Kinclongnya Harga Batubara Kibarkan Saham BUMI

Oleh : Dhyan W Wibowo | Rabu, 08 Maret 2017 - 11:17 WIB

Produsen Batubara
Produsen Batubara

INDUSTRY.co.id - Bicara industri batubara di lantai bursa, nama pertama yang  akan masuk dalam benak  semua kalangan tentunya adalah emiten yang bergerak di industri tambang batubara nasional, PT Bumi Resource Tbk. Namanya pernah begitu harum di lantai bursa ketika harga komoditas batubara masih cukup tinggi. Bahkan saat itu saham BUMI semat disebut sebagai saham sejuta umat, karena diburu begitu banyak pihak. Harganya pun sempat  mencapai level intraday tertinggi di angka Rp8.750 per lembar saham pada 28 Agustus 2012 lalu.

Emiten yang dicatatkan secara perdana di lantai bursa tahun 1990 inipun bukannya tanpa kontroversi. Langkahnya mengakuisisi tambang batubara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal sempat menjadi pertanyaan besar para pelaku pasar, terkait pendanaan untuk langkah akuisisi.

Namun demikian, BUMI akhirnya resmi menjadi pemilik dua perusahaan tambang batubara kelas premium. Dan langkah akuisisi ini berikutnya menjadikan saham BUMI sebagai buruan utama pencari 'cuan' di lantai bursa. 

Namun demikian, BUMI akhirnya harus mengalami masa suram harus ditinggalkan para pelaku pasar, ketika harga batubara dunia anjlok akibat pelemahan ekonomi dunia, yang diperparah dengan kasus subprime mortgage di Amerika Serikat yang mengguncang pasar finansial dunia. Belum lagi perusahaan juga masih menyimpan persoalan pada rapornya.

Pernah menjadi jawara pasar modal saat booming komoditas tahun 2008,  pada tanggal  27 Juli 2015 lalu,  emiten ini  akhirnya 'sah' masuk dalam kelompok "gocapan" setelah penurunan harga terus menerus dan menembus harga Rp50 per lembar saham.  Pada perdagangan hari itu, saham BUMI turun sebesar 3,85% dari hari sebelumnya, dan diperdagangkan di harga Rp 50 per saham, setelah  sebulan sebelumnya  tak pernah beranjak melampaui Rp60 per saham.

Selain tertekan oleh harga batu bara yang tak juga membaik, Bumi Resources juga terbelit utang yang membuat lemahnya fundamental perusahaan. Tak tanggung-tanggung, terakhir setelah disetujui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) oleh majelis hakim pada November 2016, utang PT Bumi Resources Tbk mencapai Rp54,47 triliun.   Pernah memiliki kapitalisasi pasar hingga Rp 163,9 triliun, maka begitu ia masuk dalam ranah saham 'gocapan',  kapitalisasinya mengkerut hingga tinggal  Rp 1,9 triliun.

Memasuki kuartal terakhir tahun 2016, berhembus kabar sejuk buat para pemegang setia saham BUMI.  Kabar pertama tentunya adalah kenaikan harga batubara. Pada Juli 2015 lalu, batubara sempat mencatatkan posisi terendah di harga US$45,30 per metrik ton, kendati pada Februari -April 2016 sedikit terkerek   ke kisaran US$52 per metrik ton. Namun demikian harga tersebut masih belum cukup menggerakkan industri. Di kuartal keempat, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batu bara acuan mencapai US$69,07 per ton pada Oktober 2016. Seluruh perusahaan batubara pun mulai mengasah asa, dan meningkatkan produksinya. Termasuk BUMI.

Perseroan pun memproyeksikan pendapatan bersih  tahun 2016 mencapai US$ 101,6 juta, atau naik  151% dibanding  tahun 2015 yang sebesar US$ 40,5 juta dan rugi bersih US$ 2 miliar. Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, dalam pernyataannya awal Februari ini menyebut pada tahun 2016, volume penjualan batubara gabungan meningkat 10,6% year-on-year (yoy) menjadi 87,7 juta ton dibanding volume   tahun 2015 yang sebesar 79,3 juta ton. Penjualan tersebut terdiri atas penjualan  dari tambang Arutmin yang naik 15,3% (yoy) menjadi 28,6 juta ton dan penjualan dari  Kaltim Prima Coal (KPC) yang naik 8,4% (yoy) menjadi 59,1 juta ton. “Sepanjang tahun 2016, BUMI meningkatkan volume batubara yang ditambang sebesar 6,5% year on year menjadi 86,5 juta ton. Khusus pada kuartal IV-2016, volume batubara yang ditambang meningkat 12,3% menjadi 23,8 juta ton,” kata Dileep beberapa waktu lalu.

