam pandangan Menteri UMKM. Fokusnya tajam: memastikan pelaku usaha kecil, terutama di kantong kemiskinan, tidak berjalan sendiri.
"Sebagai tindak lanjut amanat Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025, kami berfokus memastikan para pengusaha UMKM, khususnya di wilayah kantong kemiskinan, memperoleh akses pembiayaan, pendampingan, dan pasar,” ujar Menteri UMKM.
Upaya itu diterjemahkan dalam langkah teknis: integrasi data melalui DTSEN dan SAPA UMKM, serta intervensi langsung seperti kartu usaha, Kredit Usaha Rakyat, hingga pembiayaan PNM.
Di sisi lain, Menteri Ekonomi Kreatif melihat peluang besar dalam talenta dan kreativitas masyarakat. Ekraf bukan sekadar sektor pelengkap, melainkan pintu masuk baru menuju kemandirian ekonomi.
“Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk memberdayakan masyarakat, termasuk mereka yang berada di kelompok rentan. Kami mendorong akselerasi talenta serta akses pembiayaan agar pelaku ekraf mampu berkembang secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari the new engine of growth,” ujar Menteri Ekraf.
Blok M kemudian hadir bukan hanya sebagai lokasi rapat, tetapi sebagai contoh nyata—sebuah laboratorium hidup kebijakan publik. Kawasan ini telah menjelma menjadi simpul ekonomi berbasis komunitas, dengan perputaran hingga Rp5 miliar per hari dan puluhan ribu pengunjung.
Di sana, kebijakan tidak lahir dari asumsi, melainkan dari praktik langsung—dari percakapan dengan pelaku usaha, dari denyut transaksi harian, dari ekosistem yang benar-benar bekerja.
Pendekatan evidence-based policy terasa nyata: melihat, mendengar, lalu merumuskan.
Dengan fondasi kolaborasi lintas kementerian dan model berbasis kawasan seperti Blok M, pemerintah menatap ke depan dengan optimisme. UMKM dan ekonomi kreatif tidak lagi sekadar sektor pendukung, melainkan poros utama—mesin penggerak ekonomi sekaligus jembatan keluar dari kemiskinan.