INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perubahan iklim yang kian ekstrem menjadi tantangan serius bagi sektor perkebunan Indonesia. Pola hujan yang tidak menentu, kenaikan suhu udara, hingga meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem mulai memberikan tekanan terhadap produktivitas dan keberlanjutan perkebunan di berbagai wilayah.
Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui penurunan produktivitas. Perubahan kondisi iklim juga dapat memicu kegagalan pembungaan, menurunkan rendemen, meningkatkan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), serta memperbesar risiko kekeringan dan kebakaran lahan.
Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi.
Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ketahanan perkebunan sekaligus menjaga produktivitas komoditas di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat perlindungan terhadap tanaman perkebunan melalui berbagai pendekatan adaptif.
“Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk melindungi tanaman perkebunan dari dampak perubahan iklim melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan kepada pekebun agar produktivitas tetap terjaga," ujar Amran Sulaiman.
Empat Pilar Menghadapi Perubahan Iklim
Strategi Kementan bertumpu pada sejumlah pilar utama, yakni penerapan budidaya adaptif, penggunaan varietas unggul, konservasi sumber daya alam, serta penguatan kapasitas pekebun.
Budidaya adaptif menjadi salah satu kunci agar tanaman mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Di sisi lain, penggunaan benih atau varietas unggul diharapkan dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan cuaca maupun gangguan organisme pengganggu tumbuhan.
Aspek konservasi sumber daya alam juga diperkuat, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan kesuburan tanah.
Langkah tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pekebun melalui pendampingan dan penguatan kelembagaan.
Sejumlah program kerja juga terus diperkuat, mulai dari penyediaan benih unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca, penerapan konservasi tanah dan air, pengelolaan kebun secara berkelanjutan, hingga pendampingan kepada pekebun.
Kementan juga mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap potensi meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat dipicu oleh perubahan iklim.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan penguatan pendampingan di tingkat pekebun menjadi bagian penting dalam membangun perkebunan yang tangguh.
“Kami berkomitmen hadir mendampingi pekebun di setiap jengkal lahan. Melalui transformasi digital dan penguatan kelembagaan, kita membangun ekosistem perkebunan yang tidak hanya tangguh menghadapi perubahan iklim, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun secara mandiri dan berkelanjutan," kata Heru Tri Widarto.
Mitigasi Kebakaran hingga Pertanian Organik
Upaya menghadapi perubahan iklim tidak berhenti pada kebijakan di tingkat pusat. Sejumlah langkah juga diterapkan di lapangan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pekebun terhadap berbagai risiko.
Salah satunya melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api.
Kelompok tersebut berperan dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di wilayah perkebunan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat terhadap potensi kebakaran.
Selain itu, pengembangan desa pertanian organik turut menjadi bagian dari upaya membangun sistem perkebunan yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, mempertahankan kesuburan tanah, dan menghasilkan komoditas yang berkualitas.
Di tingkat pekebun, berbagai praktik sederhana juga memiliki peran penting dalam menghadapi tekanan perubahan iklim.
Limbah tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik, sementara pemupukan tetap dilakukan sesuai dosis.
Tata kelola air juga perlu diperhatikan dan kondisi tanaman dipantau secara rutin, termasuk dengan mengikuti perkembangan informasi cuaca.
Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori turut dianjurkan untuk meningkatkan cadangan air tanah sehingga ketersediaan air dapat lebih terjaga ketika memasuki musim kemarau.
Pola tanam tumpang sari serta penggunaan tanaman penutup tanah juga dapat diterapkan untuk mempertahankan kelembapan lahan. Selain membantu menjaga kondisi tanah, praktik tersebut dapat meningkatkan ketahanan ekosistem kebun terhadap perubahan iklim.
Yang tidak kalah penting, pembukaan lahan dengan cara dibakar harus dihindari karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan.
Penggunaan bahan kimia secara berlebihan juga perlu dikurangi agar keseimbangan ekosistem perkebunan tetap terjaga.
Dengan kombinasi kebijakan pemerintah, teknologi, konservasi sumber daya alam, serta keterlibatan aktif pekebun, sektor perkebunan diharapkan semakin siap menghadapi perubahan iklim.
Langkah adaptasi dan mitigasi yang dilakukan sejak tingkat lahan menjadi fondasi penting untuk menjaga produktivitas sekaligus memastikan perkebunan Indonesia tetap berkelanjutan di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.