INDUSTRY.co.id - Bandung - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) terus mendorong pengembangan industri pakaian jadi di Tanah Air.
Salah satu langkahnya yaitu melakukan observasi kondisi terkini para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) pakaian jadi khususnya di masa pandemi saat ini.
Oleh karena itu, Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih melakukan kunjungan kerja ke beberapa pelaku IKM pakaian jadi di Kabupaten dan Kota Bandung.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Dirjen IKMA turut memastikan supply dan demand bagi produk-produk IKM pakaian jadi.
"Dengan bertemu seperti ini, kami jadi tahu bahwa supply dan demand para pelaku IKM pakaian jadi selama pandemi berjalan dengan baik," kata Gati kepada wartawan saat kunjungan kerja ke beberapa IKM pakaian jadi di Bandung, Selasa (13/4/2021).
Saat ini, jelas Gati, inti plasma menjadi solusi yang ideal untuk para pelaku IKM pakaian jadi dalam menjakankan produksinya. Pasalnya, dengan sistem inti plasma, para pelaku IKM akan lebih efisien dari segi biaya, dan waktu.
"Dengan inti plasma ini akan lebih efisien, engga perlu bangun gedung, engga perlu gudang, engga perlu terikat aturan tenaga kerja, lebih efisien dalam penggunaan listrik, dan semua akan lebih flesibel," paparnya.
Seharian blusukan ke Bandung, Dirjen IKMA singgah pertama ke IKM konveksi Distro T-shirt milik Bapak Benny yang memproduksi kaos dan sweater bermerek Mother Queen yang berlokasi di Komplek Taman Kopo Ketapang, Kabupaten Bandung.
Dalam kesempatan tersebut, Benny mengungkapkan bahwa sulitnya berkompetisi dengan produk impor yang harganya jauh lebih murah.

"Kita pernah survei pada beberapa marketplace menunjukan kaos impor dari China dibanderol dengan harga yang sangat-sangat murah," katanya.
Tidak lama berselang, Gati pun melanjutkan perjalanan ke IKM busana muslim bermerek Hasbiyannur Butik milik Ibu Hj. Neneng di jalan raya Soreang Ciburial Barat.
Butik Hasbiyannur juga melakukan muklon dan subkon untuk produksi dengan memberikan mesin kepada ibu rumah tangga di sekitar dan sering mengikuti pameran yang difasilitasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen IKMA berdecak kagum karena demand atau permintaan atas produk yang diproduksi Hasbiyannur Butik mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan di masa pandemi Covid-19.
"Pandemi tidak sama sekali mempengaruhi permintaan akan produk kami, justru malah semakin meningkat. Awal produksi Januari 2020, kita cuma bisa 40 pcs per bulan, sekarang sudah 3.000 lebih per bulan," terang Salma Salimah anak Hj. Neneng sang pemilik Hasbiyannur Butik.
Menurut Salma, konsep digital marketing yang ia jalankan selama ini terbilang cukup sukses. Terbukti di masa pandemi penjualan melalui online meningkat tajam.
Gati berharap semangat Ibu Neneng dapat menjadi motivasi bagi seluruh IKM lain untuk saling membantu membangun perekonomian di sekitarnya.
Selepas dari Hasbiyannur Butik, Dirjen IKMA melanjutkan kunjungan kerjanya ke IKM Kerudung Printing milik Bapak Ivan. IKM yang memiliki tenaga kerja 70 orang ini bermerek Meflanna yang berlokasi di jalan Terusan Cipatik, Pamekaran, Kab. Bandung.
Mayoritas produk yang dihasilkan adalah jilbab hasil dari digital printing dengan profesional serta memiliki kualitas standar produk di tingkat internasional dengan harga terjangkau. Meflanna merupakan industri yang tumbuh bukan bisnis musiman.

"Ini memperlihatkan suatu keberhasilan IKM di masa pandemi. Sebagai pengusaha kita harus jeli melihat pasar. Dahulu yang namanya Elzatta datang ke saya mengeluh tidak punya bahan baku, sekarang semua produknya sudah bisa diproduksi secara full di Meflanna. Ini semua berkat adanya peraturan pemerintah," ujar Gati.
Sementara itu, Ivan mengaku bahwa menjelang Ramadhan dan Lebaran terjadi peningkatan permintaan yang cukup signifikan. "Ya harus diakui kita kebanjiran order jelang Ramadhan dan Lebaran, bahkan ada yang tidak bisa kami garap karena terlalu banyak order," ungkap Ivan.
Gati berharap IKM pakaian jadi dapat terus berkembang dan bertahan agar mampu bersaing dengan produk impor di masa pandemi ini.
Masih di Kota Bandung, Dirjen IKMA menyempatkan berkunjung ke Paguyuban Kampoeng Radjoet di Jalan Binongjati, Batununggal, Bandung.
Kampoeng Radjoet adalah wadah pengusaha muda rajutan di Binongjati. Mereka adalah generasi ketiga dari orang tuanya yang pernah sukses di dunia rajutan.
Pada tahun 2020, Kampoeng Radjoet berhasil tembus ekspor ke Selandia Baru yang merupakan perwakilan dari salah satu IKM Bandung.

Saat ini, Kampoeng Radjoet memiliki 4.000 tenaga kerja, dengan kapasitas produksi mencapai 4.000 pcs per bulan.
Menurut Eka sang pemilik Kampoeg Radjoet, ada tiga momentum yang menjadi peluang peningkatan pesanan yaitu musim lebaran, imlek dan idul adha. "Tiga momentum ini menjadi high seasons," ungkap Eka.
Menutup kunjungan kerjanya di Bandung, Dirjen IKMA melakukan rapat dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) guna membahas terkait pembuatan platform digital sentratekstil.id yang merupakan bagian dari program material center.

"Saya berharap dengan adanya diskusi ini, kami dapat membantu para pelaku industri tekstil yabg terkena dampak pandemi," tutup Gati.