INDUSTRY.co.id, Jakarta-Berada di tengah-tengah kerumunan massa, Sukarno bak magnet. Ia menjadi pusat perhatian. Ucapan-ucapannya bergema dan mengaduk-aduk emosi para pendengar. Lewat gesturnya ia mampu membuat khalayak terpikat, menyahut. Antusiasme itu kian disambut Sukarno dengan orasi yang makin menggebu.
Seperti yang terjadi lima hari jelang ulang tahunnya yang ke-44. Sukarno membuat peserta Sidang Dokuritsu Junbi Cosakai, terpana. BPUPK adalah hasil bentukan pemerintahan militer Jepang yang bertugas untuk menyelediki berbagai aspek seperti sosial-ekonomi dan politik demi persiapan kemerdekaan Indonesia.
BPUPK yang kemudian berubah menjadi BPUPKI, itu terpesona dengan retorika Sukarno saat membacakan pidato berjudul "Lahirnya Pancasila" pada 1 Juni 1945.
Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh sang “Singa Podium” itu, sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Dalam rapat itu Soekarno secara berapi-api menyuarakan tentang perlunya Indonesia memiliki dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, jika menilik sejarahnya, ada sejumlah tokoh lain yang berperan di dalamnnya. Mereka saling memberikan gagasan terkait rumusan dasar negara ketika sidang BPUPKI berlangsung.
Saat berpidato, sebenarnya Sukarno, tidak mempersiapkan secara tertulis, Ia sampaikan secara aklamasi tanpa judul. Sebutan "Lahirnya Pancasila" diberikan mantan Ketua BPUPK, Dr Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato Sukarno, diterbitkan Paksi Bhineka Tunggal Ika 2005.
Syahdan, Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk BPUPKI. Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dimulai pada 29 Mei dan selesai 1 Juni 1945. Rapat dibuka pada 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara.
Pidato Sukarno pada 1 Juni 145 menelurkan keyakinan, di tanggal itu Pancasila dilahirkan. Kendati disebut-sebut murni buah pikiran Sukarno, toh BPUPKI tetap membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut.
Sukarno adalah pribadi dengan nuansa pemikiran yang multidimensi. Dia menguasai tidak hanya karya-karya politik, sosial, dan ekonomi, baik dari penulis luar maupun dalam negeri, tetapi juga rajin mempelajari buku-buku agama terutama Islam.“ Sockarno juga sangat menggemari ceritacerita dalam dunia pewayangan Jawa.
Selain sebagai pemikir, Sukarno adalah juga seorang pejuang kemerdekaan bangsa yang gigih menentang imperalisme dan kolonialisme. Jiwa nasionalisme Sukarno telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Maka tidak heran jika banyak ilmuwan maupun pengamat menyebut Soekamo dalam perkembangannya sebagai pribadi dengan pemikiran yang kompleks.
Dalam sejarah politik kebangsaan selanjutnya, Sukarno sering kali diindetiifikasi sebagai representasi golongan nasionalis, ada yang menyebutnya representasi politik Islam, ada juga yang melihamya sebagai seorang Marxis sejati. Bahkan sebagian kalangan menempatkan Sukarno dalam suatu episteme pemikiran tersendiri, yakni seorang yang memiliki jalan/paham pemikirannya sendiri. Mereka menyebut Nasakom maupun Marhaenisme sebagai episteme: pemikiran yang khas Sukarno, yang berbeda dari aliran-aaliran pemikiran yang, pernah ada.
Bagi Bung Kamo, pluralitas Indonesia merupakan kekayaan sekaligus modal sosial (social capital) yang teramat berharga yang semestinya disyukuri dan dirawat. Keragaman tersebut justru akan membawa malapetaka bagi negeri ini jika tidak dikelola dengan baik. Selama ini perbedaan‘perbedaan tersebut relatif tidak sampai membantu keutuhan dan kesatuan bangsa, meskipun acap kali mengalami kegoncangan, gangguan dan benturan. Keindahan dan kedamaian dalam perbedaan tersebut tentu saja tidak lepas dari pemahaman yang cukup mendalam terhadap makna pluraliame atau kemajemukan.
Setelah pengasingan dari Ende, Sukarno berhasil merumuskan apa yang disebut Pancasila. Penamaan itu juga berdasarkan saran temannya yang notabene ahli bahasa. Sampai saat ini, tak diketahui secara pasti siapakah orang yang dimaksud oleh Sukarno. Ketika merumuskan prinsip Pancasila, Sukarno merujuk pada hal yang berunsur simbolik. Sukarno memberikan gambaran dari rukun Islam yang berjumlah lima, dengan lima jari. Selain itu panca indera dan tokoh pewayangan Pandawa yang berjumlah lima juga. Maka Sukarno membuat rumusan dalam lima butir.
Ide ini tak serta merta langsung diterima, namun ada tim yang merumuskan untuk mengkaji ulang usulan Sukarno. Mereka adalah Sukarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin. Setelah perubahan, Pancasila menjadi dasar negara hingga saat ini.
Panitia Sembilan itu bertugas merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada 1 Juni 1945 dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi, akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. (Pancasila Bung Karno, Paksi Bhinneka Tunggal Ika, 2005). Kelima asasnya seperti yang kita kenal kini:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmad Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia