Menghadapi Tantangan Dunia: Antara Krisis Global dan Hiperkonektivitas

Oleh : Reza A.A Wattimena | Senin, 03 April 2017 - 20:14 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id - Stephen O’Brien, Under-Secretary-General for Humanitarian Affairs and Emergency Relief Coordinator PBB, menyatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB, bahwa seluruh dunia saat ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang amat besar. Krisis ini bisa mendorong terjadinya malapetaka di tingkat global.

Di Afrika sendiri misalnya, sekitar 20 juta orang terancam bencana kelaparan, terutama di Nigeria, Somalia dan Sudan. Di sisi lain, seperti ditegaskan oleh UNICEF, bagian dari PBB yang berurusan dengan kesejahteraan anak, sekitar 1,4 juta anak terancam meninggal dunia, akibat kelaparan tahun ini. (Kompas, 12 Maret 2017)

Pernyataan O’Brien ini didukung oleh pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Dunia tidak hanya menghadapi tantangan dari berbagai konflik maupun bencana kelaparan, tetapi juga dari perubahan iklim dan pemanasan global.

Di Indonesia sendiri, korupsi E-KTP yang terbongkar baru-baru ini semakin membuka mata masyarakat akan rendahnya mutu para pejabat publik, mulai dari legislatif sampai dengan eksekutif. Dunia jelas memerlukan paradigma baru untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.  

 

Apa yang bisa dilakukan?

Ada beberapa hal yang kiranya bisa dan perlu untuk dilakukan. Pertama, kita perlu belajar dari pemikiran Hans Jonas, seorang pemikir Jerman, terutama dari bukunya yang berjudul Das Prinzip Verantwortung: Versuch einer Ethik für die technologische Zivilisation.

Bagi Jonas, pandangan etis yang berasal dari masa lalu tidaklah memadai untuk memahami perkembangan kehidupan manusia. Dewasa ini, hidup kita tidak bisa dipisahkan dari teknologi, terutama perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang memicu lahirnya globalisasi dan keterhubungan hiper (hyperconnectedness).

Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah sudut pandang baru. Sudut pandang tersebut berpijak pada tanggung jawab tidak hanya pada keluarga dan kerabat satu golongan, tetapi juga kepada seluruh dunia, dan juga tidak hanya kepada kehidupan masa kini, tetapi juga pada kehidupan masa depan.

Dengan dasar pandangan ini, Jonas merumuskan apa yang disebut sebagai imperative ekologis. Bunyinya begini: bertindaklah, sehingga dampak-dampak dari tindakan anda sejalan dengan keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini. ini berarti melibatkan dua hal.

Yang pertama adalah pertimbangan pada masa depan sebagai dasar pertimbangan etis (Zukunftsethik) pembuatan keputusan. Yang kedua adalah heuristika ketakutan (Heuristik der Furcht), yakni upaya untuk membayangkan apa yang terburuk terjadi di masa depan, dan menggunakan bayangan tersebut sebagai dasar dari pembuatan keputusan.

Jika kedua hal ini bisa dilakukan, maka akan terjadi perubahan paradigma di dalam menghadapi berbagai tantangan dunia. Keputusan tidak lagi didasarkan pada keuntungan jangka pendek untuk orang-orang terdekat semata, tetapi juga untuk kepentingan masa depan, sekaligus untuk kepentingan seluruh umat manusia.

 

Kerja Sama, Empati dan Kosmopolitanisme

Ini juga menjadi dasar untuk langkah kedua, yakni membangun kerja sama internasional yang autentik dari berbagai kelompok dan cabang keilmuan, guna menanggapi berbagai tantangan dunia, mulai dari perang, bencana kelaparan sampai dengan bencana ekologis. Kerja sama ini terjadi di tiga tingkat, yakni pemahaman akar masalah, perumuskan jalan keluar yang tepat dan pelaksanaan jalan keluar tersebut, sampai dengan tahap evaluasi.

