Rogok Kocek USD 1 Juta, PT Cementaid Sales and Services Indonesia Bangun Pabrik di MICE

Oleh : Ridwan | Jumat, 15 Maret 2019 - 16:05 WIB

Groundbreaking pabrik PT Cementaid Sales and Serivices Indonesia (Foto: Ridwan/Industry.co.id)
Groundbreaking pabrik PT Cementaid Sales and Serivices Indonesia (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Cikande, PT Cementaid Sales and Services Indonesia yang merupakan produsen material aditif bangunan secara resmi memulai pembangunan pabrik terbarunya di ModernCikande Industrial Estate (MCIE) yang berlokasi di Cikande, Serang, Banten. 

Prosesi ground breaking atau peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan tersebut dilakukan pada Jum’at (15/3), dan turut dihadiri Senior Manager Cementaid Indonesia, Rodel A. dela Pasion, Associate Director of Finance Estella Fung, Associate Director of Sales Cementaid Asia, Anthony Sung, President Director Cementaid Indonesia, Jhon Lindsay Aldred serta Managing Director Cementaid Group, Michael John ALdred, serta beberapa petinggi perusahaan yang menjadi mitra maupun distributor Cementaid di Indonesia.

President Director Cementaid Indonesia, Jhon Lindsay Aldred dalam sambutannya menuturkan, pabrik Cementaid yang dikembangkan di MCIE merupakan pabrik terbaru serta lebih besar dibanding fasilitas produksi pertama yang berada di kawasan Jakarta Timur. 

"Pabrik Cementaid Indonesia berdiri di atas lahan seluas 2.565 m2. Sementara, bangunan pabrik berikut fasilitas pendukung yang akan dikembangkan seluas 1.500 m2," ujar Jhon Lindsay. 

Dengan luas bangunan tersebut, menurutnya, pabrik baru dengan nilai investasi USD 1 juta ini akan memiliki kapasitas produksi sebesar 5.000 ton admixtures (campuran beton) per tahun.

"Merujuk pada jumlah penduduk Indonesia saat ini sebesar 265 juta jiwa, dimana penggunaan material semen juga sangat besar, Cementaid meyakini industri konstruksi di Indonesia akan semakin berkembang ke depannya. Dan, kami optimis dengan rekam jejak lebih dari 70 tahun di seluruh dunia Cementaid akan diterima dengan cukup baik di pasar Indonesia," jelas Jhon Lindsay.

PT Cementaid Sales and Services Indonesia merupakan anak usaha dari Cementaid- perusahaan asal Australia yang didirikan pada tahun 1946. Cementaid mulai berekspansi ke Indonesia pada tahun 1985 yang bermitra dengan perusahaan lokal. Pada 2008, Cementaid Indonesia secara resmi menjadi Perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing). 

Sejak tahun 1985 hingga 2010, Cementaid Indonesia masih mengimpor bahan baku produksinya dari pabrik Cementaid yang berada di Singapura. Dan, mulai berproduksi secara penuh di Indonesia sejak tahun 2010 melalui fasilitas manufakturnya yang berlokasi di Jakarta Timur.

Seiring waktu dan terus meningkatnya kebutuhan teknologi unik dari Cementaid, yaitu pencampuran beton yang dapat mengubah beton berpori menjadi tahan air secara permanen tanpa memerlukan lapisan kedap air konvensional, membuat Cementaid kembali berinvestasi untuk fasilitas manufaktur terbarunya di Modern Cikande Industrial Estate.

Di Indonesia, salah satu produk utama yang dipasarkan Cementaid adalah Hydrophobic Pore-blocking Ingredient (HPI) yang digunakan sebagai material campuran agar beton menjadi tahan air secara permanen. Produk ini cocok diaplikasikan untuk mengantisipasi kebocoran pada basement, dinding diafragma, stasiun bawah tanah, tangki air, kolam renang, taman taman maupun dek pada atap. 

Selain anti bocor, HPI juga dapat melindungi beton dan penguatan baja terhadap korosi yang disebabkan oleh air laut (struktur laut), asam serta bahan kimia korosif lainnya.

