INDUSTRY.co.id - Usai masa paceklik pada tahun lalu, ombak pasar industri properti diprediksi akan kembali pasang. Hanya saja, persoalan politik musim pemilihan kepala daerah menjadi ganjalan.
Target tinggi pun dipasang PT Intiland Development Tbk (Intiland) untuk rebound dari kurang cerianya pasar pada tahun lalu. Tahun ini, Intiland menargetkan peningkatan pendapatan penjualan (marketing sales) sebesar 35-40 persen dari pencapaian tahun 2016.
Kami pasang target itu untuk mengejar ketertinggalan di tahun lalu, ujar Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono saat berbincang dengan INDUSTRY.co.id di kantornya, Menara Intiland, beberapa saat lalu.
Archied mengakui selama 2016, kinerja perusahaannya memang kurang cemerlang. Hanya saja, dia berkilah penurunan itu karena realisasi target penyelesaian proyek Intiland ada yang tertunda. Dari tiga proyek yang direncanakan, hanya satu proyek yang terrealisasi.
Mungkin sejak 2015, pasar properti sudah ada penurunan. Rupanya kondisi perekonomian melambat. Tapi penurunan kita karena ada dua proyek yang tertunda.
Harapannya tahun ini bisa kita garap lagi, kata Archied.
Dia menilai, pelemahan pasar properti sepanjang tahun 2016 diakibatkan instabilitas iklim politik nasional.
Pasar cenderung mengambil sikap menunggu. Ketidakstabilan iklim politik yang memuncak di kuartal IV 2016. Itulah yang membuat kami harus menjadwalkan kembali rencana peluncuran dua proyek baru yang di Jakarta dan Surabaya, ujar Archied.
Kedua proyek tersebut merupakan pengembangan mixed-use dan high rise skala besar yang berlokasi di pusat bisnis Jakarta dan Surabaya Barat.
Pria berpembawaan kalem itu merinci di sepanjang 2016, Intiland meraih marketing sales sebesar Rp1,632 triliun. Nilai pencapaian tersebut lebih rendah 13 persen dibandingkan perolehan tahun 2015 yang mencapai Rp1,874 triliun.
Overall sih turun. Tapi kita tidak mengandalkan di satu telor, jadi masih mending. Dan kita lihat siklusnya ada barang yang sudah jadi dan siap dijual.
Selain akibat melemahkan kondisi pasar, tertundanya peluncuran dua proyek baru tersebut turut menjadi faktor utama yang menekan kinerja penjualan.
Sejak mulai beroperasi 40 tahun lalu, Intiland memang dikenal sebagai perusahaan properti yang memiliki diferensiasi produk sangat banyak. Meski begitu, tentu saja yang dominan memberi kontribusi untuk perseoran adalah sektor residensial.
Data perseroan merinci, kontribusi terbesar marketing sales 2016 berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp648 miliar, atau setara 40 persen dari total pencapaian.
Kontributor berikutnya berasal dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise dengan kontribusi sebesar Rp590 miliar, atau setara 36 persen.
Segmen pengembangan kawasan industri berkontribusi sebesar Rp81 miliar atau 5 persen dari total. Sebesar Rp313 miliar atau 19 persen dari total nilai marketing sales, diperoleh dari segmen properti investasi yang terdiri dari penyewaan perkantoran, ritel, fasilitas, pergudangan dan industri, pengelolaan lapangan golf serta sarana olahraga.
Archied mengungkapkan bahwa berdasarkan tipenya, pendapatan pengembangan (development income) masih menjadi kontributor marketing sales terbesar dengan pencapaian Rp1,319 triliun atau 81 persen dari keseluruhan. Sementara kontribusi pendapatan berkelanjutan (recurring income) tercatat mencapai Rp313 miliar atau 19 persen.
Segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berulang naik 23 persen dibanding tahun lalu, terutama disebabkan beroperasinya perkantoran South Quarter. Kami akan terus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang karena memberikan stabilitas bagi operasional dan pertumbuhan perusahaan, kata Archied.
Selesainya proyek perkantoran sewa South Quarter dan penyewaan fasilitas bangunan pabrik standar (Standard Factory Building) di kawasan Ngoro Industrial Park, menjadi faktor pendorong meningkatkan kontribusi pendapatan berulang.
Segmen lainnya yang relatif membukukan kinerja bagus yakni pengembangan kawasan perumahan. Segmen ini membukukan peningkatan marketing sales sebesar 22%, dari Rp530 miliar di 2015 menjadi Rp648 miliar di tahun 2016. Peningkatan ini terutama ditopang oleh penjualan unit-unit rumah di kawasan Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills di Jakarta Selatan.
