INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pergerakan pasar valuta asing pada awal pekan, Senin (27/7), diwarnai pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) seiring membaiknya sentimen risiko global setelah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mereda. Kondisi tersebut mendorong penguatan sejumlah mata uang utama, sementara fokus pelaku pasar kini beralih ke hasil rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Pasangan EUR/USD menguat ke kisaran 1,1410 didukung pelemahan dolar AS setelah meningkatnya optimisme terhadap peluang penyelesaian diplomatik konflik AS-Iran. Penghentian operasi militer AS dan penundaan aksi balasan Iran mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Di saat yang sama, penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi sehingga menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

"Pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang diperkirakan mempertahankan suku bunga, sementara perhatian investor akan tertuju pada petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya," demikian disebutkan dalam riset pasar. Secara teknikal, EUR/USD memiliki area support di 1,1375 dan resistance di 1,1450.

Sentimen serupa juga mengangkat nilai tukar poundsterling. GBP/USD menguat ke kisaran 1,3358 setelah bangkit dari level terendah dalam tiga pekan. Pelemahan dolar dipicu membaiknya optimisme pasar terhadap meredanya konflik di Timur Tengah serta turunnya harga minyak yang mengurangi tekanan inflasi di AS.

Meski demikian, penguatan pound dinilai masih terbatas karena investor menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). "Arah kebijakan The Fed serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan GBP/USD dalam jangka pendek." Support berada di 1,3325, sedangkan resistance di 1,3395.

Dolar Australia juga mempertahankan tren positif. AUD/USD bergerak di sekitar 0,7000, mendekati level tertinggi dalam beberapa pekan. Selain ditopang pelemahan dolar AS, penguatan ini dipicu ekspektasi data inflasi kuartal II Australia yang diperkirakan menunjukkan inflasi inti meningkat menjadi 3,7% secara tahunan, masih berada di atas target Reserve Bank of Australia (RBA).

"Jika sesuai perkiraan, kondisi tersebut akan memperkuat ekspektasi bahwa RBA mempertahankan sikap kebijakan yang cenderung ketat," tulis laporan tersebut. Secara teknikal, support AUD/USD berada di 0,6970 dan resistance di 0,7035.

Sementara itu, NZD/USD dibuka menguat ke kisaran 0,5803. Penguatan dolar Selandia Baru didukung membaiknya sentimen risiko global serta ekspektasi Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September setelah inflasi tetap tinggi.

"Pasar memperkirakan suku bunga acuan berpotensi mencapai setidaknya 3,0% pada akhir tahun dan meningkat hingga sekitar 3,5% pada pertengahan 2027," demikian isi riset tersebut. Support NZD/USD berada di 0,5775 dengan resistance di 0,5835.

Di sisi lain, USD/JPY turun ke kisaran 163,50 seiring menguatnya yen Jepang. Penurunan harga minyak memberikan sentimen positif bagi Jepang yang masih bergantung pada impor energi dari Timur Tengah sehingga berkurangnya risiko gangguan pasokan dinilai mendukung mata uang yen.

Namun, penguatan yen masih dibayangi dinamika politik domestik. Tingkat persetujuan terhadap Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dilaporkan turun ke level terendah sejak menjabat akibat meningkatnya biaya hidup. Selain itu, investor juga menanti hasil pertemuan Bank of Japan yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga. Support USD/JPY berada di 163,20 dan resistance di 164,10.

Pelemahan dolar AS turut menyeret USD/CHF ke kisaran 0,8141. Penurunan harga minyak dan meredanya ketegangan geopolitik mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi sehingga menekan indeks dolar. Investor juga mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II AS dan inflasi PCE yang akan menjadi petunjuk baru bagi arah kebijakan moneter The Fed. Support USD/CHF berada di 0,8115 dengan resistance di 0,8175.

Adapun USD/CAD melemah ke kisaran 1,4073 akibat tekanan terhadap dolar AS. Meski demikian, pelemahan pasangan mata uang ini tertahan oleh turunnya harga minyak mentah WTI ke sekitar US$86,2 per barel yang mengurangi daya dukung terhadap dolar Kanada sebagai mata uang berbasis komoditas.

Perhatian investor kini tertuju pada hasil pertemuan Federal Reserve pekan ini yang diperkirakan mempertahankan suku bunga, dengan sinyal kebijakan selanjutnya berpotensi menjadi penentu arah pergerakan USD/CAD. Secara teknikal, support berada di 1,4045 dan resistance di 1,4115.