INDUSTRY.co.id, Apa hikmah yang bisa diambil setelah tindakan tiga hari mogok para pengrajin tempe dan tahu yang merembet berimbas kepada tukang ketoprak, tukang gado-gado, tukang girengan tak kerceuali warung makan setelah 3(tiga) hari yaitu tanggal 21, 22 dan 23 February terjadi pemogokan.
Mogok produksi para pengrajin didasarkan kepada Surat PUSKOPTI DKI Jakarta Nomor : 004/II/2022 tanggal 13 February 2022 tentang mogok produksi dan dagang tempe-tahu. Kegiatan ini diikuti sejumlah pengrajin tempe-tahu se DKI Jakarta, Bogor, Tangerang dan bekasi yang tentu akan berimbas kepada tukang gorengan , tukang ketoprak, tukqng gado-gado dan warung makan secara komplementer.
Secara ekonomi berapa banyak transaksi perdagangan yang tidak bisa berlangsung disamping berapa banyak para pelaku ekonomi kehilangan pendapatannya. Belum lagi masyarakat kinsumen yang tidak bisa mendapatkan kebutuhan pangan secara terjangkau karena kemampuan pendapatannya. Tempe-tahu merupakan menu yang paling akrab dengan masyarakat berpendapatan kecil dan memiliki daya keterjangkauan. Makan nasi panas dengan tempe goreng merupakan menu paling handal plus sambal bawang ( kalau cabe tidak mahal) tetapi setidaknya ada tempe-tahu iti sudah sangat memadai bagi rakyat kecil.
Ketika tempe-tahu langka dipasar dan harga mahal , apa yang akan terjadi bagi masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena belum tersedia barang pengganti (substitusi) untuk yang satu ini. Walaupun tempe-tahu juga dikonsumsi oleh masyarakat menengah atas namun bukan masalah baginya karena masih ada pilihan lain dan biasanya tempe-tahu hanya merupakan menu tambahan.
Tempe Goreng, Apa Khabar?
Kondisi sebagai mana telah diuraikan sebelumnya diakumulasi dengan kelangkaan minyak goreng yang sudah berlangsung beberapa lama menjadikan masalah bagi kaum ibu rumah tangga.
Untuk mendapatkan 1 liter minyak goreng harus datang pagi2 di mini market (alfa, indo-mart) lewat jam 9.00 sudah habis. Sementara untuk ke super market (Superindo misalnya) minyak goreng murah tidak tersedia, yang ada hanya minyak goreng kualitas harga mahal yang tentu saja masyarakat kecil tidak bisa mendapatkan. Akibatnya yang keseharian tempe-tahu goreng yang dinikmati sebagai lauk makan tidak bisa tersedia lagi, lalu apa penggantinya. Minyak goreng dibutuhkan bukan hanya untuk tempe goreng akan tetapi untuk masakan lainnya. Sehingga kondisi menjadi sebuah pertanyaan “Tempe Goreng” (apa kabarnya?). Bukan itu saja yang menjadi pertanyaan, namun juga sampai kapan kondisi ini akan kembali normal? Tentu saja butuh kehadiran pemangku kepentingan baik berkait kepada ketersediaan kedelai dengan harga wajar maupun ketersediaan minyak goreng dengan harga terjangkau untuk masyarakat kecil berpendapatan rendah.
Masalah berulang dan Fokus Perhatian
Masalah tingginya harga kedelai sebagai bahan baku tempe-tahu bagi para pengrajin /produsen tempe-tahu adalah merupakan masalah yang berulang hampir pada setiap tahun kurang lebih masalah yang sama terjadi.
Demikian halnya masalah kelangkaan minyak goreng juga sering terjadi berulang . Suatu kondisi Ironis dimana di negeri yang subur , luas, dan kaya akan sumber daya alam mengalami kelangkaan , berarti ada sebuah pertanyaan dimana dan apa penyebabnya.
Kondisi yang berulang tentu saja menjadi sebuah pengalaman dalam mencari rumusan penyelesaian masalah sehingga tidak menjadi berlarut yang berdampak kepada banyak pihak.
Karenanya diperlukan kesigapan dan percepatan dalam merespon penyelesaian masalah yang berulang tersebut sehingga kesan ada pihak tertentu yang ingin mencari keuntungan apalagi ada upaya pihak tertentu yang sengaja menimbun menjadi tereleminasi dengan kesigapan penanganan.
Melihat kondisi maka diperlukan fokus perhatian dalam mengatasi permasalahan ini diantaranya pemerintah harus segera hadir melakukan intervensi menstabilkan harga dan terjaminnya ketersediaan, sehingga masyarakat mudah untuk memperoleh dua komoditi tersebut. Hal lain dalam jangka pendek melakukan operasi pasar dengan menjual murah minyak goreng dibergai wilayah Rukun Warga (RW) , Kelurahan dan di pasar-pasar tradisional. Sedangkan untuk kedelai diberikan stimulus bagi pengrajin maupun pedegang sampai normalnya pasokan dan harga.
Sebuah khabar baik kebetulan saya berdomisili di Bekasi Selatan, bahwa Dinas Perdagangan dan Perindustri Kota Bekasi akan mengadakan operasi pasar minyak goreng untuk setiap kelurahan diberikan 3.000 liter minyak goreng dengan harga Rp.13.500 per liter. Kegiatannya akan membantu masyarakat untuk memperoleh kebutuhan minyak goreng, namun diperlukan langkah lanjutan yang lebih banyak lagi guna menghilangkan kegalauan masyarakat. (DR. Basuki Ranto, Anggota Dewan Pakar ICMI).