INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ilmenit mungkin belum sepopuler nikel atau bauksit dalam perbincangan mengenai mineral strategis. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, mineral ini menyimpan peran penting sebagai salah satu sumber utama titanium—logam yang dikenal kuat, ringan, tahan korosi, serta banyak dimanfaatkan dalam berbagai produk modern.
Titanium hasil pengolahan ilmenit menjadi komponen penting di berbagai sektor, mulai dari industri kosmetik, farmasi, dan cat, hingga aplikasi berteknologi tinggi seperti implan medis.
Karakteristiknya yang stabil pada suhu tinggi, memiliki sifat optik yang baik, serta kemampuan fotokatalitik menjadikan material ini semakin dibutuhkan dalam berbagai industri.
Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya ilmenit yang cukup besar.
Mineral dengan komposisi titanium-besi (FeTiO3) ini banyak ditemukan di kawasan pesisir dan kerap menjadi produk samping penambangan timah, pasir besi, maupun zirkon.
Meski demikian, pemanfaatannya masih didominasi sebagai bahan mentah sehingga nilai tambah yang dihasilkan belum optimal.
Melalui proses pengolahan, ilmenit dapat diubah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi. Produk utamanya adalah titanium dioksida (TiO2), yang banyak digunakan sebagai pigmen putih sekaligus bahan baku sunscreen, kosmetik, farmasi, cat, hingga material untuk implan medis.
Sementara itu, produk samping hasil pengolahannya juga memiliki nilai komersial, seperti besi oksalat (FeC2O4·2H2O) dan hematit (Fe2O3), sehingga mendukung pemanfaatan mineral secara lebih menyeluruh dengan pendekatan zero waste.
Untuk meningkatkan nilai tambah tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan ilmenit yang lebih efisien dan berkelanjutan melalui proses hidrometalurgi menggunakan jalur sulfat dan oksalat.
Pendekatan ini menjadi alternatif terhadap metode konvensional yang umumnya membutuhkan energi lebih besar serta menghasilkan limbah lebih banyak.
Pengembangan teknologi tersebut diharapkan mampu memperkuat hilirisasi mineral di Indonesia.
Dengan mengolah ilmenit menjadi produk turunan di dalam negeri, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap impor produk berbasis titanium sekaligus memperkuat industri kimia nasional dan mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis mineral.
"Kami berupaya mengembangkan teknologi pengolahan ilmenit agar dapat ditingkatkan nilai tambahnya menjadi produk strategis. Harapannya, Indonesia mampu membangun industri hilir, khususnya industri kimia berbasis titanium, sehingga dapat mendukung substitusi impor kebutuhan titanium sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dalam negeri," ujar Latifa Hanum Lalasari, Periset Pusat Riset Metalurgi BRIN.