INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga membentuk pola pikir baru Generasi Z dalam membangun karier. 

Penelitian terbaru dari International Workplace Group (IWG), platform kerja fleksibel terbesar di dunia, menunjukkan bahwa profesional muda kini semakin meninggalkan konsep karier linier dan memilih jalur yang lebih dinamis melalui karier portofolio.

Model karier ini memungkinkan seseorang memiliki lebih dari satu sumber pendapatan dengan menggabungkan pekerjaan utama, proyek lepas, bisnis, hingga pekerjaan sampingan (side hustle). 
Tujuannya bukan sekadar mengejar penghasilan tambahan, tetapi juga membangun ketahanan finansial dan meningkatkan daya saing di tengah perubahan dunia kerja yang dipengaruhi AI.

Riset IWG menemukan bahwa AI menjadi salah satu faktor terbesar yang mengubah arah karier profesional muda. Sebanyak 55% responden Generasi Z percaya bahwa perkembangan AI akan memengaruhi perjalanan karier mereka di masa depan.

Kesadaran tersebut membuat mereka lebih proaktif mempelajari keterampilan baru sekaligus memperluas sumber pendapatan. Kini, kesuksesan karier tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas, kemampuan beradaptasi, pola pikir kewirausahaan, serta kemampuan bekerja berdampingan dengan teknologi.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa:
• 33% Generasi Z telah memiliki atau sedang mempertimbangkan pekerjaan sampingan.
• 48% terdorong mencari penghasilan tambahan untuk menghadapi inflasi, kenaikan biaya hidup, dan beban utang pendidikan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa karier portofolio semakin menjadi strategi utama bagi Generasi Z dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membuka peluang karier baru.

Meski AI berkembang sangat pesat, penelitian IWG menunjukkan keterampilan manusia tetap memiliki nilai yang sulit tergantikan.

Sebanyak 90% pemimpin SDM menilai perusahaan akan kehilangan daya inovasi apabila mengabaikan pengembangan keterampilan manusia. Selain itu:
• 65% menyebut AI belum mampu menggantikan empati manusia.
• 53% percaya kepemimpinan tetap menjadi kemampuan yang hanya dimiliki manusia.

Artinya, kombinasi antara penguasaan teknologi dan soft skills menjadi modal utama Generasi Z untuk bertahan dalam dunia kerja modern.

Penelitian tersebut juga mengungkap mobilitas karier Generasi Z semakin tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, 30% responden yang berpindah pekerjaan mengaku motivasi utamanya adalah memperoleh penghasilan yang lebih besar.

Bahkan, 43% telah berganti pekerjaan sebanyak dua hingga tiga kali dalam periode tersebut.
Namun, perpindahan kerja kini tidak lagi mengikuti jenjang karier tradisional. Banyak profesional muda menerapkan konsep career lily pads, yaitu berpindah secara strategis antarperan, industri, maupun proyek untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas pengalaman.

Selain mengejar penghasilan, Generasi Z juga semakin mengutamakan keseimbangan hidup. Mereka menilai perjalanan pulang-pergi ke kantor yang memakan waktu berjam-jam sudah tidak lagi relevan.

Sebanyak 65% responden mengatakan mereka akan lebih sulit membangun bisnis atau memiliki beberapa pekerjaan jika diwajibkan melakukan perjalanan jauh setiap hari.

Sebaliknya, model kerja hibrida dinilai memberi lebih banyak ruang untuk berkembang:
• 24% menyatakan kerja hibrida mengurangi waktu perjalanan sehingga bisa dimanfaatkan untuk proyek pribadi atau side hustle.
• 20% merasa lebih mudah mencoba jalur karier baru tanpa meninggalkan pekerjaan utama.
• 21% memperoleh kesempatan berkolaborasi dengan profesional dari industri berbeda.

Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Penelitian tambahan IWG bahkan menunjukkan 75% Generasi Alpha berusia 11–17 tahun ingin meminimalkan waktu perjalanan menuju tempat kerja ketika mereka memasuki dunia profesional.

Perubahan pola kerja tersebut turut mendorong meningkatnya kebutuhan ruang kerja fleksibel yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal pekerja.

Menjawab tren tersebut, IWG menambah lebih dari 1.100 lokasi baru sepanjang 2025 dan mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Country Manager IWG Indonesia, Yoga Priyautama, mengatakan Generasi Z memasuki dunia kerja di tengah perubahan besar akibat percepatan teknologi AI.

"Generasi Z memasuki dunia kerja di tengah periode transformasi yang signifikan. Dengan AI yang semakin cepat mengubah berbagai industri dan peran pekerjaan, mereka beradaptasi dengan mengembangkan keterampilan baru, membangun beragam sumber penghasilan, serta menciptakan karier portofolio untuk memperkuat nilai tambah mereka."

Menurutnya, fleksibilitas kerja memungkinkan profesional muda mengurangi waktu perjalanan, memiliki lebih banyak kesempatan meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan kolaborasi, hingga membuka peluang bisnis maupun karier baru.