Berita baik berikutnya adalah, permohonan perdamaian penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan total tagihan yang direstrukturisasi mencapai Rp135,78 triliun,  disetujui dalam sidang medio November 2016 lalu.

Dan,  rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Februari kemarin, para pemegang saham telah menyetujui langkah     penerbitan saham baru atau rights issue senilai total Rp 35,1 triliun sebagai bagian dari penyelamatan BUMI. Disampaikan  Dileep,  rights issue akan digelar Mei atau Juni 2017 setelah sebelumnya pihak perseroan  meminta restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berikutnya BUMI akan merilis saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) maksimal 37,8 miliar saham, serta melaksanakan obligasi wajib konversi (OWK) bagi para pemegangnya. Harga rights issue berdasarkan kesepakatan dengan kreditur, Rp 926,16 per saham atau lebih dari dua kali dari harga perdagangan BUMI. Kemarin, harga saham emiten ini berakhir di level Rp 464 per saham.

Aksi korporasi ini tentunya akan memberi efek dilusi 50,8% bagi pemegang saham yang tak mengambil haknya. Saham yang tak terserap akan diambil para kreditur BUMI sebagai pembeli siaga. Maklum, upaya ini juga bagian dari rencana restrukturisasi utang BUMI. Utang senilai US$ 1,9 miliar pun akan dikonversi menjadi saham melalui rights issue. Selain itu juga ada obligasi wajib konversi senilai US$ 639 juta bertenor tujuh tahun. Setelah rights issue, maka utang BUMI akan berkurang dari US$ 4,2 miliar menjadi US$ 1,6 miliar.

Sedikit informasi soal ekuitas perseroan,  per September 2016 sejatinya ekuitas BUMI sudah negatif US$ 3,35 miliar. Artinya  investor yang ikut rights issue akan membeli saham baru dari perusahaan yang modalnya minus di harga dua kali lipat lebih tinggi dari harga saat ini. Namun demikian  Dileep menandaskan bahwa aksi korporasi ini bermanfaat baik bagi BUMI. "Kami optimistis, setelah restrukturisasi utang selesai, ekuitas akan kembali positif," ujar Dileep, usai RUPSLB di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pergerakan harga batubara dan langkah restrukturisasi utang perseroan pun berjalan paralel dengan kenaikan harga sahamnya. Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, harga saham BUMI naik sembilan kali lipat dari Rp 50 per lembar menjadi di atas Rp 470 per lembar pada posisi awal Februari 2017.Tren kenaikan harga saham BUMI oleh sejumlah analis disebutkan didorong oleh  beberapa sentimen positif tentunya pertama adanya langkah kesepakatan restrukturisasi dengan kreditur, sehingga tahun ini ada harapan saving sebesar US$ 250 juta  dari interest payment yang nantinya dana itu dapat masuk ke bottom line alias laba bersih BUMI.

Berikutnya adalah tingkat produksi batubara perseroan yang diperkirakan mencapai 100 juta metrik ton (MT), naik dari produksi 2016 sebanyak 80 juta MT. Kenaikan produksi ini diyakini akan memberikan tambahan penerimaan BUMI. Dan yang jelas adalah  harga acuan rata-rata batubara tahun ini diprediksikan lebih baik ketimbang 2016. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST (Foto Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 18:42 WIB

Penjualan Tanah Bekasi Fajar Industrial Estate Telah Lampaui Target 2017

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), perusahaan pengelola kawasan industri MM2100, hingga akhir November 2017 telah menjual lahan seluas 42 hektar. Padahal target penjualan tanah 2017…

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Kemenperin Haris Munandar

Jumat, 24 November 2017 - 18:09 WIB

2018, Pertumbuhan Manufaktur Masih Ditopang Sektor Konsumsi

Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun depan. Peran penting sektor strategis ini terlihat…

Menuju Holding BUMN Industri Pertambangan

Jumat, 24 November 2017 - 18:00 WIB

Holding Tambang akan Resmi Efektif Akhir November

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan Holding BUMN Tambang akan resmi efektif mulai akhir November 2017.

PT Vivo Energy Indonesia (Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 17:30 WIB

Vivo Energy Indonesia Akan Bangun 3 Kilang Minyak di Indonesia

PT Vivo Energy Indonesia semakin serius menggarap bisnis hilir migas dengan membangun sebanyak 3 kilang minyak di Indonesia mulai tahun depan.

Kikan Terlibat Drama Musikal Kolosal Tekad Indonesia Jaya,

Jumat, 24 November 2017 - 17:16 WIB

Demi Perannya di Drama Kolosal Kikan Ingin Dibenci Setengah Mati

Demi Penghayatan perannya dalam Drama Kolosal yang bertajuk Tekad Indonesia Jaya yang akan dipentaskan di The Kasablanka Hall Kuningan Jakarta Selatan, Sabtu 25 November 2017 pukul 20.00 WIB,…