INDUSTRY.co.id - TANGERANG - Di tengah panggung Industrial Festival 2026 di ICE BSD Tangerang, sebuah kisah sederhana tentang batik menjadi pembuka percakapan besar tentang masa depan industri Indonesia.
Kisah itu tentang Smart Batik Indonesia. Sebuah usaha yang lahir tanpa modal besar, hanya bermodal keberanian meminjam produk dari perajin untuk ditawarkan ke pembeli. Siapa sangka, dari cara sederhana itu, kini mereka mampu menjual selembar kain batik hingga Rp 1,5 juta dan menghidupi lebih dari 60 perajin.
Cerita inilah yang dibawa Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menyentil generasi muda. Bahwa untuk menjadi inovator di industri halal, yang nilainya sudah mencapai miliaran dolar, tidak harus selalu menunggu lulus kuliah atau memiliki modal jumbo.
Pesan itu terasa relevan, mengingat potensi yang ada di depan mata begitu besar.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Emmy Suryandari, yang mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kuliah umum bertajuk “Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry”, memaparkan data yang cukup mengejutkan.
Kontribusi industri halal terhadap Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) kini telah mencapai 50,55 persen atau setara Rp 1.102 triliun. Pasar domestiknya pun raksasa, dengan 252,8 juta penduduk muslim atau 87,14 persen dari total penduduk Indonesia, yang konsumsi rumah tangganya pada semester I 2026 saja mencapai Rp 5.974,9 triliun.
Bahkan di kancah global, Indonesia sudah menjadi pemain penting. Pada semester I 2026, ekspor produk industri halal Indonesia menembus USD 35,72 miliar. Angka ini disumbang oleh industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, kulit dan alas kaki, farmasi, hingga perlengkapan rumah tangga.
“Masa depan industri nasional akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menyiapkan generasi muda yang inovatif dan produktif,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Agus, Indonesia memiliki dua modal besar sekaligus, yakni pasar domestik yang besar dan basis industri yang kuat. Dua modal ini harus dimanfaatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi menjadi produsen dan pemain utama dalam rantai nilai industri halal dunia.
Namun, Emmy mengingatkan ada paradigma yang harus diubah. Selama ini halal sering hanya dipandang sebagai stempel sertifikasi untuk memenuhi kewajiban. Padahal, halal harus naik kelas menjadi jaminan kualitas.
“Halal bukan sekadar baseline compliance. Produk halal juga harus memberikan jaminan keamanan, higienitas, dan kualitas tinggi. Halal dapat menjadi nilai tambah dan meningkatkan daya saing karena menjadi bagian dari value proposition dan branding produk di pasar internasional,” ujar Emmy.
Prinsip ini sejalan dengan konsep thayyib, yang tidak hanya soal halal, tetapi juga ramah lingkungan, adil, dan berkelanjutan. Potensinya pun terus tumbuh. Mengacu pada State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/2026, konsumsi muslim global pada enam sektor ekonomi syariah mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan menjadi USD 3,56 triliun pada 2029.
Di dalam peta persaingan global itu, Indonesia berada di peringkat keempat ekosistem halal dunia. Namun untuk kategori manufaktur, Indonesia justru memimpin di peringkat pertama untuk modest fashion, peringkat ketiga untuk makanan halal, serta peringkat keempat untuk farmasi dan kosmetik halal.
Lalu, apa peran anak muda?
Emmy mengatakan industri masa kini tidak lagi hanya butuh orang yang bisa mengoperasikan mesin. Industri butuh pencipta produk, pemilik jenama, pengembang teknologi, kreator, peneliti, hingga wirausaha.
“Tidak semua harus menjadi pengusaha dan tidak semua harus mendirikan startup. Tetapi setiap orang bisa menemukan perannya,” kata dia.
Kisah Smart Batik Indonesia yang meraih Indonesia Halal Industry Awards 2025 untuk kategori Industri Tekstil dan Apparel Halal Terbaik subkategori IKM menjadi bukti bahwa inovasi bisa lahir dari hal yang sudah ada, dibuat menjadi lebih baik, lebih relevan, dan lebih bernilai.
Karena itu, Emmy menutup kuliah umumnya dengan sebuah ajakan yang mengalir. Jangan menunggu.
"Masa depan industri Indonesia tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan itu harus kita bentuk bersama. Mulailah dari kampus, dari bidang yang dikuasai, dan dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita,” kata Emmy.
“Jangan hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan. Jadilah generasi yang ikut menciptakan perubahan itu," tandasnya.