INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan bahwa fundamental industri manufaktur nasional tetap menunjukkan kinerja yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II tahun 2026 industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen.
*“Pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Terakhir kali pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional terjadi sekitar 14 tahun lalu. Ini menjadi sinyal yang sangat positif bagi industri kita,” ungkap Menperin Agus dalam keterangannya, dikutip Senin (7/9/2026).
Selain pertumbuhan, indikator lainnya seperti kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB), kinerja ekspor, realisasi investasi, dan penyerapan tenaga kerja juga menunjukkan perkembangan positif.
Fokus utama peningkatan kinerja industri manufaktur Indonesia turut tercermin dari penciptaan nilai tambah atau Manufacturing Value Added (MVA).
Berdasarkan data Bank Dunia, MVA Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar USD275,61 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai USD265,07 miliar.
Capaian ini membuat posisi Indonesia meningkat dari peringkat ke-13 dunia pada 2024 menjadi peringkat ke-12 dunia pada 2025 dalam penciptaan MVA.
“Ini bukan data Kementerian Perindustrian dan bukan pula data BPS, tetapi data Bank Dunia. Artinya, kemampuan industri manufaktur Indonesia dalam menciptakan nilai tambah terus mengalami peningkatan,” tutur Menperin.
Di kawasan ASEAN, nilai MVA Indonesia juga berada pada posisi tertinggi. Bahkan, menurut Agus, nilai tambah manufaktur yang dihasilkan Indonesia sekitar dua kali lipat dibandingkan Thailand.
Sementara di kawasan Asia, Indonesia berada pada posisi kelima setelah Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
“Kalau kita disiplin menjalankan program dan kebijakan industrialisasi yang telah ditetapkan, saya yakin dalam waktu ke depan kita dapat semakin mendekati capaian MVA negara-negara industri utama di Asia tersebut,” ujarnya.