Perubahan Perilaku Investor Pemula di Saat Pandemi Covid-19

Oleh : Dr. Ir. Farida Komalasari, M.Si. | Jumat, 07 Mei 2021 - 11:20 WIB

Dr. Ir. Farida Komalasari, M.Si. Guru Besar President University
Dr. Ir. Farida Komalasari, M.Si. Guru Besar President University

INDUSTRY.co.id - Telah terjadi perubahan pada perilaku berinvestasi dari para investor pemula di pasar saham Indonesia di saat Pandemi Covid-19.  Keinginan para investor pemula untuk melakukan investasi menurun secara signifikan.  Penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk berinvestasi. 

Komalasari, Manik, dan Ganiarto (2020) melakukan pengamatan terhadap 234 investor pemula di pasar saham Indonesia.  Pengamatan tersebut dilakukan sejak pemerintah Indonesia menemukan kasus Covid-19 pertama kali di Indonesia (Maret 2020) hingga September 2020. 

Pengamatan dilakukan terhadap perilaku berinvestasi (actual behaviour) dan keinginan untuk berinvestasi (investment behaviour) berserta faktor-faktor yang memengaruhinya.  Faktor-faktor tersebut adalah sikap (attitude), norma subyektivitas (subjective norm), persepsi pengendalian perilaku (perceived behavioural control), dan persepsi terhadap risiko (perceived risk).

Selama pandemi berlangsung, para investor pemula bersikap bahwa berinvestasi di pasar saham tidak menarik dan bukanlah ide yang baik.  Jika sebelum pandemi mereka beranggapan bahwa berinvestasi di saham adalah ide yang baik untuk mendapatkan return, maka tidak demikian di masa pandemi. 

Mereka berpendapat bahwa berinvestasi saham di masa pandemi adalah tindakan yang kurang bijaksana karena tidak memberikan manfaat finansial.  Pandemi yang berakibat buruk pada kinerja beberapa industri, diantaranya industri pariwisata, transportasi, dan properti, disikapi dengan menunda berinvestasi.

Dalam hal norma subyektivitas, selama masa pandemi, para investor pemula cenderung lebih tidak memperhatikan perilaku orang disekitarnya dalam pengambilan keputusan berinvestasi.  Pengaruh teman, keluarga, dan investor lain disekitarnya berkurang dalam keputusan berinvestasi. Hal ini mengindikasikan naiknya independensi para investor pemula dalam pengambilan keputusan berinvestasi. 

Perubahan juga terjadi dalam persepsi pengendalian perilaku, yang menurun secara signifikan di masa pandemi sebagai akibat melemahnya pengendalian diri (self-control). Kelemahan dalam pengendalian diri ini mengakibatkan para investor pemula tidak mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan kondisi ekonomi.  Mereka cenderung sulit untuk melihat bahwa masih ada peluang untuk mendapatkan return dari saham-saham pada industri tertentu, misalnya industri farmasi.

Terkait dengan persepsi terhadap risiko, para investor pemula menilai bahwa berinvestasi saham di masa pandemi memiliki risiko yang lebih besar, karena meningkatnya peluang merugi.  Berinvestasi di masa pandemi mengakibatkan ketidaktenangan, karena return yang diperoleh bisa saja tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Berinvestasi di masa pandemi berisiko tinggi karena tingginya ketidakpastian.  Ketidakpastian tersebut meliputi ketidakpastian dalam prospek bisnis, ketidakpastian transaksi antar daerah, pulau, dan bahkan antar negara, serta perubahan kebijakan pemerintah dalam pengendalian penyebaran virus Covid-19. 

Banyaknya istilah yang digunakan oleh pemerintah juga dapat mengakibatkan ketidakpastian dalam bisnis dan investasi.  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB Transisi, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), PPKM Mikro adalah beberapa istilah yang digunakan secara silih berganti.  Konsistensi pemerintah dalam rangka pengendalian penyebaran Covid-19 menjadi sangat penting bagi investor dalam memperhitungkan risiko dalam rangka pengambilan keputusan berinvestasi.

Perubahan faktor-faktor tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan niat para investor pemula untuk berinvestasi.  Jika pun mereka berinvestasi, maka akan mengurangi frekuensinya.  Mereka juga tidak merekomendasikan teman dan keluarga untuk berinvestasi saham selama masa pandemi. Mereka miliki persepsi negatif terhadap investasi di pasar saham.

Pada akhirnya, perubahan niat tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada keputusan berinvestasi.  Investor pemula cenderung memutuskan untuk menunda berinvestasi hingga kondisi kembali membaik. 

