INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kita telah 20 tahun berada di abad ke-21 ini. Anda yang berusia antara 50-60 tahun boleh melihat perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, benda berukuran besar yang dulunya biasa digunakan untuk mendengarkan musik, sekarang benda yang berfungsi sama tersebut sudah dapat disimpan di tempat kartu nama anda.
Di era 60-an jika ingin mendengarkan musik, anda harus memutar piringan hitam, yang berukuran sebesar piring makan anda. Saat ini anda dapat menikmati musik hanya dengan menggunakan USB Drive alias flashdisk yang dapat disimpan secara praktis. Bukan hanya musik saja, flashdisk juga dapat menyimpan data eksternal dengan berbagai format secara permanen serta memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup besar.
Di era yang sama, manusia berkomunikasi antar benua melalui telepon yang memanfaatkan denyut gelombang elektromagnetik, tapi sekarang kita dapat menggunakan berbagai media sosial untuk menghubungi teman, keluarga, saudara, dan orang-orang yang berkepentingan lainnya terhadap kehidupan kita di berbagai belahan dunia. Perubahan dahsyat di sektor telekomunikasi seperti itu dimungkinkan ketika sistim digital menggantikan sistem analog.
Revolusi sektor telekomunikasi ini memang sudah lama sekali diramalkan oleh Marshall McLuhan, seorang filsuf berkewarganegaraan Kanada. Beliau waktu itu meramalkan adanya sebuah sistem telekomunikasi yang super ajaib di masa depan. Bisa jadi, McLuhan pada waktu itu meramalkan adanya internet di masa depan.
Hal itu terungkap ketika Paul Levinson menulis buku berjudul Digital McLuhan: A Guide to the Information Millenium pada tahun 1999. Buku Levinson tersebut memaparkan bahwa McLuhan pada buku keduanya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Man dan diterbitkan pada tahun 1964 meramalkan adanya kehadiran internet di masa depan.
Di buku itu, McLuhan menulis,” Nantinya, akan hadir sebuah jaman elektronik dimana cara (manusia-red) berkomunikasi itu akan lebih berpengaruh (dalam gaya hidup manusia-red) dibandingkan isi informasi yang disampaikan (lewat komunikasi tersebut-red).”
Ketika meluncurkan buku keduanya itu, sebagian besar masyarakat dunia, termasuk para ilmuwan ketika itu, meremehkan pendapat McLuhan tersebut. Mereka menyebut bahwa McLuhan ngomong kosong. Akan tetapi mereka kemudian menyesal ketika Tim Bers-Lee pada tahun 1989 menghadirkan World Wide Web (WWW), yang pada akhirnya menjadi jaringan penting untuk mengirimkan dan mendistribusikan data ke berbagai jaringan internet berskala besar di seluruh dunia.
Setelah WWW hadir, internet akhirnya berperan penting di dalam semua aspek kehidupan manusia, terutama bagi ketiga kebutuhan dasar manusia, yaitu sandang, pangan dan papan hingga distribusi barang dan jasa. Kehadiran internet mendorong gaya hidup berbusana manusia masa kini. Internet juga sangat menopang bisnis properti, baik bisnis properti kelas perumahan menengah ke atas, maupun rumah sederhana. Dan yang tidak kalah pentingnya, peranan internet kini sangat mempengaruhi penyediaan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Berbagai teknologi muktahir muncul di bidang pengolahan makanan dan distribusinya.
Pagi itu, lalu lintas di ruas jalan utama yang menghubungkan Jakarta-Bekasi tampak sepi. Saat itu pukul 5 pagi. Udara dingin masih menyelimuti sebagian besar penduduk di sebuah perkampungan di Bekasi yang masih menikmati mimpi dalam tidurnya. Kendati demikian, ada sebuah rumah seluas kira-kira 100 meter persegi di perkampungan tersebut yang telah menunjukkan adanya geliat usaha.
Para penghuni rumah tersebut tampak sibuk memasak. Mereka mempersiapkan berbagai jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan para konsumennya. Itulah rumah pak Jumadi yang berprofesi sebagai pengusaha makanan siap saji. Beliau memproduksi berbagai makanan sehari-hari untuk para konsumen yang umumnya adalah karyawan, baik di pabrik maupun di perkantoran di sekitar Bekasi.
Ketika disapa, pak Jumadi menyambutnya ramah,” Selamat pagi, mas. Saya senang anda datang berkunjung. Iya, saya pagi-pagi begini sudah masak untuk mempersiapkan pesanan makanan yang dikirim ke pabrik-pabrik dan kantor-kantor di sekitar sini, mas.”
