HM Sampoerna Tbk Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia

Oleh : Herry Barus | Minggu, 21 Oktober 2018 - 16:30 WIB

HM Sampoerna Tbk Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)
HM Sampoerna Tbk Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta– PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) memiliki komitmen yang besar untuk mendukung upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia.

Pada Kamis (18/10/2018), Sampoerna mengadakan sebuah diskusi interaktif yang melibatkan pakar ekonomi, tokoh dunia usaha, serta pelaku dan komunitas UKM di Jakarta. Diskusi ini bertujuan membahas lebih lanjut mengenai peluang sinergi dan potensi pemberdayaan UKM sehingga berdaya saing, mandiri, berkualitas serta mampu mendorong perekonomian baik nasional maupun daerah.

Elvira Lianita selaku Direktur Urusan Eksternal dan Fiskal PT HM Sampoerna Tbk. menjelaskan, dukungan ini dilakukan melalui pemberdayaan yang berkelanjutan. “Kami berharap, upaya ini akan mampu meningkatkan jumlah pelaku UKM yang berdaya saing tinggi serta turut memutar roda perekonomian di daerahnya masing-masing,” kata Elvira.

Data dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) pada 2016 menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, kontribusi sektor UKM terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat dari 57,84% menjadi 60,34%, sedangkan penyerapan tenaga kerja dari sektor tersebut juga tumbuh dari 96,99% menjadi 97,22%. Hal ini menunjukkan bahwa peran UKM semakin strategis dalam mendukung perekonomian Indonesia.

Pakar pemasaran Yuswohady menuturkan,  “Hal terpenting dari pemberdayaan UKM adalah perubahan paradigma para pelaku UKM, dari yang awalnya berusaha hanya untuk makan sehari-hari (subsistence mindset) menjadi bekerja untuk bertumbuh (growth mindset). Kunci dari perubahan ini adalah pengetahuan, yang bisa diperoleh secara vertikal dari perusahaan seperti Sampoerna maupun secara horizontal dari sesama pelaku UKM yang terkoneksi sebagai satu komunitas.”

Saat ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memberdayakan UKM di Indonesia.Pasalnya, sektor ini masih memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang.

“Oleh karena itu, pemberdayaan ini harus dilakukan secara berkelanjutan dalam bentuk pengembangan kapabilitasmelalui pendampingan dan pemberian akses terhadap sumber daya produktif. Dengan demikian, mereka menjadi mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi yang tersedia.” kata Yuswohady.

Danang Girindrawardana selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO)menyetujui bahwa sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sangatlah penting.

“Dunia usaha memiliki kemampuan dan jejaring untuk membantu pengembangan sektor UKM agar lebih berdaya saing. Untuk merealisasikannya, pendampingan dan pengembangan kapabilitas jangka panjang menjadi kunci. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan dari hulu ke hilir, namun juga perlu ditindaklanjuti dengan membuka pasar untuk mereka,” kata Danang.

Lebih lanjut, Danang berpendapat bahwa best practice pemberdayaan UKM oleh Sampoerna berpotensi untuk lebih diangkat sehingga dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk dikonseptualisasi menjadi suatu regulasi. Akhirnya, sinergi antara sektor swasta dengan para pelaku UKM akan dapat diayomi oleh produk kebijakan.

Yuswohady juga menambahkan, “Menurut saya, hal terpenting dari pemberdayaan UKM adalah perubahan paradigma di antara para pelaku UKM, dari yang awalnya berusaha hanya untuk makan sehari-hari (subsistence mindset) menjadi bekerja untuk bertumbuh (growth mindset). Untuk mengubah paradigma ini diperlukan pengetahuan, yang bisa diperoleh secara vertikal dari perusahaan seperti Sampoerna maupun secara horizontal dari sesama pelaku UKM yang terkoneksi sebagai satu komunitas.”

Bagi Sampoerna, dukungan terhadap UKM adalah komitmen dan investasi jangka panjang. Sebagai bukti konkret, Sampoerna melalui Sampoerna Retail Community (SRC) telah mengembangkan 57 peritel di tahun 2008 hingga menjadi lebih dari 60.000 peritel di tahun 2018 dan tersebar di 408 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

Henny Susanto selaku Head of Commercial Business Development Sampoernamenerangkan, SRC merupakan program pembinaan Sampoerna terhadap peritel tradisional melalui edukasi penataan toko, strategi pemasaran, dan manajemen keuangan.