Data yang diterbitkan oleh Indonesia Stock Exchange menunjukkan bahwa 50 perusahaan menguasai  96,3% volume perdagangan dan 93.3% menguasai frekuensi perdagangan.  Hal ini menunjukkan bahwa peran investor pemula masih sangat rendah di pasar saham Indonesia. 

Oleh karena itu perubahan-perubahan perilaku berinvestasi tersebut tidak tercermin dalam data volume perdagangan saham maupun kapitalisasi pasar.  Namun demikian tidak berarti bahwa perubahan perilaku investor pemula tersebut tidak penting untuk dicermati.  Mengapa demikian?

Investor pemula yang dimati, 80% adalah generasi milenial. Mereka adalah kelompok yang memiliki literasi digital lebih baik dibandingkan dengan baby boomers.  Mereka umumnya berinvestasi dengan menggunakan aplikasi investasi produk teknologi keuangan (fintech). 

Perubahan perilaku mereka dalam berinvestasi tentu memengaruhi perkembangan fintech di Indonesia.  Oleh karena itu sangat penting bagi pelaku bisnis fintech untuk mencermati perubahan perilaku mereka dalam berinvestasi.

Guna menyikapi perubahan-perubahan tersebut, para pelaku fintech perlu mempertimbangkan untuk melakukan hal-hal berikut ini agar tetap menarik minat investor pemula.  Menginformasikan adanya saham-saham yang berpotensi memberikan return yang memadai di tengah pandemi dapat ditempuh untuk memperbaiki sikap investor pemula. 

Menayangkan testimoni dari para tokoh atau selebgram yang tetap berinvestasi di tengah pandemi akan dapat meningkatkan subjective norm.  Menayangkan upaya pemulihan ekonomi beserta hasilnya akan mampu memperbaiki persepsi pengendalian perilaku investor pemula dan sekaligus meningkatkan toleransi mereka terhadap risiko berinvestasi di pasar saham. 

Diharapkan langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan niat berinvestasi dan pada akhirnya akan meningkatkan keputusan berinvestasi.  Gairah para investor pemula untuk berinvestasi akan tetap terjaga meski di tengah pandemi yang entah kapan akan berakhir.

Penulis : Dr. Ir. Farida Komalasari, M.Si.

Associate Professor di Bidang Ekonomi Keuangan & Perbankan pada Program Studi Administrasi Bisnis, President University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Candi Borobudur

Jumat, 18 Juni 2021 - 18:00 WIB

Ketum IMI Pastikan The FIM MXGP World Championship 2021 Digelar di Kawasan Candi Borobudur

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (Bamsoet) memastikan Indonesia akan dua kali menjadi tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan internasional bergengsi…

Maskapai Garuda Indonesia

Jumat, 18 Juni 2021 - 17:45 WIB

Gara-gara Tunda Bayar Kupon Bond 500 Juta Dolar, BEI Setop Perdagangan Saham Garuda (GIAA)

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mengumumkan penghentian sementara perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.  Menurut BEI, penghentian tersebut dilakukan lantaran pemilik…

Direktur PT Buana Finance Tbk (BBLD), Herman Lesmana, ketika memberikan informasi mengenai kinerja perseroan dalam acara paparan publik secara virtual usai RUPST di Jakarta, Jumat (18/06/2021). (Foto: Bang Abe)

Jumat, 18 Juni 2021 - 17:42 WIB

32 Persen Laba Bersih 2020 Buana Finance Dibagikan sebagai Dividen Tunai

Jakarta - Pemegang saham PT Buana Finance Tbk (BBLD) pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (17/06/2021), menyetujui pembagian dividen tunai bernilai total Rp6,58 miliar…

Ilustrasi Melindungi Data Pribadi di Internet (ist)

Jumat, 18 Juni 2021 - 17:30 WIB

Berhati-hati Saat Menggunakan Sosmed, Perlunya Lindungi Data Diri dari Tindak Kejahatan di Internet

Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020 Jumlah pengguna internet di Indonesia melonjak tinggi, lebih tinggi dari angka pertumbuhan penduduk. Selain itu…

Apartemen SQ Rés

Jumat, 18 Juni 2021 - 17:10 WIB

Hadirkan Program Click & Stay, Intiland Tebar Banyak Promo Menggiurkan

PT Intiland Development Tbk. meluncurkan program promo spesial terbaru bertajuk ‘Click & Stay’ yang akan digelar selama dua bulan, mulai 21 Juni hingga akhir Agustus 2021.