Ketika ditanyakan apakah sedang berbisnis katering makanan, pak Jumadi menjelaskan, dirinya tidak berbisnis katering makanan. Rumah itu bukanlah tempat produksi katering makanan. Menurut ceritanya, pak Jumadi sebelumnya membuka warung makan di sebuah kawasan industri di Bekasi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan kawasan industri tersebut, uang sewa untuk tempatnya berdagang mengalami kenaikan terus-menerus sehingga pak Jumadi berpikir untuk memindahkan usahanya dari kawasan tersebut agar dapat menekan pengeluaran.
Semula pak Jumadi khawatir untuk memindahkan tempat usahanya itu ke tempat lain karena warung makan tersebut telah memiliki banyak pelanggan tetap. Akhirnya dengan berat hati, pak Jumadi memutuskan untuk memindahkan warung tersebut ke tempat lain dengan uang sewa yang lebih ringan. Sementara itu, pak Jumadi tetap berusaha agar langganan tetapnya selalu dapat dilayani dengan baik.
Ketika warung tersebut harus pindah ke perkampungan seperti sekarang ini, pak Jumadi harus bolak-balik ke kawasan pabrik dan perkantoran untuk mendata para pelanggan yang hendak memesan makanan dari warungnya tersebut setiap hari. Selain mendata, pak Jumadi yang dibantu para asistennya juga mengantarkan pesanan-pesanan tersebut ke konsumen.
Layanannya cukup memuaskan sehingga kepindahan pak Jumadi dari kawasan industri tersebut ke tempat lain terasa tidak berpengaruh besar bagi para pelanggannya. Bedanya, jika dulu pelanggannya dapat makan sambil duduk-duduk di warungnya, sekarang mereka hanya dipasok makanan yang sudah dibungkus rapi oleh pak Jumadi dan dapat disantap langsung di tempat kerja mereka.
Kegiatan itu dilakukannya setiap hari sejak pagi, siang, sore hingga malam hari. Pendataan pesanan terus-menerus dilakukan pak Jumadi secara manual. Itu dilakukan untuk menghindari terjadinya berbagai kekeliruan dan kesalahpahaman. Proses tersebut sangat dijaga ketat. Karena itulah, pak Jumadi secara langsung menangani proses tersebut. Sementara ‘tangan kanan’ pak Jumadi hanya membantu dirinya untuk melaksanakan berbagai hal sederhana dan ringan untuk menunjang proses tersebut.
“Tentunya bosan juga mas melakoni kegiatan seperti itu setiap hari,” tutur pak Jumadi ketika ditanyakan mengenai kejenuhan dia setiap hari. “Tetapi, memang saat itu saya sudah berpikir bahwa hanya langkah itu yang saya harus lakukan agar warung ini dapat tetap ngebul setiap hari. Kalo tidak ngebul kan bisa berabe, mas,” ujar pak Jumadi sambil senyum.
“Dulu waktu warung saya masih di kawasan industri, menu lauk-pauk yang dikonsumsi oleh konsumen di warung saya tidak seragam. Ada yang tidak suka ikan, ada yang tidak suka telor, ada yang tidak suka pedas dan sebagainya. Beda dengan katering yang selalu menghadirkan menu makanan yang seragam bagi para konsumennya. Saya tidak bisa menawarkan menu makanan model katering, mas. Kalau saya tawarkan seperti itu, tentunya pelanggan banyak yang hilang, karena makanan yang kami sediakan tidak dapat memenuhi cita rasa mereka,” ungkap pak Jumadi.
Karena itu, demikian pak Jumadi, rumah pengolahan makanan tersebut itu setiap harinya menyediakan sekitar 50-70 jenis makanan bagi para konsumen. Banyaknya jenis makanan yang disediakan setiap hari itu sudah ditetapkan pak Jumadi sebelumnya melalui berbagai pengamatannya dalam kurun waktu yang cukup panjang. Karena itu, kendati makanan yang disediakan sangat banyak jenisnya, tetapi makanan itu selalu habis dikonsumsi setiap hari.
Di tengah kejenuhan yang tinggi ketika melakukan proses pemesanan makanan, pak Jumadi akhirnya mendapatkan jalan keluar ketika sebuah perusahaan transportasi daring (online) menawarkan kerja sama untuk menangani pemesanan tersebut. Pak Jumadi kemudian mempelajari tawaran kerja sama tersebut, proses kerjanya hingga pembagian imbalan bagi kedua belah pihak.
Pada akhirnya, pak Jumadi memutuskan untuk melakukan kerja sama tersebut. Pasalnya, selain meringankan tugas pekerjaannya, kerja sama tersebut juga secara tidak langsung dapat mempromosikan usahanya ke wilayah lain secara luas.
Sejak saat itu, pak Jumadi merasa lega karena dirinya sangat terbantu sekali dengan adanya kerja sama tersebut. Pasalnya, proses pemesanan makanan dari pelanggan hingga proses pendistribusian atau pengantaran pesanan makanan tersebut dilakukan oleh pihak perusahaan transportasi online tersebut.