"Pada tahun 2019, Cementaid Indonesia menargetkan penjualan sebesar USD 3 juta  atau jauh lebih tinggi dibanding realisasi pendapatan tahun 2018," imbuh Jhon.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut Jhon, salah satu strategi baru kami adalah dengan menyasar para end user yang biasanya sering mengeluhkan biaya penggantian waterproofing dan maintenance berbiaya tinggi terutama pada fasilitas kolam renang, taman atap, basemen dan dak beton. 

"Dan, yang paling penting, bagaimana kami dapat lebih meningkatkan layanan kami kepada masyarakat sehingga mereka dapat selalu mengandalkan Cementaid untuk bangunan mereka," tutur Jhon Lindsay.

Sementara itu, PT Modern Industrial Estat, anak usaha PT Modernland Realty Tbk., menyambut baik dibangunnya pabrik PT Cementaid Sales and Services Indonesia di ModernCikande Industrial Estate (MCIE).

"Keputusan untuk memilih ModernCikande Industrial Estate sangat tepat karena ModernCikande Industrial Estate memiliki banyak keunggulan yang bisa mendukung para investor dalam menjalankan usahanya. Kami juga akan memberikan dukungan yang maksimal agar pembangunan pabrik berjalan lancar dan bisa beroperasi dengan baik," ujar Pascall Willson, Direktur Utama PT Modern Industrial Estat.

Dari total lahan 3.175 hektar, luas lahan yang telah dikembangkan di ModernCikande Industrial Estate saat ini mencapai 40% dengan sisa pengembangan lahan sesuai perijinan masih sekitar 1500-an hektar. 

Dalam kondisi teraktual, lebih dari 200 perusahaan baik lokal maupun multinasional dari berbagai ragam jenis usaha telah mempercayakan ModernCikande Industrial Estate sebagai rumah bagi usaha dan bisnis mereka. ModernCikande Industrial Estate diyakini akan terus berkembang, dari kawasan industri menuju Integrated City. 

MCIE dilengkapi dengan infrastruktur berkualitas dan fasilitas-fasilitas pendukung serta pengaturan kawasan yang terencana dengan sangat baik. Demi menjadikan MCIE sebagai kawasan industri berstandar internasional dan bernilai tambah tinggi serta berwawasan lingkungan, manajemen PT Modern Industrial Estat akan terus menambah berbagai fasilitas penunjang seperti dormitory, rumah sakit, apartemen kelas menengah, dan area perbelanjaan. 

MCIE juga berinovasi dengan mengembangkan Modern Halal Valley, sebuah kawasan industri halal pertama dan terbesar di Indonesia seluas 500 hektar. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Selasa, 19 Maret 2019 - 21:30 WIB

Indonesia Posisi Kedua Sebagai Negara Dengan Optimisme Tinggi Terapkan Industri 4.0

Berdasarkan hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni 78%.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara

Selasa, 19 Maret 2019 - 21:06 WIB

INDI 4.0 Jadi Acuan Kemenperin Ukur Kesiapan Industri Masuk Era Digitalisasi

Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0 khususnya lima sektor yang telah menjadi prioritas berdasarkan peta jalan Making Indonesia…

Kemen Kominfo

Selasa, 19 Maret 2019 - 19:33 WIB

Kominfo Blokir 11.803 Konten Radikalisme dan Terorisme

Jakarta-Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melakukan pemblokiran konten internet yang memuat radikalisme dan terorisme sebanyak 11.803 konten mulai dari tahun 2009 sampai tahun 2019.…

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih

Selasa, 19 Maret 2019 - 16:50 WIB

Lewat Program Santripreneur, Kemenperin Telah Bina Lebih dari 4 Ribu Santri Jadi Wirausaha

Kementerian Perindustrian hingga saat ini telah membina dan memberikan pelatihan tentang kewirausahaan kepada 4.720 santri.

Direktur Utama PT Jababeka Morotai Basuri Tjahja

Selasa, 19 Maret 2019 - 16:48 WIB

Dirut PT Jababeka Morotai Cari Investor untuk Kembangkan Bandara Internasional KEK Morotai

Perhelatan Metal & Energy International Summit 2019 kembali digelar selama dua hari yang berlangsung 19 -20 Maret 2019, di Hotel JS Luwansa. Acara ini menghadirkan sekitar 100 delegasi negara…