“Selain best practice dari internal perusahaan, banyak pula terapan ilmu pemasaran yang dibagikan kepada para mitra anggota SRC termasuk sharing session bersama pakar ternama di bidang pemasaran. Dukungan yang kami berikan dapat menumbuhkan kesadaran dan semangat para peritel tradisional untuk terus mengembangkan bisnis yang mereka miliki,” katanya.

Ketut Suarjana yang merupakan salah seorang mitra SRC asal Bali pun menuturkan pengalamannya selama bergabung dengan SRC. “Berkat SRC, usaha saya menjadi berkembang dan mandiri. Kini saya sudah bisa menggerakkan komunitas sekitar untuk memajukan wirausaha mereka dan maju bersama-sama. Saya berharap kerja sama ini akan terus terjalin dengan baik, dan ke depannya akan lebih banyak peluang yang bisa diraih bersama SRC.”

Tak hanya itu, sejak 2007 Sampoerna juga memberikan pelatihan kewirausahaan kepada sekitar 40.000 orang melalui program Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPK Sampoerna). Saat ini, PPK Sampoerna yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur, telah menjangkau 79 kota/kabupaten di Indonesia, serta menerapkan 90 riset terapan yang teruji di bidang pertanian terpadu.

Karyani, wirausahawati binaan PPK Sampoerna yang merintis usaha minuman herbal dengan merk Kesiman Jaya, mengaku menerima manfaat yang tidak hanya meningkatkan usaha kecilnya namun juga membuka peluang kesempatan.

“Saya mulai usaha 18 tahun lalu dengan bermodalkan Rp 50.000 dan keinginan kuat untuk mengolah berbagai hasil bumi yang sangat bermanfaat. Usaha ini akhirnya semakin berkembang ketika saya bermitra dengan PPK Sampoerna. Saya mendapatkan pelatihan menyeluruh untuk lebih memahami pasar, pentingnya pengemasan produk, hingga penggunaan alat untuk proses produksi yang lebih efisien,” kisahnya.

Tak diragukan lagi, SRC dan PPK Sampoerna tumbuh menjadi ekosistem UKM yang secara nyata mampu memperkuat ekonomi kerakyatan Indonesia.Keduanya mampu menggerakkan roda perekonomian lokal serta memberdayakan masyarakat sekitar.

“Ke depannya, Sampoerna ingin merangkul lebih banyak lagi pemangku kepentingan agar cakupan manfaat dari program pemberdayaan yang kami inisiasi bisa merata di seluruh Indonesia,” tutup Elvira.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (Foto Ist)

Minggu, 18 November 2018 - 12:18 WIB

Selaras Pemikiran Rizal Ramli, Pemerintah dan Bank Indonesia Wajibkan Eksportir Bawa Pulang Devisa

Rencana Bank Indonesia (BI) dalam menerbitkan aturan baru yang mewajibkan eksportir membawa devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri pada 1 Januari 2019 selaras dengan ide dan gagasan ekonom…

Peneliti berprestasi ke Taiwan

Minggu, 18 November 2018 - 11:15 WIB

Kementerian Pertanian Berangkatkan Peneliti Berprestasi ke Taiwan

INDUSTRY.co.id -

Taiwan Kementerian Pertanian memberangkatkan Peneliti Berprestasi untuk mempelajari inovasi teknologi pertanian modern khususnya bidang Hortikultura…

Petani Padi (Ilustrasi)

Minggu, 18 November 2018 - 10:46 WIB

Agroekologi Bisa Jadi Solusi Pertanian Masa Depan

Agroekologi sesungguhnya memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Sayangnya, agroekologi masih belum mendapatkan perhatian dan dukungan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:34 WIB

KTT APEC akan Bahas Konektivitas Untuk Pertumbuhan Inklusif

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2018 hari kedua, Minggu (18/11/2018) di Port Moresby, Papua Nugini, antara lain akan membahas konektivitas untuk pertumbuhan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:29 WIB

Presiden Jokowi Hadiri Pertemuan Dewan Bisnis APEC

Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Asia-Pacific Economic Cooperation atau APEC Business Advisory Council (ABAC) di Port Moresby, Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018).