INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) industri sebagai strategi menjaga daya saing manufaktur nasional sekaligus mendukung target Indonesia Emas 2045.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pendidikan vokasi dan kerja sama internasional dengan Pemerintah Swiss dan Jerman.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), otomatisasi industri, transisi menuju ekonomi hijau, hingga perubahan rantai pasok global menuntut Indonesia memiliki tenaga kerja yang adaptif dan berdaya saing tinggi.
"Penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri," kata Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (21/7).
Untuk mempercepat peningkatan kompetensi SDM industri, Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) menjalin kerja sama dengan State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact dari Swiss, serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dari Jerman.
Kolaborasi tersebut bertujuan meningkatkan standar kompetensi tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, kerja sama yang telah berlangsung sejak 2018 itu memberikan dampak nyata terhadap ekosistem pendidikan vokasi industri di Indonesia.
Menurutnya, berbagai program telah menghasilkan peningkatan kapasitas ribuan guru, instruktur, hingga peserta didik. Selain itu, sekolah vokasi juga memperoleh hibah peralatan praktik modern yang sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur.
"Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri, keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan," ujar Doddy.
Ia menjelaskan, BPSDMI kini terus memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) melalui penerapan sistem pendidikan ganda (dual system), pelatihan In-Company Trainer, penguatan Career Development Center (CDC), hingga digitalisasi layanan pendidikan vokasi.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan penyerapan lulusan agar langsung dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur nasional.
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi tersebut, BPSDMI bersama Pemerintah Swiss dan Jerman menggelar National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 pada 21-23 Juli 2026.
Forum nasional ini menjadi ajang konsolidasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri dalam memperkuat implementasi sistem pendidikan vokasi ganda, menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri modern, sekaligus merumuskan arah kebijakan pengembangan SDM vokasi yang berkelanjutan.
Head of Cooperation (Economic Cooperation and Development) SECO, Violette Ruppanner mengatakan, investasi pada keterampilan merupakan investasi bagi masa depan ekonomi.
"Sepanjang kemitraan ini, kita memiliki satu ambisi sederhana, yaitu mendekatkan dunia pendidikan dan industri. Ketika perusahaan ikut menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, dan berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak akan memperoleh manfaat," ujarnya.
Sementara itu, Deputy Country Director GIZ Indonesia, Shameer Khanal menilai, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci keberhasilan transformasi industri, termasuk menuju ekonomi hijau.
"Tidak ada transisi hijau yang dapat berhasil tanpa tenaga kerja yang dibekali pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang tepat. Transformasi hanya dapat dicapai melalui kemitraan yang kuat," katanya.
Sekretaris BPSDMI Sidik Herman berharap berbagai praktik baik yang dibahas dalam forum tersebut dapat diterapkan lebih luas oleh institusi pendidikan maupun dunia usaha.
"Kami membuka peluang kolaborasi yang lebih luas karena tantangan pengembangan SDM industri ke depan semakin kompleks dan hanya bisa dijawab melalui kemitraan yang kuat," ujar Sidik.
Selama tiga hari pelaksanaan National DVET 2026, para peserta membahas berbagai isu strategis, mulai dari In-Company Trainer, Teaching Factory, Industrial Based Curriculum, Structured Internship, hingga pengembangan Green Jobs di kawasan industri berbasis lingkungan.