INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (27/10/2021) yang dihadiri oleh 95 Pemegang Saham atau 100% dari jumlah pemegang saham pemilik hak suara. Dalam RUPSLB tersebut, para pemegang saham telah menyetujui Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2022 BEI yang merupakan satu-satunya agenda RUPSLB tersebut.
Di tengah optimisme pemulihan ekonomi nasional serta perkembangan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia yang kian membaik pada tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta stakeholders Pasar Modal Indonesia berhasil menorehkan sejumlah pencapaian.
Pencapaian ini dimulai dengan peluncuran Klasifikasi Industri Baru atau IDX Industrial Classification (IDX-IC) sebagai acuan baru dalam mengklasifikasikan Perusahaan Tercatat di BEI, peluncuran Whistleblowing System (WBS) sebagai sarana pelaporan informasi publik terkait indikasi tindakan yang bertentangan dengan tata kelola BEI, peluncuran IDX-MES BUMN 17 sebagai satu indeks syariah baru, hingga peluncuran notasi khusus baru, yaitu Notasi “X” untuk Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus sesuai dengan peraturan baru Bursa nomor II-S.
Pencapaian yang tak kalah bergengsi lainnya ialah BEI meraih The Best Islamic Capital Market di ajang Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2021. Ini menjadikan BEI sebagai penerima penghargaan tersebut selama tiga tahun berturut-turut sejak 2019.
Pada September 2021, PT BJB Sekuritas Jawa Barat telah resmi menjadi Perusahaan Efek Daerah (PED) pertama BEI dan menjadikan PT Mandiri Sekuritas sebagai Anggota Bursa Sponsor Pertama PED. Terdapat pula penyesuaian metodologi pembobotan indeks di BEI menjadi free float yang dilakukan bertahap hingga Mei 2022. Ke depan, BEI senantiasa melakukan inovasi dan pengembangan agar dapat terus meraih pencapaian.
Pada 2022, BEI selaku salah satu regulator Pasar Modal Indonesia akan berfokus kepada tema pengembangan yang telah ditetapkan, yakni “Memperluas produk dan partisipan, serta meningkatkan layanan non-cash equities”.
Kegiatan pada 2022 akan difokuskan pada perluasan produk dan layanan BEI untuk memenuhi kebutuhan pelaku di sektor jasa keuangan yang meliputi penambahan indeks acuan baru, pengayaan produk data informasi Kebursaan, enhancement pada Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) untuk mendukung pengembangan perdagangan Efek Non-Ekuitas, enhancement Taksonomi dan Sistem XBRL, pengembangan produk Derivatif dan Waran Terstruktur, enhancement Sistem e-IPO untuk mendukung proses Penawaran Umum, hingga pengembangan Papan Pemantauan Khusus sebagai bentuk perlindungan investor.
Dengan memperhatikan arah pengembangan pada 2022 serta asumsi perkembangan penangangan pandemi COVID-19 di Indonesia, maka BEI mengasumsikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada 2022 mencapai Rp13,5 triliun dengan total jumlah hari Bursa sebanyak 250 hari.
Selain itu, untuk target Pencatatan Efek Baru di tahun 2022 adalah 68 Efek yang terdiri dari pencatatan saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), serta Efek Beragun Aset (EBA). Sebagai upaya untuk mencapai target Pencatatan Efek Baru tersebut, maka akan dilakukan berbagai rangkaian kegiatan kepada Perusahaan Tercatat dan Calon Perusahaan Tercatat, meliputi peningkatan kapasitas infrastruktur di area Pencatatan Perusahaan, serta melakukan sosialisasi, one-on-one meeting, dan workshop yang saat ini telah rutin dilakukan secara virtual melalui media daring.
Sementara itu, BEI juga secara berkesinambungan mendukung pengembangan serta kepatuhan Anggota Bursa dan Partisipan. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan pelatihan, sosialisasi, pertemuan rutin, dukungan jasa informasi, serta dukungan teknis dalam pengembangan sistem dan layanan kebursaan.
Kemudian, BEI juga terus menekankan komitmennya dalam melakukan pengembangan pasar sebagai upaya meningkatkan partisipasi investasi masyarakat di Pasar Modal Indonesia, sekaligus mengedepankan upaya perlindungan investor.
Hal ini dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat atau calon investor serta investor secara efektif dan berkesinambungan. Selanjutnya, BEI juga senantiasa memperhatikan tren perkembangan teknologi terkini sebagai upaya dalam meningkatkan layanan kebursaan yang optimal kepada seluruh stakeholders.
Dengan memperhatikan seluruh target dan rencana kegiatan tersebut, maka total pendapatan usaha BEI pada 2022 diproyeksikan naik Rp158,8 miliar atau 11,4% menjadi Rp1,55 triliun. Biaya Usaha diprediksi meningkat Rp122,6 miliar atau 11,85% menjadi Rp1,16 triliun. Laba sebelum Pajak diperkirakan mencapai Rp496,64 miliar dan setelah dikurangi estimasi Beban Pajak sebesar Rp107,07 miliar, maka Laba Bersih BEI pada 2022 diproyeksikan sebesar Rp389,56 miliar.
Sementara itu, total aset BEI pada 2022 diperkirakan sebesar Rp4,24 triliun atau lebih tinggi 10,29% dibandingkan dengan (RKAT) 2021. (Abraham Sihombing)