INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Kolaborasi antara Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) maupun Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) dinilai memiliki prospek bisnis yang menjanjikan.
Sinergi tersebut diyakini mampu memperluas layanan keuangan hingga menjangkau segmen masyarakat mikro yang selama ini belum terlayani secara optimal.
Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) yang juga Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, mengatakan kerja sama antara BPD dan BPR/BPRS harus dibangun dalam struktur yang tepat agar memberikan manfaat maksimal bagi kedua belah pihak.
Menurut Agus, masing-masing lembaga memiliki keunggulan yang saling melengkapi. BPD memiliki sumber daya yang lebih besar, sedangkan BPR dan BPRS unggul dalam kedekatan dengan masyarakat serta pelaku usaha mikro.
"Yang penting adalah kita letakkan dalam satu struktur yang tepat. BPR ataupun BPRS memiliki kedekatan yang kuat dengan pasar mikro," ujar Agus dalam siaran pers, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, akses yang dimiliki BPR dan BPRS terhadap masyarakat di tingkat akar rumput menjadi nilai tambah yang sulit dicapai secara langsung oleh BPD. Karena itu, kolaborasi keduanya dapat menciptakan ekosistem layanan keuangan daerah yang lebih inklusif.
Agus menuturkan, kerja sama tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari pengembangan layanan digital, penyediaan konten, hingga pemanfaatan jaringan distribusi (channel). Model kolaborasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas jangkauan layanan perbankan daerah.
Namun demikian, Agus mengingatkan agar sinergi tersebut tidak justru menjadi sarana pemindahan risiko kredit dari satu lembaga ke lembaga lainnya. Menurutnya, moral hazard harus dihindari agar kolaborasi tetap sehat dan berkelanjutan.
"Jangan sampai menggeser risiko dari satu lembaga ke lembaga lain. Bentuk kolaborasinya bisa melalui model digital, konten, maupun channel," tegasnya.
Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap profil dan rekam jejak debitur (borrower) dalam setiap kerja sama yang dijalankan. Langkah tersebut menjadi fondasi utama dalam mengukur tingkat risiko kredit secara akurat.
Karena itu, transparansi data, tata kelola yang baik, serta mitigasi risiko yang matang menjadi syarat utama agar sinergi antara BPD dengan BPR maupun BPRS dapat memberikan manfaat jangka panjang.
"Pada prinsipnya kerja sama ini sangat baik untuk kedua belah pihak. Yang penting, kita memahami karakter borrower sehingga risiko dapat diukur dengan baik," pungkas Agus.