INDUSTRY.co.id, Jakarta-Lahir di Tenda, kampung tua di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Bebo Marcelinus Yosef tumbuh di ladang kering, di rumah petani yang hidupnya serba terbatas. Kenangan itu terus menempel yang kemudian menggerakkannya hatinya ke Jakarta pada 1989, dengan kantong tipis dan tekad besar.

Awal hidup di ibu kota nyaris tanpa belas kasih. Bebo, demikian dipanggil, bekerja apa saja untuk bertahan, sampai akhirnya pada 1991 ia dikenal sebagai asisten montir. Bengkel bukan sekadar tempat menambal kendaraan. Di sana ia belajar disiplin, logika teknik, dan cara mengatur orang. Pelajaran itu tak hilang,  malah menjadi modal saat ia merambah usaha jasa di properti di belasan tahun kemudian.

“Orang miskin karena kemalasan itu menyiksa,” katanya. Kata-kata itu bukan retorika. Bagi Bebo, kerja keras dan tanggung jawab adalah cara membalik nasib. Dari yang mudah menyerah menjadi tumpuan keluarga, agama, dan bangsa. Filosofi sederhananya: hidup harus jadi cahaya bagi orang lain.

Perjalanan bisnis Bebo tidak lurus. Ia mencoba berbagai usaha yang kandas. Namun kegagalan-kegagalan itu melatihnya: bekerja keras, berpikir cerdas, dan berani bangkit lagi. Pada akhirnya lahirlah PT Nusa Citra Cendana, perusahaan penyedia jasa outsourcing yang bergerak di pengamanan, cleaning service, parkir, messenger, dan layanan driver.

Kini perusahaan itu mengelola proyek di banyak daerah. Dari GI PLN di Kalimantan, Jambi, dan Ambon, sampai layanan di Bekasi dan manajemen parkir di kawasan pendidikan Alam Sutera, Tangerang.

Ribuan tenaga kerja pernah atau sedang berada di bawah naungannya. Satpam, petugas kebersihan, driver, dan staf lapangan lain. Bagi Bebo, angka itu bukan sekadar statistik; setiap orang adalah bukti keberhasilan yang bisa naik kelas.
Keluarga menjadi penopang. Bebo menikah pada tahun 1995, Bebo dan istri membesarkan tiga anak yang kini semuanya sarjana. Dua putra di bidang Teknik Komputer dan Pemerintahan Desa, serta seorang putri lulusan Teknik Kimia. Doa dan restu keluarga, juga komunitas rohani, menjadi pilar ketika usaha menghadapi badai.

Gaya kepemimpinannya sederhana tapi tegas. Latar sebagai montir memberinya naluri lapangan. Menata shift, membaca ritme pekerjaan, menempatkan personel di posisi tepat. Dia menekankan martabat pekerja. Keberhasilan perusahaan diukur dari berapa banyak karyawan yang bisa ia bantu naik kelas, bukan hanya dari saldo di neraca.

Peran sosialnya juga nyata. Di lingkungan tempat tinggal, Bebo aktif sebagai Ketua RT Graha Prima RT 02 RW 020. Di komunitas agama, ia tergabung dalam Tim Teritorial Gereja Katolik Stasi Sanpera, Paroki St. Arnoldus Bekasi.

Kehadirannya terasa di level lokal: membantu tetangga, menguatkan jaringan sosial, memberi contoh bahwa sukses bisa kembali ke akar.

Kisah Bebo memberi pesan tajam kepada generasi muda dari Indonesia Timur: merantau bukan sekadar soal mencari uang, tetapi soal ujian karakter. Dari Asisten Montir pada 1991 sampai pendiri perusahaan yang mempekerjakan ribuan orang, perjalanan Bebo membuktikan satu hal jelas — ketekunan, iman, dan tanggung jawab sosial membuka ruang untuk mengubah nasib banyak orang.(Penulis Kormen Barus)