INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mengurangi impor produk elektronik dan telematika, terlebih sejak pandemi Covid-19 menyerang yang membuat berbagai kegiatan dilakukan menggunakan barang-barang elektronik.

Advertisement

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan, pemerintah perlu mencari instrumen terbaik untuk memacu pertumbuhan industri elektronika dan telematika dengan dukungan dari berbagai pihak.

"Ini merupakan salah satu sektor dari jantung Making Indonesia 4.0 yang sudah dicanangkan Presiden Jokowi sejak tahun 2018. Kami dari Kemenperin yang akan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan untuk mencari suatu instrumen," kata Taufiek dalam sebuah diskusi online bertajuk "Subtitusi Impor Produk Elektronika", Rabu.

Advertisement

Dijelaskan Dirjen ILMATE, pihaknya merasa instrumen yang ada saat ini belum cukup untuk mendorong dalam konteks untuk memaksimalkan industri dalam negeri, khususnya industri elektronika dan telematika.

Untuk mewujudkan substitusi impor produk elektronika, memperkuat sumber daya manusia, kemampuan inovasi dan kemampuan produksi industri-industri yang ada di dalam negeri menjadi jalan yang harus ditempuh.

Advertisement

Guna mengoptimalkan produk-produk hilir, Kemenperin coba mencari instrumen terbaik, sehingga industri mampu semakin mendalami industri itu sendiri dan ditargetkan industri ini bisa tumbuh.

"Ada beberapa industri yang sudah relokasi ke Indonesia seperti Panasonic dan Sharp membangun pabrik televisinya. Jadi kita tidak impor produknya, tetapi pabriknya kita bangun di sini dan yang sudah ada kita perluas untuk tumbuh lebih baik lagi," tuturnya.

Advertisement

Penarikan investasi seperti inilah yang coba Kemenperin lakukan dan untuk mendukungnya diperlukan kebijakan yang sesuai.

"Inilah yang coba kita lihat secara instrumen dan kebijakannya, sehingga nanti diharapkan adalah industri kita ini kuat di dalam negeri. Artinya pasar yang ada di dalam negeri diisi oleh industri yang ada di Indonesia. Tentunya dengan kebijakan ini akan meningkatkan investasi dan saat investasi meningkat akan mendorong dari sisi PDB-nya," ungkap Taufiek.

Taufik memaparkan, impor elektronik Indonesia mencapai 25,5 miliar dolar AS. Sedangkan ekspor produk elektronika dan telematika sebesar 12,5 miliar dolar AS.

"Walaupun kita sudah optimal juga untuk ekspor sekitar 12,5 miliar dolar, ini adalah satu pertumbuhan yang kita dorong ekspornya dari dalam negeri. Di dalamnya juga mengandung unsur bahwa industri dalam negeri mampu berkompetisi secara global," tukas Taufik.

Dari total impor 25,5 miliar dolar AS, sebesar 13 miliar dolar AS atau 53 persen merupakan impor komponen untuk memproduksi industri elektronika dan telematika.