INDUSTRY.co.id, Manggarai Timur—Tim JPIC OFM Indonesia Posko Riung–Pota menyalurkan 1.150 paket sembako kepada warga terdampak gempa di sejumlah wilayah pegunungan Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Penyaluran bantuan dilakukan pada 16–17 September 2026 dengan menyasar Kelurahan Ulung Baras, Kelurahan Golo Wangkung Utara, Desa Wela Lada, dan Desa Lada Mese. Wilayah-wilayah tersebut termasuk daerah yang sulit dijangkau karena berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan yang terbatas.

Untuk mengangkut bantuan, tim menggunakan satu truk dan tiga mobil bak terbuka. Rombongan harus melewati jalan sempit, menanjak, berbatu, dan berkelok di lereng pegunungan. Kondisi jalan yang rusak membuat kendaraan harus melaju perlahan.
Perjalanan semakin berat setelah dua mobil bak terbuka mengalami pecah ban. Meski demikian, tim tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Waekara sekitar pukul 18.00.

Pada malam yang sama, bantuan langsung disalurkan kepada 448 keluarga di Kelurahan Ulung Baras. Warga menyambut kedatangan tim dengan sukacita setelah menanti bantuan di tengah keterbatasan akses dan kondisi pascagempa.
Penyaluran dilanjutkan pada keesokan harinya mulai pukul 08.30 hingga 17.00. Sebanyak 189 paket diserahkan kepada warga Kelurahan Golo Wangkung Utara, 335 paket untuk masyarakat Desa Wela Lada, dan 178 paket bagi warga Desa Lada Mese.
Dengan penyaluran tersebut, seluruh 1.150 paket sembako telah diterima keluarga terdampak gempa di kawasan pegunungan Kecamatan Sambirampas.

Warga masih tinggal di rumah rusak

Selama berada di lokasi, tim JPIC OFM Indonesia melihat langsung kondisi warga yang masih berupaya memulihkan kehidupan setelah gempa. Sejumlah warga masih tinggal di rumah yang mengalami kerusakan, mulai dari retakan pada dinding dan pondasi hingga kerusakan yang lebih parah.

Keterisolasian akibat kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang membuat wilayah tersebut belum banyak menerima bantuan. Jarak yang jauh, akses jalan yang terbatas, serta risiko perjalanan menyebabkan distribusi logistik membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar.

Koordinator Posko JPIC OFM Indonesia Riung–Pota, Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM, mengatakan bahwa penjangkauan wilayah terpencil merupakan bagian dari komitmen lembaganya agar tidak ada penyintas yang terabaikan karena kendala geografis.

“Perjalanan yang berat, jalan yang rusak, bahkan kendaraan yang mengalami kendala di lapangan tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan saudara-saudari kita berjuang sendirian,” kata Pater Kristo dalam keterangan tertulis.

Menurut dia, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa kebutuhan pokok. Kehadiran relawan juga diharapkan dapat memberikan penghiburan serta menguatkan warga yang masih menghadapi masa pemulihan.

“Bantuan sembako memang penting untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa masyarakat merasakan solidaritas. Kehadiran kita adalah pesan bahwa mereka tidak sendirian,” ujarnya.
Solidaritas di tengah keterbatasan

Pater Kristo mengaku terkesan melihat keteguhan warga yang tetap menyambut rombongan dengan senyum dan keramahan, meskipun hidup dalam keterbatasan serta masih menghadapi dampak gempa.

“Kami belajar banyak dari keteguhan masyarakat. Di tengah rumah yang rusak, keterbatasan bantuan, dan akses yang sulit, mereka tetap menyambut kami dengan senyum, keramahan, dan rasa syukur yang mendalam,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur, relawan, pengemudi, dan pihak lain yang mendukung misi kemanusiaan tersebut.

Bagi JPIC OFM Indonesia, penyaluran bantuan bukan semata-mata soal membagikan paket sembako. Misi tersebut juga menjadi upaya menghadirkan harapan dan solidaritas bagi warga yang sedang berjuang bangkit setelah gempa.
Di tengah medan yang berat, semangat persaudaraan itulah yang terus menggerakkan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa Flores.