Di samping itu, pak Jumadi juga masih dapat dapat meningkatkan pilihan jenis makanan berupa pesanan khusus (special request) bagi para pelanggannya. Itulah yang menjadi kunci sukses pak Jumadi dalam menjalankan bisnis makanan siap saji hingga akhir 2019.
Akan tetapi, sejak awal 2020, pak Jumadi telah merasakan adanya penurunan pesanan makanan siap saji di warung miliknya. Setelah diteliti dan diamati, penurunan itu disebabkan oleh adanya beberapa pabrik yang mengurangi tenaga kerja, bahkan ada pula berbagai kantor yang menutup usahanya akibat potensi resesi ekonomi di awal tahun ini.
Sementara itu, pak Jumadi terus memutar otak untuk menyelamatkan bisnis warung pengolahan makanan yang sudah dilakukannya sejak sepuluh tahun lalu. Itu adalah rentang waktu yang cukup lama bagi sebuah bisnis kecil yang mampu bertahan dari berbagai macam rintangan. Di tengah kegalauan hatinya, pak Jumadi mendapatkan ide untuk menawarkan produk makanan siap sajinya tersebut kepada keluarga-keluarga kecil yang menghuni perumahan-perumahan di sekiar Bekasi.
Seperti diketahui, ada sekitar 70-80 persen rumah-rumah di kawasan perumahan di Bekasi tersebut dihuni oleh keluarga-keluarga kecil. Penghuninya ada yang masih pengantin baru, dan ada yang baru memiliki anak satu hingga dua orang. Secara rata-rata, mereka merupakan keluarga kecil dengan dua anak. Pak Jumadi membidik keluarga-keluarga kecil tersebut sebagai sasaran baru bagi kelangsungan bisnisnya.
Ketika membidik keluarga-keluarga kecil ini, pak Jumadi juga harus memperhitungkan nilai produk yang ditawarkan. Dia berpikir dan berprinsip, dengan produk yang ditawarkannya ini, biaya konsumsi pangan sehari-hari keluarga kecil ini dapat ditekan semaksimal mungkin. “Jadi mas, misalnya belanja mereka sehari Rp100.000 untuk keperluan konsumsi makanan, maka saya berupaya agar mereka dapat menghemat pengeluaran antara 15-20 persen melalui produk-produk makanan yang saya tawarkan ini,” ungkap pak Jumadi.
Hal itu dilakukan pak Jumadi sebagai salah satu strategi bisnis untuk merebut konsumen di kawasan perumahan sekitar Bekasi. Ternyata, strategi tersebut cukup berhasil sehingga pak Jumadi dapat bernafas lega kembali. Beliau mengatakan, sejak akhir Januari 2020 lalu, pihaknya melayani kebutuhan konsumsi makanan bagi banyak keluarga kecil di kawasan perumahan Bekasi.
Memang, malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Hidup manusia di tangan Tuhan dan tak seorangpun yang mengetahuinya. Itulah rahasia Ilahi. Pada pertengahan Maret 2020, tiba-tiba pak Jumadi mendapatkan rejeki nomplok. Pasalnya, pesanan makanan yang masuk ke warung pengolahan makanan miliknya bertambah hingga menjadi dua kali lipat. Awalnya pak Jumadi tidak percaya. Tetapi sebagai seorang pengusaha kawakan, beliau tetap tenang dan terus mempelajari gejala apa yang membuat pesanannya mengalami lonjakan yang cukup tajam itu.
Setelah diamatinya, ternyata lonjakan pesanan makanan tersebut berasal dari kenaikan konsumsi keluarga-keluarga kecil yang tinggal di kawasan perumahan tersebut. Itu karena semakin banyak keluarga yang memesan makanan siap saji pak Jumadi. Melalui pengamatan tersebut, barulah pak Jumadi mengetahui bahwa kemunculan wabah Corona Virus Desease 19 (Covid-19) membuat para anggota keluarga di kawasan perumahan tersebut tidak dapat keluar untuk bekerja atau berusaha secara normal seperti biasanya, akan tetapi mereka tetap perlu makan.
Karena itu, layanan makanan siap saji seperti yang ditawarkan pak Jumadi sangat tepat bagi mereka di kawasan perumahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Selain praktis, layanan yang ditawarkan pak Jumadi tersebut sangat mendukung program pemerintah mengenai social distancing, yaitu pembatasan manusia untuk berinteraksi sosial dengan sesamanya di berbagai bidang kehidupan guna membatasi penularan Covid-19.
Sebelumnya, pemerintah membuat kebijakan untuk mengurangi berbagai bentuk kegiatan usaha di tengah merebaknya Covid-19 tersebut. Mula-mula jam kerja berbagai instansi pemerintah dan swasta dikurangi. Kemudian jam operasional di berbagai pusat-pusat perbelanjaan juga dibatasi demi sosial distancing.
