INDUSTRY.co.id - Jakarta, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Ditjen Migas Kementerian ESDM Setyorini Tri Hutami menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah membuat pemerintah harus mengutak-atik harga BBM karena terkait dengan alokasi subsidi. Namun, Rini belum bersedia menyebutkan BBM bersubsidi jenis solar atau premium yang harganya akan naik.

Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang memproyeksi potensi kenaikan harga BBM bisa mencapai Rp 500 per liter. Mungkin bahan bakar yang harganya dinaikkan adalah solar karena semestinya terjadi kenaikan sejak Oktober lalu.

Tetapi, rencana kenaikan harga solar pada Oktober diputuskan pemerintah untuk ditunda lantaran Pertamina masih mampu menutupi kerugian dengan laba hasil penjualan solar pada bulan-bulan sebelumnya.

"Solar itu sebenarnya rugi pada Oktober. Tapi, kami tidak mau naikkan karena masih punya untung untuk solar," jelas Abe, sapaan akrab Ahmad Bambang di Jakarta, Selasa (13/12).

Abe menuturkan, saat ini laba dari penjualan solar tidak bisa lagi digeser untuk menutupi kekurangan subsidi BBM. Pasalnya, Pertamina harus memperhitungkan laba hasil penjualan solar dalam neraca pembukuan keuangan perseroan pada akhir tahun ini.

"Nah, Januari kan sudah beda tahun. Tidak bisa digeser kan? Jadi, harus start. Pasti agak besar kenaikannya" ujarnya.

Abe menegaskan, saat ini Pertamina masih menanti kebijakan pemerintah untuk kenaikan harga BBM pada tahun depan. Hingga kuartal ketiga 2016, Pertamina berhasil meraup laba bersih USD 2,83 miliar atau sekitar Rp 37,06 triliun.

Keuntungan tersebut melonjak 209 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, yakni USD 914 juta atau Rp 11,97 triliun.