INDUSTRY.co.id, Alor, NTT-Seorang pemuda berijazah SMP dari sebuah desa di Alor, Nusa Tenggara Timur, merantau ke Bali pada 1993 dengan modal nekat. Tak ada uang, tak ada koneksi. Yang ada hanya tekad untuk hidup lebih baik. Pemuda itu bernama Sunny Kamengmau, dan 30 tahun kemudian, namanya harum sebagai pendiri Robita, brand tas kulit handmade yang menjadi incaran sosialita Jepang.

Sunny lahir pada 12 September 1975. Ia tak pernah menamatkan SMA. Bagi anak desa di Alor saat itu, sekolah bukan prioritas hidup. Yang ada di kepala Sunny muda hanyalah bagaimana caranya bertahan. Pada usia 18 tahun, ia meninggalkan kampung halaman dan menyeberang ke Bali dengan harapan sederhana: bisa makan setiap hari.

Awalnya, Sunny bekerja serabutan. Apa saja dikerjakan asal halal. Ia sempat menjadi tukang cuci kendaraan dan pekerja bangunan sebelum akhirnya diterima sebagai tukang kebun di Un's Hotel, kawasan Legian, Bali. Pekerjaan itu sederhana menyirami tanaman, membersihkan halaman, merawat taman. Tapi bagi Sunny, itu adalah pintu pertama menuju kehidupan yang lebih layak.

Sekitar setahun bekerja, manajemen hotel mengangkatnya menjadi satpam. Etos kerjanya yang rajin dan jujur menjadi alasan. Penjagaan hotel bukan sekadar tugas malam hari bagi Sunny. Di situlah ia bertemu tamu-tamu asing dari berbagai negara, dan dari sanalah keingintahuannya tumbuh.

Tanpa kursus, tanpa les, Sunny belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang secara otodidak. Gaji pertamanya ia sisihkan untuk membeli kamus dua bahasa itu. Setiap malam, ia membuka kamus dan menghafal kosakata. Setiap hari, ia berlatih berbicara dengan tamu hotel yang datang. Pelan tapi pasti, ia bisa berkomunikasi dalam dua bahasa asing.

Keahlian bahasa itulah yang mengubah segalanya. Sekitar tahun 1995, Sunny berkenalan dengan seorang pengusaha Jepang bernama Nobuyuki Kakizaki, pemilik Real Point Inc. Persahabatan mereka tumbuh dari percakapan sederhana di lobi hotel. Kakizaki tertarik dengan kerajinan tangan Bali, dan Sunny mulai membantunya mencari barang-barang kerajinan untuk dijual kembali ke Jepang.

Dari kerajinan tangan, keduanya melihat peluang lebih besar: tas kulit. Pada tahun 2000, Sunny mulai memproduksi tas kulit tanpa merek. Prosesnya tak mudah. Ia sempat kehilangan hampir semua penjahit yang bekerja untuknya. Modal terbatas, kualitas harus terjaga, dan pesanan dari Jepang terus datang. Sunny memilih bertahan, bukan menyerah.

Pada tahun 2003, brand Robita resmi lahir. Nama itu diambil dari identitas pribadi Sunny. Tas kulit handmade Robita langsung menyasar pasar premium Jepang. Setiap tas dibuat dengan ketelitian tinggi, menggunakan bahan kulit pilihan, dan dikerjakan oleh tangan-tangan terampil Bali. Hasnya? Robita menjadi idaman sosialita Jepang.

Kini, Sunny mengelola lebih dari 300 tenaga kerja. Produksinya mencapai 5.000 tas per bulan, dengan total produksi lebih dari 700.000 tas sejak brand ini berdiri. Seluruh produksi berpusat di Bali, dan seluruh hasilnya diekspor ke Jepang. Angka omzetnya mencapai miliaran rupiah per tahun.

Keberhasilan Sunny bukan soal keberuntungan. Ia percaya bahwa kemampuan berkomunikasi adalah kunci membuka peluang. Tanpa bahasa Inggris dan Jepang yang ia pelajari sendiri di sela-sela jaga malam, pertemuannya dengan Kakizaki mungkin tak pernah terjadi. Tanpa ketekunan menjaga kualitas, Robita mungkin hanya menjadi nama biasa di pasar lokal.

Bagi generasi muda dari Indonesia Timur, kisah Sunny adalah bukti nyata bahwa latar belakang bukan penghalang. Lulusan SMP dari Alor kini memimpin perusahaan yang produknya dipakai kalangan atas di negara maju. Dari tukang kebun di hotel Legian menjadi bos tas kulit yang mendunia perjalanan Sunny Kamengmau membuktikan satu hal: ketekunan dan keberanian belajar bisa mengubah nasib siapa saja.

(Penulis Slamet Susanto)