Kini, kegiatan operasional bisnis sangat dibatasi dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB ini juga yang ‘melumpuhkan’ berbagai moda transportasi, baik darat, laut dan udara untuk mencegah perpindahan orang-orang yang pada akhirnya bertujuan untuk menekan penularan Covid-19, baik di suatu daerah maupun antar daerah atau kawasan.
Dengan adanya pemberlakuan PSBB tersebut, pak Jumadi bersyukur karena dirinya masih dapat mengandalkan aplikasi digital untuk mendukung kegiatan bisnisnya. Seluruh aplikasi digital tersebut digunakan Jumadi mulai dari menata pesanan makanan, membeli berbagai bahan makanan untuk diolah dan dimasak, mengantarkan berbagai produk makanan ke seluruh pelanggan setianya hingga melayani sistim pembayaran mereka.
Selain pak Jumadi, anak-anak sekolah, mahasiswa, para guru dan para dosen pada saat ini juga sangat mengandalkan aplikasi digital demi kelangsungan proses belajar-mengajar mereka. Boleh dibilang, dalam kondisi seperti ini, maka impian bapak Nadiem Makarim, di awal dirinya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, bahwa ke depan proses-belajar mengajar di Indonesia, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi, akan dilakukan secara online telah menjadi kenyataan. Inilah saatnya Indonesia mengembangkan aplikasi digital ini demi menopang kehidupan dan kemaslahatan umat manusia, terutama manusia Indonesia.
Kini kegiatan usaha warung Jumadi tersebut benar-benar 100 persen mengandalkan aplikasi digital. Bahkan boleh dibilang perpaduan antara aplikasi digital yang baru diterapkan pak Jumadi tersebut dengan kehadiran wabah Covid-19 yang sangat ganas tersebut menjadi berkah yang besar (great blessing) bagi bisnis pak Jumadi pada 2020 ini.
Di samping pak Jumadi, para pedagang alat-alat farmasi dan obat-obatan serta pedagang sembilan kebutuhan pokok (sembako) pada saat ini juga sangat tergantung pada aplikasi digital ini. Produk-produk farmasi yang paling banyak dicari saat ini adalah masker mulut dan cairan antiseptik.
Tokopedia, salah satu e-commerce di Indonesia, mengungkapkan adanya kenaikan transaksi perdagangan melalui aplikasi digital sejak PSBB diterapkan pemerintah pada pertengahan April 2020 ini. “Data yang dimiliki Tokopedia menunjukkan adanya kenaikan transaksi di berbagai produk kesehatan dan kebutuhan pokok lainnya sejak ada pandemi Covid-19 di Indonesia,” ujar Nuraini Razak, Vice-President Corporate Communication Tokopedia.
Sementara itu, Gicha Graciella, Senior Corporate Communications Manager Bukalapak, mengemukakan, transaksi digital mengalami kenaikan hingga 20 persen pada Maret 2020 dibandingkan satu bulan sebelumnya. Kenaikan itu disebabkan oleh peningkatan permintaan produk bahan-bahan pokok yang mencapai hingga tiga kali lipat lebih, produk makanan dan minuman sebesar dua kali lipat dan berbagai produk obat-obatan sebesar 30 persen.
“Seiring dengan tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, permintaan masker mulut sebagai salah satu alat pelindung diri (APD) di dalam upaya menangkal Covid-19 ini meningkat signifikan hingga 90% pada Maret 2020 dibandingkan pada bulan sebelumnya,” ujar Gicha.
Adapun riset yang dilakukan telunjuk.com, sebuah e-commerce hub di Indonesia, sepanjang periode 2 Maret hingga 5 April 2020, menginformasikan bahwa nilai transaksi digital dari tiga e-commerce besar di Indonesia, yaitu Tokopedia, Bukalapak dan Shopee, diperkirakan mencapai Rp12 miliar dengan 670.000 transaksi.
Riset tersebut menjelaskan bahwa sejak adanya kabar mengenai pasien pertama di Indonesia yang positif terkena Covid-19 pada 2 Maret 2020, total transaksi penjualan sembako secara online pada minggu tersebut diperkirakan sebesar Rp392 juta. Sedangkan pada 31 Maret 2020, total penjualan sembako pada minggu tersebut diprediksi mencapai Rp4,1 miliar. Dengan demikian, dalam satu bulan tersebut, penjualan sembako secara online diperkirakan melesat lebih dari 400 persen.
Itu semua merupakan data-data yang sangat fantastis karena peningkatan transaksi yang begitu tajam sejak wabah Covid-19 melanda Indonesia. Data tersebut secara tidak langsung juga menggambarkan betapa aplikasi digital berperan sangat penting demi menopang kehidupan manusia saat ini, terutama di Indonesia. (Abraham Sihombing)