INDUSTRY.co.id-keseriusan ACT dalam membersamai masyarakat di bidang medis dengan menginisiasi Humanity Medical Services dengan target kedepannya 1 juta tenaga medis.

“Kami mengundang kebersamaan segenap elemen bangsa. Bersiap membersamai lembaga yang kredibel dalam dunia kemanusiaan ini bersama sekitar 14.000 relawan medis baik di Indonesia dan berbagai negara yang dimiliki ACT. Spirit dari Humanity Medical Services adalah kemanusiaan, sehingga harapannya kapitalisasi di bidang kesehatan dapat berkurang,” kata Ahyudin, Ketua Dewan Pembina ACT di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

Dalam lima tahun ke depan, ACT akan mengikhtiarkan 1 juta tenaga medis untuk bergabung bersama Humanity Medical Services. Terdapat tiga hal yang akan menjadi fokus. Pertama, mematangkan lini keorganisasian hingga ke level kabupaten. Kedua, ACT akan membangun jaringan Humanity Medical Services di Indonesia dan 62 negara jaringan yang ada saat ini. Ketiga, Humanity Medical Services akan memperkuat aksi-aksi medis dan kemanusiaan baik secara nasional maupun global untuk menghadapi eskalasi konflik kemanusiaan di dunia saat ini.

Dokter M. Riedha Bambang selaku Direktur Humanity Medical Services menyatakan, kesehatan tidak dapat dipandang dari satu sisi, tidak hanya masalah sakit saja, namun sangat kompleks dan multidimensional. Hal ini karena permasalahan kesehatan juga mencakup isu-isu sosial yang melingkupinya, seperti pendidikan, kemiskinan hingga faktor-faktor lainnya yang terdapat di masyarakat.

“Kehadiran Humanity Medical Services diharapkan menjawab seluruh problematika tersebut. Kami di Humanity Medical Services sangat semangat untuk menjalankan gerakan sosial ini, namun tentunya tidak hanya bisa dilakukan sendiri tetapi harus ada dukungan dan kolaborasi dari banyak pihak. Kami ingin mengajak seluruh rekan medis sejawat, mitra kesehatan di seluruh Indonesia untuk bergabung dan berkolaborasi,” ungkap dr. Riedha saat peluncuran Humanity Medical Services. Dokter Arini Retno, salah satu dokter relawan yang telah terjun di berbagai aksi-aksi lapangan Aksi Cepat Tanggap, juga berbagi pengalamannya yang menginspirasi. “Dunia kemanusiaan, kerelawanan, dan kesehatan tentu sangat berkaitan erat. Secara global, hingga 80 juta orang yang menjadi korban konflik setiap tahunnya adalah para warga di negara-negara miskin,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, dr. Arini menceritakan pengalamannya selama di Bangladesh dan kondisi saat di negara konflik lainnya. “Kondisi para pengungsi sangat jauh dari kata layak, dari sisi tempat penampungan dan kebutuhan medisnya. Bahkan untuk di Indonesia, seperti di suku asmat Distrik Siret, kebutuhan dokter sangat kurang bahkan tidak ada dokter di puskesmas. Untuk satu orang saja, saya dapat melakukan 2-3 tindakan medis. Saya menangis jika mengingat kondisi di sana. Masalah di dunia dan Indonesia tentang kebutuhan medis, tentu masih sangat tinggi. Humanity Medical Services ini saya harap dapat menggerakkan hati seluruh tenaga medis di Indonesia untuk dapat bergabung dan menjadi bagian dari gerakan sosial ini,” ungkap Arini.