Religiusitas dan Pelancongan di Hari Raya

Oleh : Bintang Handayani | Kamis, 21 Juni 2018 - 16:18 WIB

Bintang Handayani, Ph.D, Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang (Foto Dok Industry.co.id)
Bintang Handayani, Ph.D, Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang (Foto Dok Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Bulan Ramadhan kali ini berakhir pada 15 hari bulan Juni 2018. Penuh berkah seperti biasa menjadi tagline khas harapan atas indahnya beribadah untuk mendapatkan kesejukan dan ketenangan batin.

Hari Raya Idul Fitri yang ditengarai sebagai hari libur termeriah dikawaan negeri-negeri Muslim dan/atau Negara Islam menjadi fenomenal sebabkan bukan hanya berfokus pada aspek jalinan kekeluargaan namun yang terpenting adalah dikarenakan aspek libur, aspek ibadah dan peribadatan, lepas jauh kurang lekat dari ragam rutinitas dan dinamika duniawi, melekat erat dengan kekhusukan ibadah, peribadatan, dan refleksi atas masa akhir atau akhirat.

Terlepas dari interpretasi artifisial ataupun tidak, ibadah adalah hal baik, lembut nan Agung, mejadi rem pakem atas kelajuan ragam rutinitas dan dinamika duniawi. Kajian ilmiah telah banyak menelaah bagaimana hari libur yang melekat dengan aspek religiusitas. Sebagian besar telaah kaji pada spektrum ini menitikberatkan pada fenomena konsumerisme dan religiusitas, meskipun belakangan ini banyak juga yang mulai mengeksplorasi bagaimana aspek religusitas, yaitu contohnya Hari Raya Indul Fitri dengan dinamika pelancongan.

Bulan Juni nan baik ini saya juga (seperti sebagian dari anda) menjadi sering terbang kekampung halaman. Kampung dan halaman, kata-kata khas yang acap kali saya dengar sambil duduk menunggu jadwal penerbangan. Kampung dan halaman sarat lekat dengan aspek autentisitas dan aspek pembentuk pribadi Manusia sebagai individu dan Manusia sebagai mahluk sosial.

Selasa pagi, Senin awal pagi hari, Senin petang, Kamis malam, dan Jumat nan Agung pun menjadi hari nan unik bulan Juni tahun 2018, menyaksikan kerumunan manusia yang berair muka sarat dengan ragam perasaan. Satu dari ragam perasaan yang sempat saya observasi dan menjadi favorit saya adalah air muka lelah namun bersinar bak kanak-kanak yang tak tahan untuk berjumpa dengan sanak famili, kawan-kawan, dan para jiran. Sempat terlitas didalam benak, kah itu refleksi muka saya Kamis malam itu? Hmm begitu festive Bandar udara Sukarno-Hatta, secantik Bandar Udara internasional provinsi lain di Indonesia.

Bandar udara Sukarno-Hatta pun membingkai atmosfir Ramadhan ini dengan menyediakan kotak berisi makananpun saya tak pasti, kah kotak berisi makan Takjil atau makanan utama. Keingintahuan saya sebenarnya berdasar, karena asumsi saya banyak orang Indonesia yang membatalkan puasanya langsung dengan makanan utama, seperi saya, dan (mungkin) juga anda. Namun rejeki saya pun tiada untuk mencicip khas keramahan Bandar udara Sukarno-Hatta petang tadi. Apapun isi kotak makanan bermerek Angkasa Pura nan biru gelap, itu merupakan bingkai bagus nan baik yang bukan hanya memberikan pencerahan dan bukti atas contoh kasus untuk materi kuliah Pencitraan dan Religiusitas yang ingin saya bagun dikemudian hari.

Fenomena lain yang ingin saya bagi adalah aspek religiusitas, pelancongan, dan hari Raya Idul Fitri ini. Ketiga aspek khas melekat pada Indonesia dan negeri Jiran ini sebenarnya bukan kurang dikaji, khususnya tentang tata kelolanya. Sedikit membunuh waktu kala menunggu di Bandara, saya mencoba berbagai hal yang biasanya tak saya lakukan. Contoh kecilnya secara tidak sengaja saya mencoba Vending Machine yang hanya dapat memproses transaksi saya dengan nominal uang pas.

