INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, terdapat 600 ribu penduduk Indonesia yang berobat ke luar negeri setiap tahun.

Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong peningkatan kapasitas dan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri. Hal ini dilakukan dengan mendukung masuknya investor asing sebagai pengelola rumah sakit melalui penyederhanaan peraturan. 

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong agar pekerja profesional asing dapat bisa bekerja di sektor kesehatan di dalam negeri.

"Kami tidak ingin 600 ribu orang Indonesia ke negara-negara ASEAN hanya untuk melakukan medical check-up, jadi kami akan membuka kesempatan untuk rumah sakit asing dan investor untuk datang," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam acara US-Indonesia Investment Summit secara virtual, Senin (13/12).

Menkes mengatakan, langkah ini merupakan upaya pemerintah mentransformasi layanan kesehatan di Indonesia. Pemerintah ingin meningkatkan jumlah layanan kesehatan dan mendorong distribusi yang lebih baik di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa, terdapat lima pilar transformasi kesehatan di Indonesia antara lain; 

Pertama, Transformasi utama kesehatan. 

Pilar pertama ini dengan mendorong upaya pencegahan. "Kami akan menggeser bujet kita untuk fokus ke dalam promosi dan preventif dibandingkan langkah kuratif, jadi konsentrasi kami yakni menciptakan masyarakat yang sehat," kata Budi.

Untuk merealisasikan langkah tersebut, Kemenkes fokus untuk mengedukasi pada tujuh kampanye kesehatan yang utama. Ini meliputi imunisasi, keseimbangan nutrisi, olahraga, tidak merokok, sanitasi, pemantauan penyakit dan kepatuhan medis.

Kemenkes juga meningkatkan imunisasi rutin menjadi 14, meningkatkan pemantauan kesehatan untuk 14 penyakit utama yang menyebabkan kematian, pemantauan stunting dan juga pemeriksaan ibu hamil menjadi enam kali. Kemenkes juga mendorong perluasan puskesmas, khususnya di 171 kelurahan atau kecamatan.

Kedua, Tansformasi untuk ketahan sistem kesehatan. 

Pilar ini diwujudkan dengan meningkatkan kapasitas produksi farmasi dan lab untuk pengetesan dan juga menambah tenaga kerja untuk respons saat keadaan darurat. Belajar dari pandemi, Budi menginginkan agar RI bisa menyediakan berbagai obat-obatan sendiri ketika kembali dilanda krisis kesehatan.

"Kami juga akan memberikan insentif ke perusahaan-perusahaan untuk memindahkan manufakturnya ke Indonesia, karena kami butuh memiliki sistem resiliensi kesehatan ini," kata Budi.

Ketiga, Transformasi pembiayaan kesehatan. 

Kemenkes memastikan berbagai aktivitas untuk promotif dan preventif juga akan ikut serta dalam pemboiayaan oleh BPJS Kesehatan, yang mana selama ini hanya fokus pada menangani aktivitas preventif.

"Hubungan antara BPJS dan juga asuransi kesehatan sektor swasta juga akan kita buat, jadi kita bisa berbagi risikonya dan juga berbagi preminya," kata Budi.

Keempat, Reformasi talenta.

Dilakukan dengan menyediakan beasiswa bagi tenaga kesehatan dalam negeri untuk bisa belajar di luar negeri. Selain itu, pemerintah juga akan mendatangkan pengajar-penagajr asing bagi pelajar-pelajar kedokteran di Indonesia.

Kelima, Reformasi teknologi kesehatan. 

Budi mengatakan, adanya berbagai inovas iteknologi akan mengubah secara drastis industri kesehatan, bukan hanya telemedicine tapi juga diagnostik kesehatan. Pemerintah juga akan mulai fokus pada pengembangan bioteknologi sebagai upaya memaksimalkan keberagaman genomik yang ada di Indonesia.