INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak bergerak bullish pada perdagangan Selasa (15/9/2026), ditopang membaiknya aktivitas industri China sekaligus meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sentimen dari China menjadi salah satu katalis positif bagi pasar minyak. Data Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan output industri Negeri Tirai Bambu tumbuh 5,2% secara tahunan pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 4,5% pada Juli.
Kenaikan aktivitas industri tersebut mengindikasikan penguatan permintaan energi dari salah satu konsumen minyak terbesar dunia. Namun, laju penjualan ritel China justru melambat. Penjualan ritel hanya tumbuh 0,4% secara tahunan pada Agustus, turun dari 0,6% pada Juli.
Di tengah sinyal permintaan China yang masih beragam, risiko pasokan dari Timur Tengah menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kerusakan jalur pipa East-West Arab Saudi akibat serangan Houthi pada pekan lalu diperkirakan membutuhkan waktu pemulihan hingga beberapa pekan.
Jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap ekspor minyak Arab Saudi berpotensi signifikan. Berdasarkan keterangan sumber pembeli dan pedagang minyak Saudi, apabila operasional pipa East-West tidak segera pulih, Arab Saudi berpotensi kehabisan stok minyak untuk ekspor hanya dalam hitungan hari.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi menghilangkan hingga 4% pasokan minyak global dari pasar. Risiko penurunan pasokan dalam skala besar inilah yang menjadi bahan bakar tambahan bagi penguatan harga minyak.
Tekanan geopolitik kembali meningkat setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan udara militer Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi pada Senin. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas, termasuk hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi.
Serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas serangan udara Saudi di Yaman. Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat di wilayah tersebut dan tiga kota di bagian selatan lainnya.
Eskalasi Houthi dan Saudi menambah risiko terhadap stabilitas pasokan energi global. Bagi pasar minyak, setiap peningkatan tensi di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan premi risiko karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak dunia.
Sentimen geopolitik juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk tidak menargetkan fasilitas energi masing-masing. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump mengkritik Kyiv terkait serangan terhadap kilang minyak Rusia.
Kesepakatan untuk menghindari serangan terhadap fasilitas energi berpotensi meredakan sebagian risiko gangguan pasokan dari kawasan Rusia-Ukraina. Namun, perhatian pasar saat ini masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak masih mendapatkan dorongan bullish seiring kombinasi sentimen permintaan dan risiko pasokan. Harga berpotensi menguji level resistance di sekitar US$100 per barel apabila sentimen positif berlanjut.
Adapun bahan acuan teknikal mencantumkan level US$105 per barel sebagai support terdekat. Namun, level tersebut berada di atas resistance US$100 sehingga perlu dikonfirmasi kembali sebelum digunakan sebagai acuan teknikal.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan gangguan pipa East-West, eskalasi konflik Houthi-Saudi, serta kemampuan China mempertahankan momentum aktivitas industrinya. Kombinasi gangguan pasokan dan penguatan permintaan dapat menjadi katalis yang menjaga harga minyak tetap berada dalam tren bullish.