INDUSTRY.co.id - Kwartal III tahun 2022, dunia dilingkupi banyak pernyataan yang keluar dari pihak pengamat ataupun pemerintah menyangkut tentang krisis. Hampir keseleruhan pihak mengeluarkan pernyataan krisis ekonomi yang akan terjadi di tahun 2023. Terlepas dari pernyataan politik ekonomi maupun pernyataan “ikut-ikutan”, penting bagi dunia usaha untuk berhati-hati dan berpikir strategis.
Dari mana perkiraan krisis ekonomi tahun 2023 berasal ? Tentu saja pertanyaan dari mana krisis ekonomi di tahun 2023 berasal, harus dibaca dan dipahami dari berbagai aspek dan kondisi. Artinya kembali kepada kemampuan dan niat analis, pengamat atau pemangku jabatan terkait melakukan “peramalan”. Tidak ada jaminan peramalan adalah kenyataan yang harus dihadapi.
Namanya “peramalan”. Krisis ekonomi bisa terjadi di mana saja jika tidak terjadi keseimbangan. Keseimbangan sangat diperlukan agar tidak terjadi krisis ekonomi. Satu negara yang memiliki kelebihan tanpa membutuhkan pihak lain akan menjadi penyebab krisis ekonomi jika negara lain kebanyakan memiliki kekurangan dan tidak mempersiapkan solusi atas kekurangan tersebut.
Keseimbangan bisa terjadi jika satu negara mengalami inflasi dan negara lain juga terjadi inflasi. Keseimbangan bisa terjadi jika satu negara deflasi dan negara lain deflasi. Tetapi jika salah satu inflasi dan lainnya deflasi bahkan stagflasi maka krisis ekonomi akan dapat terjadi. Bahkan negara yang tadinya tidak mengalami krisis ekonomi akan mengalami krisis ekonomi jika ketidakseimbangan berlangsung lama. Lalu apa yang terjadi di dunia ? Tidakkah terjadi keseimbangan ?
Covid-19 tidak menyebabkan krisis ekonomi jika semua negara kembali ke titik nol dan diasumsikan tidak ada pergerakan ekonomi, tentunya kembali ke “jaman batu”. Semua negara akan berusaha survive di negara masing-masing dengan asumsi tidak ada hutang piutang, tidak ada ekspor impor dan tidak ada hubungan ekonomi antar negara. Tetapi keseimbangan itu tidak terjadi di dunia, dan di abad ke-21 semua kehidupan telah dihubungkan oleh teknologi yang menghilangkan atau setidak-tidaknya melemahkan entry barrier. Tetapi di satu sisi negara-negara yang ada, yang seyogiyanya memiliki perbedaan economic scarcity sering tidak siap dan di sisi lain suatu negara melaksanakan egonya baik dalam ekonomi dan politik.
Invasi Rusia ke Ukraina, telah menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada keseimbangan yang disebabkan ego dalam ekonomi dan politik. Negara di “Eropa Barat” sebelumnya menginginkan kontrol ekonomi dan politik di dunia, mengingat sepenuhnya sadar tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Di satu sisi ada negara lain yang memiliki sumberdaya yang sangat besar tetapi tidak dilibatkan dalam “pertemanan” yang pada akhirnya membentuk blok ekonomi dan politik lain.
Invasi Rusia ke Ukrania adalah sekali lagi contoh nyata bahwa Rusia dan blok nya selama ini tidak dilibatkan dalam keseimbangan ekonomi. Pada akhirnya memaksakan keinginan politik adalah jalan dan keinginan Rusia untuk menguatkan ekonomi melalui manajemen energi dan pangan. Rusia memiliki segalanya baik teknologi, pangan maupun sumber energi. Sementara negara-negara di Eropa Barat tidak memiliki kekuatan selain teknologi aplikasi.
Keterpurukan ekonomi Rusia dalam jangka panjang hingga abad ke-21 terlihat dari lemahnya nilai tukar Rubel terhadap USD sejak lama. Rusia merupakan sumber energi yang besar bagi negara-negara di Eropa Barat. Demikian juga bahan pangan untuk Eropa Barat berasal dari Rusia dan negara-negara di sekitar Rusia yang dulunya masih bersatu di dalam Uni Soviet. Salah satunya adalah Ukraina.
