INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) akan melakukan uji coba pengangkatan logistik dengan metode chassis roll on-roll off (cha-ro). menurut rencana , uji coba pengoperasian itu akan dilakukan pada rute Merak-Surabaya dalam satu bulan mendatang.
Operasi cha-ro menggunakan kapal feri dengan mengangkut bagia chassis truk berikut kontainernya masuk ke kapal. Bagian kepala truk dan pengemudi tidak ikut serta ke dalam kapal feri.
Senior Consultant Supply Chan Indonesia (SCI), Hafida Fahmiasari mengatakan, metode cha-ro lebih efisien dari pada roll on-roll off (ro-ro) karena truk tidak ikut dalam perjalanan kapal. Effisiensi dapat diperoleh dari biaya supir, serta biaya penyusutan dan perawatan armada.
"Selain itu, produktivitas truk akan meningkat karena dapat digunakan untuk pengangkutan barang lainnya. Penggunaan cha-ro akan dapat mereduksi biaya logistik sekitar 20% lebih besar dari pada ro-ro," ungkap Hafida melalui keterangan tertulisnya kepada INDUSTRY.co.id di Jakarta (23/7/2017).
Menurut Hafida, penggunaan cha-ro juga bermanfaat mengurangi masalah muatan lebih truk, sehingga dapat menurunkan tingkat kerusakan jalan. "Jika cha-ro atau ro-ro dapat mengalihkan penggunaan truk reguler Jakarta ke Surabaya dari jalur Pantura sebanyak 5% atau 54 ribu truk per tahun dari total 1.080.000 truk, maka diperkirakan biaya perawatan jalan akan berkurang sekitar Rp50 miliar per tahun," terangnya.
Lebih lanjut Hafida menjelaskan, bahwa dalam jangka panjang perlu dipertimbangkan penggunaan metode lainnya yang lift on-lift off (lo-lo). Metode ini akan lebih efisien dari pada ro-ro maupun cha-ro. Dengan metode ini, yang dimuat ke kapal hanya kontainer, sehingga truk dan chassis-nya bisa digunakan untuk pengangkutan lainnya.
"Dengan metode lo-lo, kapasitas muat kapal akan lebih besar karena yang dimuat hanya kontainer yang dapat dimuat lebih padat dan ditumpuk," ucap Hafida.
Selain itu, lanjut Hafida, pengembangan dan penggunaan lo-lo harus diawali dengan pengembangan dan penetaan rantai pasok komoditas. Metode ini akan efisien untuk volume pengangkutan yang besar, sehingga dibutuhkan sistem untuk konsolidasi mutan.
"metode lo-lo membutuhkan infrastruktur dan fasilitas yang memadai, terutama fasilitas bongkar muat, serta pengembangan sistem informasi antar pelabuhan," pungkasnya.