INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga emas mengawali perdagangan Senin (27/7) dengan penguatan ke level US$4.090 per troy ons. Kenaikan logam mulia ini ditopang meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong penurunan tajam harga minyak dunia, sekaligus mengurangi tekanan inflasi dan melemahkan dolar AS.
Pelemahan harga energi dinilai meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global sehingga menekan pergerakan mata uang dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik emas karena menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar. Di sisi lain, meskipun tensi geopolitik mulai mereda, investor masih mempertahankan eksposur pada aset safe haven menjelang sejumlah agenda penting bank sentral pada pekan ini.
"Harga emas dibuka menguat ke level US$4.090 per troy ons pada perdagangan pagi didorong oleh meredanya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu penurunan tajam harga minyak dunia. Koreksi harga energi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global sekaligus menekan dolar AS, sehingga meningkatkan daya tarik emas," demikian berdasarkan materi analisis pasar.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, perhatian utama investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneter hingga akhir 2026.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih berada di kisaran 80%. Prospek tersebut diperkirakan membatasi ruang kenaikan harga emas apabila The Fed tetap menyampaikan sikap hawkish terhadap inflasi.
"Konsensus pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun investor akan mencermati pernyataan Ketua The Fed terkait prospek inflasi dan arah kebijakan pada sisa tahun 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih berada di kisaran 80%, sehingga ruang penguatan emas diperkirakan tetap terbatas apabila bank sentral mempertahankan nada hawkish," tulis analisis tersebut.
Selain hasil FOMC, investor juga menantikan sederet indikator ekonomi AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Data yang menjadi perhatian meliputi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II, Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, JOLTS Job Openings, hingga Nonfarm Payrolls (NFP).
Rangkaian data tersebut dipandang menjadi acuan penting untuk mengukur kekuatan ekonomi AS sekaligus prospek inflasi, yang pada akhirnya akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi teknikal, harga emas diperkirakan memiliki area support terdekat pada kisaran US$4.024 hingga US$3.992 per troy ons. Apabila tekanan jual meningkat, support berikutnya berada di level US$3.932. Sementara itu, area resistance terdekat berada pada kisaran US$4.084 hingga US$4.112, dengan target resistance jangka menengah di sekitar US$4.172 per troy ons.