INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Industri pangan Indonesia membidik posisi di rantai nilai global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan ekspor makanan dan minuman (mamin) mencapai USD 83,08 miliar pada 2029 dengan pertumbuhan 10,9 persen per tahun.
Target itu ditopang capaian manufaktur nasional. Data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 World Bank mencatat nilai tambah manufaktur Indonesia USD 275,61 miliar, peringkat 12 dunia dan tertinggi di ASEAN.
“Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,” ujar Wamenperin Faisol Riza saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026.
Kemenperin fokus pada hilirisasi berbasis SDA lokal, peningkatan utilisasi pabrik hingga 70 persen, ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi, dan penetrasi 20 negara tujuan baru di Amerika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.
Kinerja Semester I 2026 Tumbuh 6,77 Persen
Plt. Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika melaporkan industri mamin tumbuh 6,77 persen pada Semester I 2026, berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 7,16 persen terhadap PDB nasional.
Ekspor 2025 mencapai USD 49,5 miliar, naik 19,5 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan surplus USD 36,1 miliar. Pada Semester I 2026, ekspor tercatat USD 24,61 miliar dengan surplus USD 17,57 miliar.
Serapan tenaga kerja mencapai 6,94 juta orang atau 34,72 persen dari total tenaga kerja industri nonmigas. Realisasi investasi Semester I 2026 sebesar Rp 26,82 triliun.
Di sisi lain, tantangan global kian kompleks. Regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), pengetatan Maximum Residue Limit (MRL), serta tren clean label dan plant-based menuntut adaptasi.
Kemenperin memperkuat SNI Wajib untuk tepung terigu, air minum dalam kemasan, minyak goreng sawit, kopi instan, kakao bubuk, dan gula kristal rafinasi.
“Standar bukan hanya untuk melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan terhadap produk Indonesia dan membantu industri memenuhi persyaratan pasar global,” kata Putu.
Melalui Fi Asia Indonesia 2026 edisi ke-30 bertema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future”, Kemenperin mendorong kolaborasi, transfer teknologi, dan inovasi agar industri pangan RI semakin sehat, hijau, kompetitif, dan berkelanjutan.