INDUSTRY.co.id - Badung - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat kolaborasi dengan Perkumpulan Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI) untuk membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi. Langkah ini dilakukan guna mendorong lahirnya wirausaha baru yang inovatif, berdaya saing, sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Komitmen tersebut disampaikan Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III APSKI di Kuta, Bali.
Menurut Riza, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan membangun usaha dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat.
"Kita tidak mengharapkan seluruh lulusan menjadi pengusaha. Namun, setiap lulusan perlu memiliki pola pikir kewirausahaan, yakni peka melihat persoalan, kreatif menemukan solusi, berani mengambil keputusan secara terukur, mampu berkolaborasi, dan tangguh menghadapi perubahan," ujar Riza dalam keterangannya.
Ia menegaskan, pengembangan kewirausahaan nasional tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Karena itu, Kementerian UMKM terus membangun ekosistem yang menghubungkan berbagai aspek penting dalam perjalanan sebuah usaha, mulai dari pendidikan, pendampingan, inkubasi bisnis, legalitas, akses pembiayaan, digitalisasi, pemanfaatan teknologi, pemasaran, hingga kemitraan usaha.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional, yang menjadi pedoman bagi kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga dunia usaha dalam membangun ekosistem kewirausahaan nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut sekaligus mengejar target 10 juta penduduk berusaha dan bekerja, Kementerian UMKM mengembangkan Program PRO-KESRA Produktif.
Melalui program ini, mahasiswa maupun alumni tidak hanya mendapatkan pelatihan dasar kewirausahaan, tetapi juga memperoleh layanan lanjutan sesuai tahap perkembangan usahanya. Fasilitas tersebut meliputi pendampingan, inkubasi bisnis, sertifikasi dan legalitas usaha, akses pembiayaan, digitalisasi, hingga perluasan jaringan kemitraan pasar.
Seluruh layanan tersebut terintegrasi melalui platform digital SAPA UMKM, yang menjadi pintu masuk tunggal bagi layanan pembinaan dan basis data pelaku UMKM.
"Dengan demikian, pembinaan kewirausahaan di perguruan tinggi dapat dilaksanakan secara lebih tepat sasaran, terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan," kata Riza.
Sebagai tindak lanjut Rakernas III APSKI, Kementerian UMKM dan APSKI menyepakati enam agenda strategis untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi, yaitu: Mendukung implementasi Perpres Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional, Memperluas pemanfaatan Program PRO-KESRA Produktif., Memperkuat kurikulum kewirausahaan yang lebih aplikatif, Mengintegrasikan layanan digital melalui SAPA UMKM, Menyelenggarakan kuliah umum kewirausahaan secara nasional, serta Mengintegrasikan pengembangan kewirausahaan ke dalam indikator kinerja perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut akan diwujudkan melalui penyusunan peta jalan bersama, pengembangan model pembelajaran berbasis praktik, serta pembentukan jejaring inkubator bisnis perguruan tinggi di tingkat nasional.