INDUSTRY.co.id - Jakarta - Packaging and Waste Collection Manager, Sustainable Development Department Danone Indonesia, Annie Wahyuni mengatakan, ada tiga poin yang menjadi harapan untuk meningkatkan ekonomi sirkular. 

Advertisement

"Pertama, regulasinya harus mendukung sirkular ekonomi daei mulai mau desain. Kedua, kesadaran masyarakat mengelola sampahnya sendiri, dan ketiga industri harus memikirkan sirkular ekonomi dari lahir produknya," katanya pada acara pelatihan pelatihan pengolahan sampah dan ekonomi sirkular yang digelar Danone, (12/7).

Disisi lain, tambah Annie, industri daur ulang juga memiliki andil yang cukup besar dalam penerapan ekonomi sirkular. "Industri daur ulang bisa membantu mengurangi kemiskinan," ungkapnya.

Advertisement

Saat ini, jelas Annie, produk botol hasil daur ulang sudah sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Bahkan di atas penilaian BPOM," ujar Annie.

Sementara itu, Koperasi Pemulung Berdaya yang berada di Tangerang Selatan merupakan salah satu Recycling Business Unit (RBU) Danone. Dari bisnis daur ulang, koperasi tersebut berhasil kantongi omset Rp 1,2 miliar per bulan.

Advertisement

Koperasi yang berada di Desa Kademangan, Setu, Tangsel ini didirikan tahun 2011. Koperasi ini di pimpin oleh Listiarsih.

Tempat ini mendaur ulang sampah botol plastik dan pengepresan sampah botol plastik. Produk yang dihasilkan palstik cacahan dan bale press yang dipasok untuk pabrik pembuat botol kemasan dan pabrik pembuat benang polyster. 

Advertisement

Finance Koperasi Pemulung Berdaya Juleha mengatakan, volume produksi pada 2020 mencapai 1.318 ton. Trennya setiap tahun mengalami peningkatan.

"Dari 2016 terus naik. Hanya pada 2019 turun jadi 901 ton. Ini karena masalah mesin rusak," katanya.

Pasokan bahan baku sampah koperasi ini dipasok supplier. Jumlah supplier juga terus meningkat. Jika pada 2016 hanya 102 supplier, maka pada tahun lalu jumlahnya naik jadi 120.

"Selain dari pelapak juga dari bank sampah. Pasokan dari bank sampah pada tahun lalu mencapi Rp 420 ton," ujarnya.

Omset dari koperasi ini pun terus meningkat setiap tahunnya. Jika pada 2016 sebesar Rp 650 juta, maka pada tahun lalu omsetnya naik mencapai Rp 1,2 miliar.

Ke depannya, pihaknya akan terus meningkatkan jumlah sampah. Karena itu pihaknya akan memperluas bank sampah dan perluas kerja sama dengan mitra. Saat ini pihaknya sudah bekerja sama soal sampah dengan beberapa mitra misalnya Pizza Hut, Shell, toko kelontong dan masih banyak lagi.