Highlights
- ICDX jadi bursa berjangka pertama di Indonesia yang perdagangkan REC
- 1 REC = 1 MWh listrik dari energi terbarukan
- Infrastruktur terkoneksi dengan registri Evident I-REC dan APX TIGRs
- Wamendag: REC perkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global
- Empat perusahaan jadi pelopor transaksi perdana REC di ICDX
Daftar Isi
- 1. Diresmikan Wamendag, ICDX Jadi Bursa REC Pertama
- 2. Mengapa REC Penting bagi Indonesia?
- 3. Infrastruktur dan Standar Internasional
- 4. Peluang bagi Pelaku Usaha dan Investor
- 5. FAQ
Indonesia resmi memiliki bursa perdagangan Sertifikat Energi Terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) melalui Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX). Langkah ini menempatkan Indonesia sejajar dengan bursa-bursa dunia seperti India Energy Exchange, European Energy Exchange, dan Intercontinental Exchange Amerika Serikat dalam perdagangan energi bersih.
REC adalah sertifikat atas produksi tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) sesuai standar yang diakui secara nasional maupun internasional. Dalam perhitungannya, 1 REC setara dengan 1 megawatt hour (MWh) listrik dari sumber EBT.
1. Diresmikan Wamendag, ICDX Jadi Bursa REC Pertama
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esty Widya Putri meresmikan pasar perdagangan REC di ICDX pada Juli 2025. Dengan izin dari Bappebti, ICDX menjadi bursa berjangka pertama di Indonesia yang memperdagangkan Kontrak Fisik Renewable Energy Certificate.
"ICDX telah mengambil peran penting dalam mendukung program pemerintah. Perdagangan REC merupakan langkah strategis dan inovatif dalam memajukan perdagangan komoditas di Indonesia," ungkap Roro.
Empat perusahaan menjadi pelopor transaksi perdana REC di ICDX, termasuk Bank Capital yang membeli 2.098 MWh energi hidro sebagai transaksi awal. Kehadiran REC di ICDX memperkaya produk yang diperdagangkan dan diharapkan menarik investor baru ke pasar komoditi Indonesia.
2. Mengapa REC Penting bagi Indonesia?
Indonesia memiliki target bauran energi nasional yang ambisius. REC menjadi instrumen kunci untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan tanpa mengubah sistem ketenagalistrikan secara langsung.
Pengamat Ekonomi dan Senior Consultant Bidang Energi Terbarukan, J Bely Utarja, menjelaskan bahwa bagi pelaku usaha, REC merupakan instrumen yang efisien untuk menunjukkan penggunaan energi terbarukan termasuk untuk pemenuhan komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance).
"REC juga meningkatkan reputasi selain kesiapan terhadap penerapan regulasi seperti Carbon Border Adjustment Mechanism pada produk-produk ekspor," ucap Bely. Ini artinya, perusahaan yang memiliki REC akan lebih siap menghadapi kebijakan perdagangan karbon yang mulai diterapkan oleh Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya.
3. Infrastruktur dan Standar Internasional
Direktur Utama ICDX Fajar Wibhiyadi memastikan bahwa infrastruktur perdagangan REC di ICDX telah terkoneksi dengan sistem registri internasional.
"Infrastruktur ICDX juga telah terkoneksi dengan sistem registri dari Evident I-REC dan APX TIGRs sesuai dengan standar internasional. Kami optimis perdagangan REC ini kedepan akan terus berkembang," jelas Fajar.
Perdagangan pasar fisik tenaga listrik terbarukan sebagai komoditi di bursa berjangka bukan hal baru di dunia. Sebelum Indonesia, mekanisme serupa sudah berjalan di India Energy Exchange, European Energy Exchange, Intercontinental Exchange (ICE) Amerika Serikat, Xpansiv Australia, Air Carbon Exchange Singapura, dan Bursa Malaysia.
Konektivitas dengan standar internasional memastikan bahwa REC yang diperdagangkan di ICDX memiliki kredibilitas global. Hal ini penting bagi perusahaan Indonesia yang ingin menunjukkan komitmen energi bersih kepada mitra internasional.
4. Peluang bagi Pelaku Usaha dan Investor
Perdagangan REC di ICDX membuka peluang baru bagi berbagai pihak:
- Perusahaan manufaktur. Bisa menggunakan REC untuk memenuhi target ESG dan meningkatkan daya saing ekspor.
- Perusahaan properti dan gedung hijau. REC bisa menjadi bukti penggunaan energi bersih untuk sertifikasi green building.
- Investor. Perdagangan REC membuka kelas aset baru yang berkaitan dengan transisi energi.
- Pembangkit EBT. Bisa menjual sertifikat energi yang dihasilkan sebagai sumber pendapatan tambahan.
Dengan semakin ketatnya regulasi karbon global, permintaan REC diprediksi akan terus meningkat. Indonesia yang memiliki potensi energi terbarukan besar - dari tenaga surya, air, hingga panas bumi - berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan peluang ini.
5. FAQ
Q: Apa itu Renewable Energy Certificate (REC)?
A: REC adalah sertifikat atas produksi tenaga listrik dari pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT). Satu REC setara dengan 1 MWh listrik dari sumber EBT.
Q: Di mana REC diperdagangkan di Indonesia?
A: REC diperdagangkan di ICDX (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange), bursa berjangka pertama di Indonesia yang memperdagangkan kontrak fisik REC.
Q: Siapa yang bisa membeli REC?
A: Perusahaan, institusi, maupun individu yang ingin menunjukkan penggunaan energi terbarukan untuk kebutuhan ESG, sertifikasi hijau, atau offset emisi karbon.
Q: Apa standar internasional yang digunakan REC di ICDX?
A: ICDX terkoneksi dengan sistem registri Evident I-REC dan APX TIGRs sesuai standar internasional yang diakui global.
Key Takeaways
- ICDX jadi bursa berjangka pertama di Indonesia yang perdagangkan REC
- REC membantu perusahaan penuhi komitmen ESG dan hadapi regulasi karbon global
- Infrastruktur ICDX terkoneksi dengan standar internasional (I-REC, APX TIGRs)
- Peluang besar bagi perusahaan manufaktur, properti, dan pembangkit EBT