Menilai tren pasar properti tahun ini akan cenderung bergerak positif. Selain kondisi tersebut, peningkatan target marketing sales juga mempertimbangkan rencana Perseroan untuk meluncurkan dua proyek skala besar tahun ini. Proyek tersebut adalah kelanjutan dari proyek yang sempat tertunda tahun lalu.
Untuk itulah Intiland telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 1,8-2 triliun tahun ini. Perseroan berkode DILD itu akan menggunakan sebagian besar capex untuk mengembangkan empat proyek yang sudah ada.
Archied mengungkapkan, empat proyek yang sedang dikerjakan perseroan saat ini adalah Praxis dengan total investasi sebesar Rp 700 miliar, Spazio sebesar Rp 400 miliar, Regata sebesar Rp 1 triliun dan Graha Golf sebesar Rp 600-800 miliar.
Sebagian besar pendanaan capex berasal dari pinjaman bank, kata dia.
Archied menegaskan, perseroan telah memperoleh pinjaman bank untuk mengerjakan empat proyek tersebut. Sementara sisa kebutuhan dana akan berasal dari kas internal dan hasil prapenjualan.
Sebagian besar proyek tersebut akan tuntas pada awal tahun depan. Menurut dia, perseroan telah mengerjakan proyek itu sejak satu hingga dua tahun lalu.
Rencana pengembangan Maja
Saat ditanya mengenai rencana pengembangan properti residensial di Kota Baru Maja, Banten, Archied belum bisa memastikan. Bahkan, rencana pengembangan Maja belum bisa diprediksi satu tahun hingga dua tahun mendatang.
Archied mengatakan sejauh ini perusahaan terus melakukan persiapan untuk pengembangan di Maja, tetapi keputusan untuk segera memulai proyek di sana sejauh ini belum diambil.
Menurutnya, tantangan utama pengembangan kawasan Maja adalah belum adanya aktivitas ekonomi sebagai motor penggerak pengembangan kawasan. Alhasil, para penghuni di Maja masih mengandalkan kota penyangga lainnya sebagai sumber penghidupan. Hal tersebut tidak ideal bagi sebuah kota baru.
Suatu daerah tidak bisa dikembangkan hanya dengan perumahan. Harus dipikirkan sumber kehidupan di sana penggeraknya apa? Apakah kota berbasis industri, atau apa? Tidak mungkin kita bikin untuk mereka terus bolak-balik Jakarta. Maja itu jauh, katanya.
Intiland sedikitnya memiliki 1.100 hektar lahan di Maja. Archied mengatakan, posisi cadangan lahan Intiland tersebut lokasinya cukup jauh dari stasiun kereta api Maja, yang praktis saat ini menjadi satu-satunya infrastruktur akses menuju Jakarta.
Oleh karena itu, Intiland baru akan memulai pembangunan setelah pengembang lainnya yang memiliki lahan di sekitar stasiun untuk merampungkan proyek hunian mereka, yakni Ciputra Group membangun kota Citra Maja Raya.
Saat ini stasiun Maja sudah dilalui rute KRL. Pembangunan rel ganda stasiun Rangkasbitung-Maja sepanjang 22 kilometer masih dikerjakan dan belum rampung.
Pemerintah juga masih dalam proses merampungkan pembangunan Bendungan Karian, Banten, yang akan menyelesaikan masalah pasokan air bersih di Maja selama ini. Pembangunannya selama ini cukup terhambat oleh masalah pembebasan lahan, sebab bendungan ini akan menenggelamkan sedikitnya 12 desa di Lebak, Banten.
Ekspansi Whiz Hotel
Salah satu sektor yang akan dikembangkan oleh Intiland pada tahun ini juga adalah Intiwhiz Hospitality Management yang mengelola Whiz Hotel. Dalam waktu dekat, Intiland akan meresmikan brand hotel budget miliknya ini di Cilacap yang merupakan hotel ke-17 dari Intiwhiz Hospitality Management.
Memang revenuenya belum terlalu besar untuk kami, karena hotel ini dikelola dengan investor. Tapi kami serius untuk terus mengembangkan lini bisnis perhotelan ini, ujar Archied.
Intiwhiz Hospitality Management merupakan jaringan hotel nasional dengan membidik pasar domestik. Lokasi yang srategis selalu menjadi ciri utamanya.
"Tahun ini, kami menargetkan akan memiliki 20-21 hotel di berbagai kota di Indonesia dan tahun 2018 diharapkan bisa mengoleksi 37 hotel.
Hingga saat ini, Archied merinci, Intiwhiz telah mengoleksi lima hotel bintang dua, tujuh hotel bintang tiga, dan empat hotel bintang empat, serta satu hotel dengan merek lain, yakni Swift In.
Menurut dia, hotel bintang dua menggunakan merek Whiz Hotel dan Swift In, bintang tiga menggunakan merek Whiz Prime Hotel, serta bintang empat menggunakan merek Grand Whiz Hotel.