INDUSTRY.co.id - Jakarta – Tumpukan sekam padi, tanah yang dipres, hingga serat alami yang selama ini kerap dipandang sebagai material sederhana, di tangan para desainer justru menjelma menjadi sebuah lanskap hidup yang mengajak publik memaknai kembali hubungan manusia dengan alam. Gagasan itulah yang dihadirkan Moire Rugs bersama product designer Eugenio Hendro melalui instalasi kolaboratif “Tapak Tumbuh: A Landscape by MOIRE & Friends”.
Karya tersebut diperkenalkan untuk pertama kalinya melalui Singgah Session yang digelar di showroom Moire Rugs, Dharmawangsa, Jakarta, sebagai pengantar menuju penampilan penuh instalasi di ajang JIA Curated Bali 2026 pada 13–17 Agustus mendatang di Pantai Pengembak, Sanur, Bali.
Lebih dari sekadar instalasi desain, Tapak Tumbuh dirancang sebagai sebuah lanskap hidup dalam transformasi yang menampilkan perjalanan material dari bentuk alaminya hingga menjadi elemen ruang yang fungsional dan artistik. Pengunjung diajak menyusuri proses lahirnya sebuah karya, mulai dari asal material, tahapan pengolahan, tujuan penggunaannya, hingga peran tangan manusia yang menjadi penghubung antara alam dan desain.
Product designer dan konseptor Tapak Tumbuh, Eugenio Hendro, mengatakan instalasi ini berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan material tidak seharusnya menjauhkan manusia dengan asal-usulnya.
“Tapak Tumbuh bukan tentang menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa inovasi tetap berakar pada tanah, material, dan proses yang melahirkannya. Kami ingin menunjukkan bahwa kemajuan justru dapat tumbuh dari kedekatan dengan alam,” ujarnya.
Narasi tersebut diwujudkan melalui kolaborasi lintas disiplin yang menghadirkan beragam eksplorasi material. Planawood mengolah limbah sekam padi menjadi material struktural untuk kerangka paviliun, sementara Singres Tiles menghadirkan hand-pressed tiles edisi khusus JIA Curated yang membentuk permukaan mosaik berbasis tanah.
Di sisi lain, Moire Rugs mengeksplorasi akar, daun, dan serat alami menjadi tekstil spasial yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dialami sebagai lanskap. Seluruh gagasan itu diterjemahkan menjadi konstruksi yang presisi dan terbangun utuh oleh Presisi Contractor.
Kolaborasi juga diperkuat oleh Fumira, Rafes England, dan Visalux. Ketiganya melengkapi pengalaman ruang melalui eksplorasi material pelapis bangunan, elemen hardware, serta tata cahaya yang menonjolkan karakter setiap material sekaligus memperkuat atmosfer instalasi.
Owner Moire Rugs, Tama Florentina, mengatakan “Bagi Moire Rugs Tapak Tumbuh bukan sekadar kolaborasi, tetapi wujud arah eksplorasi material kami ke depan. Melalui instalasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa material alami dan tekstil bukan hanya elemen estetis, melainkan bagian dari ekosistem ruang yang hidup”.
Co-Founder Planawood Juan Apriliano menilai limbah sekam padi menyimpan potensi besar apabila dipandang sebagai sumber daya, bukan sekadar sisa produksi.
“Bagi kami, sekam padi bukan limbah akhir, melainkan awal dari kemungkinan baru. Masa depan material tidak selalu harus lahir dari sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga dari cara baru menghargai apa yang telah tersedia di sekitar kita,” katanya.
Kehadiran Tapak Tumbuh juga selaras dengan tema besar JIA Curated yang mengangkat pertemuan antara kriya, desain, dan budaya melalui pengalaman ruang yang imersif. Tahun ini, JIA Curated akan digelar dalam skala lebih besar dengan menghadirkan lebih dari 70 display, melibatkan sekitar 150 brand dari Indonesia maupun mancanegara, serta menempati area seluas lebih dari 10.000 meter persegi.
“Nantinya pengunjung tidak hanya diajak menikmati hasil akhir sebuah karya desain, tetapi juga diajak memahami bahwa setiap bentuk, tekstur, dan struktur lahir dari relasi yang aktif antara alam dan manusia. Mulai dari gabah yang diolah menjadi decking, tanah yang menjadi mosaik, hingga vegetasi yang bertransformasi menjadi tekstil. Keseluruhan perjalanan itu menjadi pengingat bahwa inovasi dapat tumbuh seiring penghargaan terhadap alam dan kolaborasi manusia dalam mengolahnya.” tutup Eugenio Hendro.