INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri plastik nasional masih menghadapi tekanan akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor serta masuknya produk plastik murah dari China. Kondisi ini membuat pelaku industri sulit meningkatkan daya saing di tengah ketidakpastian harga dan perdagangan global.

Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono mengatakan, ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi salah satu persoalan utama industri plastik dalam negeri.
 
"Kalau plastik ini kan kita tergerus dengan adanya impor dari Cina ya, ini memang cukup mempersulit industri. Karena industri plastik kita ini kan juga impor bahan bakunya," kata Bambang kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).
 
Menurut Bambang, penguatan industri plastik nasional perlu dibarengi kebijakan yang mendorong penggunaan produk dalam negeri. Pemerintah, kata dia, perlu memberikan insentif bagi industri yang menyerap bahan baku plastik lokal.
 
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiono mengatakan, industri petrokimia mulai memasuki fase pemulihan, tetapi belum sepenuhnya aman dari tekanan.
 
Menurut Fajar, persoalan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan harga dan pasokan bahan baku, tetapi juga tingginya biaya logistik akibat dinamika geopolitik.
 
"Logistik, jadi sekarang freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun juga mulai turun. Dari Cina juga sudah mulai agak tinggi harganya," ujar Fajar.
 
Kondisi tersebut membuat pasar domestik cenderung mengambil sikap wait and see. Pelaku usaha masih menunggu kepastian harga, pengiriman, serta pemulihan permintaan sebelum meningkatkan pembelian.
 
Fajar mengungkapkan, tingkat utilisasi industri petrokimia sempat berada di bawah 70 persen. Padahal, karakteristik industri petrokimia membutuhkan operasi pabrik secara kontinu sehingga penurunan produksi dapat langsung menekan kinerja perusahaan.
 
"Kalau di bawah 70 persen itu sudah rugi," katanya.
 
Selain logistik, pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah juga menghadapi gangguan. Industri terpaksa mencari sumber alternatif dengan harga lebih tinggi dan waktu pengiriman lebih panjang.
 
"Kalau dulu kan sebulan sudah bisa sampai, kalau ini kan bisa butuh waktu 60 hari sehingga mau tidak mau yang di perjalanan makin banyak sehingga modal kerjanya makin nambah," jelas Fajar.
 
Di tengah kondisi tersebut, Fajar menilai pemerintah perlu bergerak cepat menjaga industri domestik agar momentum pemulihan tidak kembali terganggu oleh tekanan impor.
 
"Industri dalam negeri ini jangan sampai terseok-seok karena tidak mampu bersaing dengan barang-barang impor," tegasnya.
 
Ia berharap permintaan domestik mulai kembali meningkat pada Oktober 2026. Pemulihan sejumlah sektor, seperti tekstil, makanan dan minuman, infrastruktur, pertambangan, serta otomotif, dinilai penting untuk mengangkat permintaan produk petrokimia.
 
Perkembangan kendaraan listrik juga dinilai dapat membuka peluang bagi industri lokal. Fajar berharap produksi mobil listrik di dalam negeri semakin meningkat dan menggunakan komponen serta bahan baku dari pemasok lokal.
 
Meski mulai membaik, Fajar menegaskan industri petrokimia belum sepenuhnya pulih.
 
"Sudah keluar dari ICU tapi masih belum recover dengan benar. Jadi kalau tipes meskipun sudah keluar dari ICU, kalau salah penanganan masuk ICU lagi," pungkasnya.
 
Karena itu, fase pemulihan dinilai menjadi periode yang sangat sensitif bagi industri petrokimia. Kebijakan pemerintah, kepastian bahan baku, biaya logistik, serta penguatan pasar domestik menjadi faktor penting agar industri tidak kembali mengalami tekanan yang lebih berat.