INDUSTRY.co.id - Jakarta — Di tengah perubahan cara masyarakat bertransaksi, menjalankan usaha, dan mengelola aset, kemampuan mengatur keuangan menjadi semakin penting. Bagi perempuan, kecakapan finansial juga berkaitan erat dengan peran mereka dalam mengelola ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam workshop “Perempuan Aktif, Finansial di Era Digital” yang digelar HIPRINDA DPW DKI Jakarta bersama TravelXplore di Kemang Icon, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan yang diikuti peserta dari Ahli Layanan Kecantikan Indonesia (ALKI) serta Indonesian Women in Transportation and Logistics (IWTL) itu mengangkat tiga langkah yang dinilai relevan dalam membangun pengelolaan finansial di era digital, yakni move, save, dan invest.

Ketua HIPRINDA DPW DKI Jakarta, Ir. H. Yudhianto Sastrowilogo, M.Re., M.Ec., (CPA), yang menjadi pemateri, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah menciptakan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk memperkuat kemandirian ekonomi.

Berbagai layanan digital, mulai dari mobile banking, dompet digital, QRIS, marketplace hingga social commerce, dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk kebutuhan transaksi, tetapi juga mengembangkan usaha, membangun side hustle, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Era digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk lebih mandiri secara finansial, berdaya saing, dan mampu membangun keamanan jangka panjang,” ujar Yudhianto.

Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kecakapan mengambil keputusan keuangan. Pemanfaatan teknologi tidak semata-mata menjadi alat untuk mengikuti perubahan, tetapi juga dapat membantu seseorang memperluas sumber pendapatan sekaligus mengelola keuangan secara lebih terukur.

Setelah memperoleh pendapatan, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelolanya. Konsep save dalam workshop tersebut menekankan pentingnya membangun kebiasaan menabung, menyiapkan dana darurat, mengatur arus kas, serta merencanakan kebutuhan jangka panjang.

Yudhianto menilai peran perempuan dalam keluarga membuat pemahaman tersebut semakin penting. Tidak sedikit perempuan yang menjadi pengelola keuangan keluarga, sehingga kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran secara transparan dapat membantu menghadapi berbagai kondisi yang tidak terduga.

“Menabung bukan lagi sekadar menyisihkan uang di celah anggaran, melainkan membangun dana darurat, merencanakan pendidikan anak, dan mempersiapkan masa pensiun,” jelasnya.

Di sisi lain, kemudahan transaksi digital juga membawa tantangan baru. Karena itu, keamanan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas finansial. Penggunaan PIN, autentikasi dua faktor, verifikasi transaksi, hingga kewaspadaan terhadap phishing perlu menjadi kebiasaan masyarakat ketika mengakses layanan keuangan digital.

Pembahasan kemudian berlanjut pada aspek invest, seiring semakin terbukanya akses masyarakat terhadap beragam instrumen investasi melalui platform digital.

Reksa dana, saham, obligasi ritel hingga emas digital kini dapat dijangkau dengan modal yang relatif terjangkau. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu disertai pemahaman mengenai risiko dan tujuan investasi.

Yudhianto mengingatkan pentingnya diversifikasi, perencanaan jangka panjang, serta kewaspadaan terhadap tawaran investasi ilegal. “Investasi bukan tentang mengejar keuntungan instan, melainkan tentang diversifikasi, horizon jangka panjang, dan disiplin menghindari skema investasi ilegal,” tegasnya.

Bagi peserta, pembahasan tersebut memberikan sudut pandang baru mengenai cara melihat berbagai instrumen finansial. Ketua Umum ALKI, Sri Mulyawati, A.Md, Dipl. IBSTAA, CAAW, yang akrab dipanggil Achi, mengatakan workshop membantunya dan peserta lain memahami lebih jauh mengenai trading serta pengelolaan finansial ditengah perubahan kondisi ekonomi.

“Awalnya kami memiliki sedikit pemahaman tentang trading. Namun, setelah mendapatkan penjelasan lebih mendalam, ternyata banyak hal baru yang kami ketahui. Bagi kami yang muslim, trading sempat dipandang cukup berseberangan, tetapi ternyata ada insight yang relevan untuk dipahami, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah,” ujar Achi

Ungkapan “jangan menaruh seluruh telur dalam satu keranjang” menjadi gambaran sederhana mengenai prinsip diversifikasi. Dana dapat dibagi ke sejumlah instrumen, seperti saham, emas, atau obligasi, sehingga penurunan pada satu aset tidak serta-merta memberikan dampak besar terhadap keseluruhan kondisi finansial.

Lebih dari sekadar mengenalkan instrumen keuangan, workshop ini memperlihatkan bahwa literasi finansial semakin relevan dalam kehidupan perempuan sehari-hari. Perempuan tidak hanya berada pada posisi sebagai pengguna layanan keuangan, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi pelaku usaha, investor, sekaligus penggerak ekonomi keluarga.

Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai move, save, dan invest, perempuan diharapkan dapat mengambil keputusan finansial secara lebih sadar, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.