INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak dunia membuka perdagangan awal pekan, Senin (27/7/2026), dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan bahwa kedua negara akan mempertahankan jeda serangan mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.

Sentimen tersebut muncul setelah Iran menyatakan akan menghentikan serangannya selama AS juga mempertahankan penghentian operasi militernya. Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior Teheran pada Minggu, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana kampanye pengeboman terhadap Iran pada Jumat malam, sehingga Sabtu dan Minggu menjadi dua hari tanpa serangan setelah 13 malam operasi udara intensif.

Di saat yang sama, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengatakan Presiden Trump memilih menghentikan sementara serangan untuk memberikan ruang lebih besar bagi jalur diplomasi.

Sinyal deeskalasi juga diperkuat oleh perkembangan pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengungkapkan diskusi yang berlangsung pada 24-25 Juli berjalan positif.

"Pembicaraan terkait pengelolaan Selat Hormuz dengan delegasi Oman berlangsung konstruktif dan beberapa kemajuan telah dicapai," ujar Baghaei.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati gangguan terhadap jalur distribusi minyak global. Data pengiriman Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap rendah, dengan jumlah kapal yang melintas kurang dari 10 kapal per hari sepanjang akhir pekan.

Kondisi serupa juga terjadi di Selat Bab el-Mandeb. Lalu lintas kapal di jalur tersebut melambat setelah kelompok Houthi menyerang instalasi minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah serta mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi. Menurut data Kpler, hanya 11 kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Minggu, menjadi level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Ukraina atas serangan jarak jauh di Laut Kaspia yang disebut menargetkan kapal-kapal pengangkut kargo militer yang melibatkan Iran.

Araghchi bahkan mengancam akan melakukan pembalasan, sehingga memunculkan potensi konflik baru yang dapat kembali meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global.

Dari sisi teknikal, harga minyak masih memiliki peluang untuk kembali menguat apabila ketegangan geopolitik meningkat. Level resistance terdekat berada di kisaran US$88 per barel. Sebaliknya, jika sentimen negatif mendominasi dan prospek diplomasi terus membaik, harga minyak berpotensi terkoreksi menuju area support di sekitar US$83 per barel.