Harga minyak mentah dunia hari ini, Jumat (11/09/2026), mengalami lonjakan signifikan yang mendorong kedua benchmark utama menembus level US$100 per barel. Mengacu pada data perdagangan penutupan Kamis (10/09/2026) waktu AS, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman berikutnya ditutup naik US$6,42 atau 6,34 persen menjadi US$107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$6,43 atau 6,69 persen menjadi US$102,48 per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang terus eskalasi menjadi katalis utama kenaikan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Highlights
- Brent naik US$6,42 (6,34%) menjadi US$107,63 per barel pada penutupan 10 September 2026
- WTI naik US$6,43 (6,69%) menjadi US$102,48 per barel pada penutupan 10 September 2026
- Kedua benchmark tembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan
- Katalis utama: eskalasi serangan kapal tanker di Timur Tengah dan ketegangan AS-Iran
- Performa bulanan: Brent naik 13,88% dalam sebulan terakhir, WTI naik 18,34%
- Year-on-year: harga minyak naik lebih dari 52% dibanding periode sama tahun lalu
Daftar Isi
- Harga Minyak Mentah Hari Ini
- Faktor Pendorong Kenaikan
- Ketegangan Timur Tengah
- Outlook dan Analisis Pasar
- Dampak ke Indonesia
- FAQ
Harga Minyak Mentah Hari Ini
Berikut harga minyak mentah dunia berdasarkan dua benchmark utama per penutupan perdagangan 10 September 2026:
| Benchmark | Harga (US$/Barel) | Perubahan | % Perubahan |
|---|---|---|---|
| Brent Crude | US$107,63 | +US$6,42 | +6,34% |
| WTI (West Texas Intermediate) | US$102,48 | +US$6,43 | +6,69% |
Sumber: TradingEconomics dan Investing.com, per 10 September 2026
Faktor Pendorong Kenaikan
Lonjakan harga minyak mentah hari ini didorong oleh beberapa faktor utama:
1. Eskalasi Serangan Kapal Tanker
Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Gangguan terhadap jalur pelayaran minyak memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global, mengingat sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
2. Ketegangan AS-Iran
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas, dengan aksi saling serang yang meningkatkan risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk. Situasi geopolitik ini menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa pekan.3. Kekhawatiran Pasokan Global
Pasar minyak mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan yang lebih luas jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Hal ini mendorong aksi beli yang agresif dari para pelaku pasar.
Ketegangan Timur Tengah
Menurut laporan New York Times, harga minyak dunia mencapai US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026 seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak saat ini hampir 40% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik di Iran dimulai.
Serangan terhadap kapal tanker minyak menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasokan energi global. Kawasan Teluk merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, dan setiap gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung pada harga minyak global.
Outlook dan Analisis Pasar
OPEC memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 580.000 barel per hari (bpd) pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 780.000 bpd. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) memberikan pandangan yang lebih pesimis dengan memperkirakan penurunan permintaan sebesar 1,6 juta bpd.
Beberapa analis memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak saat ini berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi, yang dapat berdampak pada kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara. Kenaikan harga energi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global.
Dalam sebulan terakhir, harga minyak Brent telah naik 13,88% dan WTI naik 18,34%. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kenaikan masing-masing mencapai 52,56% dan 52,65%, menunjukkan tren penguatan yang signifikan.
Dampak ke Indonesia
Sebagai negara importir minyak bersih, kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak langsung pada perekonomian Indonesia. Beberapa dampak yang perlu dicermati:
- Harga BBM: Tekanan untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik meningkat seiring kenaikan harga minyak mentah global
- Defisit neraca perdagangan: Impor minyak yang lebih mahal dapat memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia
- Inflasi: Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi melalui efek berganda ke sektor transportasi dan logistik
- Rupiah: Dampak terhadap nilai tukar rupiah perlu dicermati seiring meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor minyak
FAQ
Pertanyaan Umum (FAQ)
Key Takeaways
- Brent Crude tembus US$107,63/barel dan WTI US$102,48/barel, keduanya di atas US$100 untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan
- Lonjakan harga dipicu eskalasi serangan kapal tanker dan ketegangan AS-Iran di Timur Tengah
- Harga minyak naik lebih dari 50% year-on-year, menunjukkan tren penguatan jangka panjang
- OPEC menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan menjadi 580.000 bpd, sementara IEA memprediksi penurunan permintaan
- Indonesia sebagai importir minyak bersih perlu mewaspadai dampak terhadap inflasi, defisit neraca perdagangan, dan harga BBM
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual kontrak minyak mentah. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.
Sumber data: TradingEconomics, Investing.com, Kompas, Forbes | Penulis: Candra Mata