Lemahnya ekonomi Rusia dapat dilihat dari lemahnya Rubel terhadap USD. Pada tanggal 21 Juni 2021 nilai tukar Rubel terhadap USD adalah sebesar 72,2. Tanggal 21 Juli 2021 nilai tukar Rubel terhadap USD sebesar 74,35. Ketika invasi dilakukan, nilai tukar Rubel sempat melemah menjadi 104,97 per USD.
Berikutnya tanggal 21 Juni 2022 nilai tukar Rubel terhadap USD menguat kembali menjadi 54,72 khususnya setelah Rusia berhasil mengurangi pasokan energi dan makanan ke Eropa Barat. Akibatnya hingga penghujung Oktober 2022, perekonomian negara-negara di Eropa Barat mengalami guncangan yang mengarah kepada Krisis Ekonomi.
Bagaimana dengan Amerika Serikat ? Amerika Serikat terlalu kuat untuk terguncang. Ekonomi Amerika menunjukkan angka yang stabil di mana USD masih memegang penting sebagai mata uang perdagangan dunia. Kontraksi ekonomi hanya terjadi kurang lebih 0,9% di pertengahan tahun 2022. Kontraksi ekonomi ini disebabkan ditandai dengan kenaikan inflasi 9,1% sementara kenaikan rata-rata upah sebesar 5,2%. Kenaikan inflasi di Amerika berawal dari kenaikan harga bahan makanan dan efek krisis di Eropa Barat.
Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat yang seyogiyanya memiliki customer di Eropa Barat dan memiliki hutang piutang ke perusahaan-perusahaan yang ada di Eropa Barat, semakin sulit melakukan transaksi bisnis dan mengalami Bad Debt Expense dengan kata lain mengalami kesulitan cashflow. Kondisi ini berakibat penurunan kualitas dan kuantitas pendapatan bagi warga di Amerika Serikat. Harga bahan makanana dan barang konsumsi lainnya juga mengalam kenaikan.
Siklus selanjutnya terjadi kecenderungan nilai Saving dan kuantitas Consumption turun, diperkirakan Inflasi yang tinggi di Amerika Serikat, jika tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi stagflasi. Kondisi estimasi stagflasi di Amerika Serikat tentunya mendapat perhatian penuh sehingga dikeluarkannya kebijakan uang ketat di Amerika Serikat dengan naiknya suku bunga the Fed. Tetapi kenaikan suku bunga the Feb bisa berakibat kurangnya investasi di unit bisnis sehingga, diperkirakan Amerika Serikat tidak akan berlama-lama menaikkan suku bunga. Amerika Serikat tidak akan mengalami ketakutan resesi ekonomi seperti dibayangkan banyak orang. Amerika Serikat seperti halnya Rusia akan selamat dari ancaman resesi ekonomi.
Bagaimana dengan Indonesia ? Ekonomi Indonesia sudah terbiasa dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD maupun mata uang lainnya di dunia. Krisis ekonomi terbesar di Indonesia sejak Orde Baru hingga saat ini masih dialami pada tahun 1998. Pada tahun 1998, suku bunga mencapai 60% per annum dan nilai tukar mencapai Rp 18.000 per USD. Perekonomian Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13%. Terjadi krisis perbankan yang mengakibatkan jumlah bank menyusut dari 240 bank sebagai akibat Kebijakan Paket Oktober 1988 menjadi 151 bank.
Pelemahan Rupiah ke 15.600 per USD pada tanggal 25 Oktober 2022 hanya sementara. Nilai wajar Rupiah terhadap USD yang dipergunakan dalam standar proyeksi korporasi dan Indonesia masih dapat dipatok sebesar Rp 14.500 per USD. Tidak perlu dilakukan revisi dari Rp 14.500. Kestabilan nilai tukar rupiah terhadap USD dan mata uang lainnya didasarkan kepada masih positifnya pertumbuhan ekonomi negara-negara dan Kawasan di dunia. International Monetary Fund (IMF) memperhitungkan bahwa tahun 2022 pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 2,9 persen (yoy), kondisi yang sama dengan tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang masih dapat mencapai 3,1 persen (yoy).
Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang di wilayah Eropa mengalami penurunan sebesar -2,5 persen (yoy). Selain dukungan pasar international yang selalu berkorelasi positif antar negara di mana kenaikan inflasi di suatu negara diikuti oleh kenaikan inflasi negara lain sehingga dengan memperhitungkan Purchasing Power Parity maupun Interest Rate Parity kondisi perekonomian di mayoritas negara yang aktif secara ekonomi, kondisi perekonomian di tahun 2022 akan terbawa ke tahun 2023, artinya perekonomian masih kuat, tidak seburuk seperti apa yang dibicarakan.
Apa yang menjadi kekuatan Indonesia untuk tetap bertumbuh ? Ada banyak data dan kondisi yang positif. Indonesia masih memiliki sumber daya energi yang dapat diperhitungkan baik batubara, minyak bumi maupun gas bumi. Selain itu energi yang potensial dari panas bumi, energi sinar matahari. Untuk kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri, lahan agribisnis masih cukup untuk menghasilkan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.
Indonesia akan mampu menghadang krisis ekonomi masuk ke dalam negeri. Selain memiliki sumber daya yang besar dan pasar yang besar, perusahaan-perusahaan dari dalam negeri akan semakin aktif untuk tahun 2023 dalam mengembangkan perekonomian nasional. Program pemerintah untuk membuka dan mengembangkan Ibu Kota Baru di Kalimantan akan diikuti oleh pengembangan kota-kota baru lainnya di Kalimantan dan wilayah lain. Pembangunan wilayah di seluruh Indonesia akan mengakibatkan perpindahan sumber daya manusia dari pulau Jawa dan daerah padat lainnya. Demikian juga perusahaan akan berkembang di seluruh daerah di Indonesia untuk mengambil kesempatan menggunakan pasar yang cukup besar.
Haruskah Perbankan menaikkan Suku Bunga ?
Arti suku bunga perlu dimengerti secara mendasar. Suku Bunga Acuan Bank Indonesia naik, bukan berarti Suku Bunga perbankan naik. Bank adalah institusi atau korporasi yang mengelola keuangan publik. Bank memiliki sifat Negative Financial Gap yaitu Duration Liability dan Duration Assets pasti selalu beda. Bank membiayai pinjaman jangka panjang dengan pinjaman dana jangka pendek.
Dari sistem ini perbankan cukup melihat Rate Sensitivity Assets terhadap Rate Sensitivity Liability. Artinya meskipun Bank Indonesia menaikkan suku bunga, tidak ada kewajiban perbankan menaikkan suku bunga. Lalu bagaimana dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ? Kenaikan tersebut adalah kebijakan Otoritas Bank Indonesia yang juga mengelola kestabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang lainnya.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD di minggu-minggu akhir di bulan Oktober 2022 hingga menembus Rp 15.600 per USD diperkirakan pelemahan sementara atau jangka pendek saja. Dalam beberapa waktu ke depan nilai Rupiah akan kembali ke Rp 14.500 per USD. Lalu apakah akan terjadi capital outflow ? Tentu tidak. Karena pembelian USD saat ini disebabkan oleh pembayaran bunga hutang baik pemerintah maupun korporasi. Lebih menariknya pembelian USD saat ini banyak dari impor barang, artinya masih dapat ditoleransi. Dan arus dana Rupiah ditukar ke USD saat ini masih terkontrol oleh Bank Indonesia. Dan dunia usaha cukup fair dan bijaksana tanpa ada spekulasi.
Perlukah suku bunga ditakutkan naik ? Tidak perlu. Tidak ada pihak yang dapat memaksa perbankan menaikkan suku bunga. Perbankan juga akan mengalami masalah jika suku bunga dinaikkan dan cukup volatile. Bank akan mengalami kesulitan dalam me-maintain NII (Net Interest Income) yang tinggi dan NIM (Net Interest Margin) rendah di mana NPL (Non Performing Loan) baik primer maupun sekunder akan naik yang menyebabkan potensi CAR (Capital Adequacy Ratio) menurun. Tentunya perbankan tidak akan gegabah menaikkan suku bunga.
Oleh: Dr. Josep Ginting
Ekonom, Wakil Rektor President University