INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Semarang Raya memasuki babak baru sebagai salah satu koridor industri paling prospektif di Pulau Jawa. Kawasan ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai alternatif berbiaya rendah dibandingkan kawasan industri yang lebih matang seperti Jabodetabek, melainkan mulai menarik investasi berkat kesiapan infrastruktur, ekosistem industri yang terintegrasi, serta ruang ekspansi yang masih sangat luas.
Dalam laporan terbaru Colliers Indonesia, aktivitas industri di Semarang Raya tetap menunjukkan ketahanan sepanjang semester I 2026 meski sektor manufaktur global masih dibayangi ketidakpastian. Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 51 hektare atau hampir separuh dari rata-rata penyerapan tahunan historis kawasan tersebut, mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor terhadap prospek manufaktur jangka panjang di Jawa Tengah.
"Semarang Raya tidak lagi bersaing hanya melalui harga lahan yang murah. Daya saing kawasan kini semakin ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, ekosistem industri yang terintegrasi, serta peluang ekspansi jangka panjang bagi investor," tulis Colliers dalam laporannya.
Daya tarik kawasan ini didukung sejumlah faktor, mulai dari biaya tenaga kerja yang kompetitif, konektivitas jalan tol yang terus membaik, akses menuju Pelabuhan Tanjung Emas dan Bandara Internasional Ahmad Yani, hingga ketersediaan lahan industri berskala besar. Kehadiran dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni KEK Kendal Industrial Park dan KEK Batang Industropolis, juga memperkuat daya saing melalui insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan lingkungan industri yang terintegrasi.
Colliers mencatat industri padat karya seperti tekstil dan garmen masih menjadi kontributor utama permintaan lahan. Namun, struktur permintaan mulai semakin beragam dengan meningkatnya minat dari sektor elektronik, farmasi, komponen otomotif, logistik, furnitur, pengemasan hingga infrastruktur digital seperti pusat data (data center).
Menurut Colliers, perubahan tersebut menandai transformasi struktural industri Semarang Raya menuju basis manufaktur yang lebih seimbang dan tidak lagi bergantung pada satu sektor industri saja.
"Transformasi paling penting bukan hanya terlihat dari meningkatnya penyerapan lahan, tetapi dari semakin beragamnya sektor industri yang masuk ke kawasan ini, termasuk data center yang mulai menjadi sumber permintaan baru," ungkap Colliers.
Laporan tersebut juga menyoroti perubahan strategi para pengelola kawasan industri. Jika sebelumnya fokus utama adalah menjual lahan, kini pengembang mulai beralih menjadi penyedia ekosistem bisnis terpadu yang mencakup utilitas, jaringan logistik, infrastruktur lingkungan, konektivitas digital, layanan bisnis, hingga pengembangan rantai pasok.
"Pengembang kawasan industri tidak lagi sekadar menjual lahan, tetapi membangun ekosistem bisnis yang mampu mendukung seluruh siklus investasi pelaku usaha," tulis Colliers.
Di sisi lain, produsen asing, terutama dari China, kini semakin banyak menerapkan strategi investasi bertahap. Alih-alih langsung membeli lahan dan membangun pabrik permanen, mereka lebih memilih menyewa gudang atau bangunan pabrik siap pakai untuk menguji pasar, membangun jaringan pemasok, dan merekrut tenaga kerja sebelum melakukan investasi yang lebih besar.
Perubahan strategi tersebut membuka peluang bisnis baru bagi pengembang kawasan industri melalui penyediaan gudang modern dan bangunan pabrik siap pakai, sehingga sumber pendapatan tidak lagi hanya berasal dari penjualan lahan.
Hingga semester I 2026, Semarang Raya memiliki pasokan kawasan industri sekitar 4.100 hektare dengan Batang menjadi wilayah yang memiliki stok lahan terbesar. Dalam beberapa tahun ke depan, pengembangan bertahap di Batang, Kendal, Semarang, dan Demak diperkirakan akan menambah sekitar 2.700 hektare lahan industri baru sehingga ketersediaan lahan masih memadai untuk menopang investasi jangka menengah.
Meski investasi infrastruktur terus berjalan dan permintaan investor meningkat, harga lahan industri di Semarang Raya relatif stabil karena pengembang masih memiliki cadangan lahan yang luas. Kondisi tersebut dinilai memberikan kepastian bagi investor dalam merencanakan ekspansi manufaktur jangka panjang tanpa tekanan kenaikan harga lahan yang signifikan.
Selain menopang sektor manufaktur, Colliers melihat pertumbuhan kawasan industri mulai memberikan efek berganda terhadap sektor properti. Permintaan hunian eksekutif meningkat seiring bertambahnya ekspatriat, tenaga ahli, dan manajemen perusahaan, sementara pusat komersial, ritel, restoran, layanan pendukung, hingga kawasan kota terpadu diproyeksikan ikut berkembang mengikuti pertumbuhan aktivitas industri.
Ke depan, Colliers menilai Semarang Raya memiliki peluang besar memanfaatkan diversifikasi rantai pasok global melalui strategi China+1, pertumbuhan pasar domestik Indonesia, serta meningkatnya investasi pada infrastruktur digital.
"Daya saing jangka panjang Semarang Raya tidak lagi ditentukan oleh biaya yang murah, tetapi oleh kualitas ekosistem industri, kesiapan infrastruktur, dan kemampuannya menarik industri manufaktur bernilai tambah serta industri digital. Dengan transformasi ini, Semarang Raya berpeluang menjadi salah satu koridor industri paling kompetitif di Indonesia dalam satu dekade mendatang," tutup Colliers.