Interaksi sosial pun tak terelakkan dan saya menukar uang saya dengan seorang Perempuan separuh baya nan baik hati. Ya garis-garis pada raut muka lelah namun penuh harapan yang tadi saya bicarakan itulah tersirat sebagai salah satu kategori populasi yang saya observasi. Singkat cerita, Ibu tersebut tidak berpuasa, tepatnya beliau merayakan Natal, namun musim libur hari Raya nampaknya telah menjadi milik bersama Rakyat Indonesia, beliau sekeluraga dan beberapa rombongan keluarga lainpun ikut melakukan perjalanan, apapun konteks perjalanannya.

Hal ini senadi dengan fenomena keramaian di kedai-kedai makan saat jelang puasa di pusat perbelanjaan dan tempat belanja Baju Raya di Jakarta, Bali, Medan, dan/atau Kuala Lumpur. Beberapa sampel yang saya kaji menyatakan informasi demografik keramaian di kedai-kedai makan dan pusat perbelanjaan tidak semestinya populasi homogen Muslim yang sedang berpuasa dan melakukan persiapan jelang hari kemenangan. Hal ini menjelaskan bagaimana aspek religiusitas dan pelancongan di Hari Raya dan/atau bulan Ramadhan menjadi potensial untuk diulang-kaji.

Isu lain yang patut untuk dicatat adalah spending perputaran uang yang beredar pada sisi ekosistem Hospitaliti dan Pelancongan. Menarik garis tipis dari ekosistem Hospitaliti dan Pelancongan Indonesia khususnya pada aspek pelancong domestik; menarik namun tidak mengejutkan kenyataan tentang isu klasik mengapa Orang Indonesia lebih memilih untuk melancong ke negeri Jiran atau pun sekalian berpenjalanan menuju negeri barat dan/atau negeri timur tengah adalah dikarenakan kalkulasi cost dan benefit. Dilematis sungguh, dapat dipahami, isu klasik melekat pada Negeri besar nan kaya akan alam dan SDM. Dengan tidak mengklaim kebenaran hakiki, isu tentang infrastruktur yang kurang memadai dan intergrasi inovasi teknologi yang belum optimal sepatutnya menjadi kunci reflektif untuk menggarap pasar domesitik. Tentunya momen hari Raya yang merupakan hari libur nasional selayaknya menjadi fokus untuk dihubung-kaitkan dengan isu tersebut diatas dan ide alternatif meransang nadi bisnis Hospitaliti dan Pelancongan Indonesia. Dengan pemahaman tersebut, harap-harap ketergantungan/kelesuan nadi bisnis Hospitaliti dan Pelancongan Indonesia pada wisatawan asing dapat (sementara) diatasi. Dengan kalkulasi jumlah wisatawan domestik, nadi bisnis Hospitaliti dan Pelancongan Indonesia akan terangkat, untuk kemudian merangsang kedatangan wisatawan asing dengan pendekatan kluster pemasaran strategis.

Selamat hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, mari melihat dengan mikroskop sambil membenahi teleskop.

Bintang Handayani, Ph.D Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Petani (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 19 September 2018 - 10:06 WIB

Kementan Stabilisasi Harga Bawang dan Cabai

Harga komoditas bawang merah dan cabai menurun beberapa minggu terakhir. Salah satunya terjadi di Bima, harga bawang merah jatuh sehingga mengakibatkan masyarakat menghamburkan bawang merah…

BNI Syariah Raih Penghargaan di Alpha Southeast Asia Award 2018

Rabu, 19 September 2018 - 10:00 WIB

BNI Syariah Raih Penghargaan di Alpha Southeast Asia Award 2018

BNI Syariah meraih penghargaan sebagai The Best Islamic Finance Commercial Bank in Indonesia tahun 2018 di wilayah Asia Tenggara dalam acara 12th Annual Best Financial Institution Awards & 8th…

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Rabu, 19 September 2018 - 09:42 WIB

PANI-DIGI Resmi Diperdagangkan di BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan saham perdana dua perusahaan yakni PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) dan PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI) Direktur Penilaian Perusahaan…

Salyadi Saputra, Direktur Utama Pefindo (Kompas.com)

Rabu, 19 September 2018 - 09:39 WIB

Pefindo Perkirakan Penerbitan Obligasi Capai Rp140 Triliun

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi pada 2018 mencapai Rp140 triliun atau turun 13,04 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp161,36 triliun.

Rupiah (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 19 September 2018 - 09:10 WIB

Banggar DPR Setujui Asumsi Kurs Rp14.500

Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR RI menyetujui asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2019 sebesar Rp14.500 per dolar AS, atau lebih tinggi dari asumsi awal yang disepakati dalam Komisi XI sebesar…