Kerja sama hanya mungkin, jika kepentingan sempit egoistik bisa dipinggirkan. Inilah langkah ketiga yang perlu diambil. Kepentingan nasional sebuah negara tidak lagi bisa dipahami lepas dari konteks global, yakni perdamaian dan kemakmuran seluruh dunia.

Jika kepentingan nasional sebuah negara bertentangan dengan kedua hal tersebut, maka ia harus diubah, dan dirumuskan ulang. Seperti yang dinyatakan oleh Noam Chomsky, pemikir Amerika Serikat, kita harus memahami keamanan seluruh dunia sebagai bagian dari keamanan nasional.

Untuk itu, kita memerlukan kemampuan manusiawi lainnya, yakni empati. Dalam arti ini, empati adalah kemampuan untuk mengambil alih sudut pandang orang lain (Perspektiveübernahme), dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan di dalam pembuatan keputusan. Inilah langkah keempat yang mesti kita ambil. Empati harus juga menjadi bagian dari pendidikan yang melibatkan tiga hal, yakni pemahaman teoritis, pengalaman dalam hidup bersama dengan orang lain, dan teladan dari orang-orang yang lebih tua.

Kerja sama dan empati adalah bagian dari semangat kosmopolitanisme yang redup ditelan populisme kanan dewasa ini. Kosmopolitanisme mengajak kita untuk menyadari jati diri sejati kita sebagai mahluk semesta, dan bukan melulu sebagai bagian dari kelompok sosial sempit semata. Ini adalah pandangan lama yang justru menjadi semakin penting untuk dipahami dan diterapkan di dalam konteks nasional maupun global dewasa ini. Inilah langkah kelima yang harus kita ambil.

Tantangan dunia adalah tantangan kita bersama. Ia hanya dapat dilampaui melalui kerja sama yang kompak dan menyeluruh dari berbagai pihak. Sikap tidak peduli bukanlah sebuah pilihan, karena kita hidup di dunia yang terhubung secara hiper. Seperti yang pernah dinyatakan oleh seorang kerabat dari Spanyol, jika ekonomi Cina mengalami flu, maka Spanyol akan mengalami pneumonia. Saran saya hanya satu, jangan sampai kita mengalami kanker paru-paru…

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Jembatan Way Mesuji A

Kamis, 20 Juni 2019 - 20:39 WIB

Ini Perkembangan Penanganan Kerusakan Lantai Jembatan Way Mesuji A

Pada hari Rabu tanggal 19 Juni 2019, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XIX Bandar Lampung, Ditjen Bina Marga telah berhasil…

Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli

Kamis, 20 Juni 2019 - 20:02 WIB

Pemilik Bank Bali: Stop Penjualan Saham Bank Permata Tbk

Usaha pemindahan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank (SCB), sangat diharapkan dilakuan secara transparan.

Lauren Sulistiawati, Presiden Direktur Bank Commonwealth (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 20 Juni 2019 - 20:00 WIB

Mercy Corps Indonesia, Bank Commonwealth dan Mastercard Bantu Perempuan Pengusaha

PT Bank Commonwealth (Bank Commonwealth) dan Mastercard hari ini kembali memperkuat komitmennya dalam membantu perempuan pengusaha UMKM di Indonesia untuk menumbuhkan bisnisnya dengan meluncurkan…

Singapore Airlines (ist)

Kamis, 20 Juni 2019 - 19:38 WIB

Bulan Mei 2019, Jumlah Penumpang SIA Group Meningkat Sebesar 8,0 Persen

Tingkat keterisian penumpang (PLF) mengalami peningkatan sebesar 0,9% poin persentase menjadi 80,5%.

APP Sinar Mas

Kamis, 20 Juni 2019 - 19:17 WIB

Terapkan Manajamen Terintegrasi, APP Sinar Mas Turunkan Angka Kebakaran di Konsesi Hingga Hampir Nol

Saat ini, hanya 0,07% dari seluruh area konsesi pemasoknya yang masih terdampak api akibat pembakaran ilegal oleh pihak ketiga.