INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama cenderung tertahan pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Pelaku pasar memilih menahan posisi menjelang rilis data inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) yang dinilai menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Tekanan terhadap dolar terlihat pada pasangan USDJPY yang bergerak melemah ke sekitar 154,29 pada sesi Asia, setelah sebelumnya sempat mengalami pemulihan. USDJPY kembali berada di bawah pertengahan level 154,00 dengan tekanan turun yang masih relatif terbatas.

Perhatian investor kini tertuju pada CPI AS Agustus. Data tersebut menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa besar tekanan inflasi dan menentukan ruang bagi The Fed dalam mengambil kebijakan suku bunga.

Sebelumnya, data Producer Price Index (PPI) AS Agustus menunjukkan inflasi produsen meningkat 5,4% secara tahunan, dari 4,8% pada bulan sebelumnya dan berada di atas ekspektasi pasar. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan harga yang masih kuat sekaligus berpotensi membatasi pelemahan dolar AS.

Di sisi lain, yen memperoleh tenaga dari meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan mengambil sikap lebih hawkish. Pasar memperkirakan BoJ menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 17–18 September, dengan peluang kenaikan lanjutan pada Desember.

Pernyataan sejumlah pejabat BoJ yang menginginkan penyesuaian suku bunga lebih cepat, ditambah inflasi Jepang yang masih persisten, semakin memperkuat ekspektasi tersebut. Dengan kondisi itu, USDJPY berpotensi tetap berada di bawah tekanan. Area support berada di 154,00, sedangkan resistance di 154,80.

Sementara itu, euro juga menguat terhadap dolar AS. EURUSD bergerak ke sekitar 1,1615 setelah sempat stabil di kisaran 1,1610 pada awal sesi Asia.

Penguatan euro masih ditopang sikap Bank Sentral Eropa (ECB) yang dinilai relatif hawkish setelah menaikkan suku bunga fasilitas deposit menjadi 2,50% sesuai ekspektasi. Pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde mengenai potensi tekanan inflasi yang bertahan di atas target 2% turut memperkuat pandangan bahwa bank sentral masih membuka ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Namun, ruang penguatan EURUSD masih terbatas karena pasar menunggu CPI AS. Jika inflasi AS kembali lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpeluang menguat dan menekan euro. Support EURUSD berada di 1,1580 dan resistance 1,1650.

Poundsterling juga bergerak menguat, dengan GBPUSD berada di sekitar 1,3512. Namun, laju penguatan pound masih tertahan karena investor menunggu sinyal baru dari CPI AS.

Dari Inggris, pound memperoleh dukungan dari ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian suku bunga. Gubernur BoE Andrew Bailey sebelumnya menegaskan bahwa keputusan kebijakan moneter akan tetap bergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik.

Untuk GBPUSD, data CPI AS menjadi katalis utama. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar dan menekan pound. Level support berada di 1,3480 dan resistance di 1,3550.

Tekanan dolar juga belum sepenuhnya mampu membendung penguatan dolar Australia. AUDUSD naik ke sekitar 0,7164 dari posisi 0,7155 pada awal sesi Asia.

Akan tetapi, prospek penguatan AUD masih menghadapi risiko dari ekspektasi kebijakan The Fed. PPI AS yang naik 5,4% secara tahunan pada Agustus meningkatkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS yang lebih tinggi atau bertahan lebih lama.

Dari Australia, sikap Reserve Bank of Australia (RBA) yang relatif hawkish menjadi penyangga bagi AUD. Sejumlah pejabat RBA menilai inflasi yang persisten masih dapat mendorong bank sentral kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi kenaikan OCR ke 4,60% pada pertemuan mendatang turut menopang AUDUSD.

Pasangan tersebut memiliki support di 0,7130 dan resistance di 0,7190.

Di kawasan Pasifik, NZDUSD juga mencoba bangkit ke sekitar 0,5817 setelah sebelumnya tertekan hingga di bawah 0,5800. Namun, pemulihan dolar Selandia Baru masih rentan karena prospek suku bunga AS dan permintaan dolar sebagai aset safe haven.

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, prospek kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang relatif dovish menjadi beban tambahan bagi NZD.

Dengan demikian, meski NZDUSD berpeluang melanjutkan pemulihan jangka pendek, tekanan fundamental masih cenderung mengarah ke bawah. Support berada di 0,5780 dan resistance di 0,5840.

Franc Swiss menjadi mata uang lain yang mendapatkan dukungan dari meningkatnya permintaan aset safe haven. USDCHF bergerak turun ke sekitar 0,8126 pada perdagangan Jumat.

Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor pendukung bagi franc, sementara dolar AS masih dibayangi prospek kebijakan The Fed setelah PPI menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan.

Dari Swiss, ruang penguatan franc berpotensi dibatasi oleh sikap Swiss National Bank (SNB) yang cenderung longgar dengan suku bunga berada di level 0%. Namun, penguatan franc juga membantu menjaga tekanan inflasi Swiss tetap rendah.

Jika permintaan terhadap aset safe haven meningkat dan CPI AS berada di bawah ekspektasi, USDCHF berpotensi melanjutkan pelemahan. Support berada di 0,8080, sedangkan resistance di 0,8150.

Secara keseluruhan, CPI AS menjadi titik penentu pasar valuta asing pada perdagangan kali ini. Setelah PPI menunjukkan tekanan inflasi yang lebih kuat, investor kini mencari konfirmasi apakah tren tersebut berlanjut ke tingkat konsumen. Hasil CPI yang lebih tinggi berpotensi kembali mengangkat dolar AS, sementara angka yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran The Fed dan membuka ruang bagi mata uang utama untuk melanjutkan penguatan.