INDUSTRY.co.id - Hari ini, seperti hari-hari yang lalu, kita dihadapkan pada dahsyatnya dampak pandemi coronavirus diseases 2019 (Covid-19). Semua orang cemas karena penularannya yang begitu cepat, serempak, dan mematikan. Covid-19 tidak hanya membunuh manusia, melainkan juga menghancurkan perekonomian.
Badai Covid-19 datang persis pada saat umat Kristen merayakan Jumat Agung dan Minggu Paskah. Dua hari besar ini layak dijadikan mementum untuk menemukan kembali dasar iman dan pengharapan kita.
Pada Jumat Agung, kita memperingati besarnya kasih Allah kepada kita. Begitu besar kasih-Nya kepada umat manusia hingga Ia mengorbankan Putra-Nya yang tunggal di kayu salib, wafat untuk menebus dosa kita.
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". (Yohanes 3:16)
Sepertinya tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini, di berbagai golongan, yang tidak dihinggapi ketakutan akan cengkeraman Covid-19. Tidak ada manusia di bumi ini yang tidak takut akan dahsyat virus corona terhadap keselamatan tubuhnya dan pengaruhnya terhadap semua aspek kehidupan manusia, baik di tingkat lokal, nasional, regional, dan di level dunia. Lebih menakutkan lagi, para ahli belum menemukan obat maupun vaksin untuk mencegahnya.
Namun, sadarkah kita bahwa dosa dan cengkeramannya jauh dahsyat akibatnya dibandingkan Covid-19? Bukankah kuasa dosa jauh lebih mengerikan daripada Covid-19?
Fakta menunjukkan, tidak semua orang yang terkena Covid-19 berakhir dengan kematian. Data menunjukkan, di antara mereka yang dihinggapi virus ganas ini, sekitar 90-95% mengalami penyembuhan. Kesehatan mereka yang pernah mengidap Covid-19 bisa pulih kembali.
Akan tetapi, natur dosa dan kuasa dosa ada di dalam diri setiap orang yang dilahirkan ke dunia tanpa terkecuali. Cengkeraman dan kuasa dosa jauh lebih menakutkan daripada cengkeraman Covid-19 ini.
Jauh lebih dahsyat lagi, tidak ada satu hal pun dalam diri dan perbuatan baik manusia yang mampu menyembuhkan natur dosanya. Cengkeraman kuasa dosa berdampak sampai kekal, tidak ada kesudahannya.
Oleh karena itu, mari kita kembali menghargai betapa besarnya anugerah Tuhan yang telah mengirimkan anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib. Dia yang mengalahkan kuasa dosa yang mencengkeram hidup setiap manusia, yang menyebabkan manusia tidak mendapatkan kebahagiaan abadi. Kuasa dosa jauh lebih mengerikan daripada cengkeraman Covid-19 yang saat ini kita takutkan.
Kiranya Tuhan mengampuni kita yang telah memberikan penilaian yang salah terhadap realitas hidup. Kita jauh lebih takut terhadap Covid-19, yang hanya bisa mengancam keselamatan tubuh manusia dan faktanya jauh lebih banyak orang yang sembuh dibandingkan dengan yang meninggal.
Sementara, pada saat yang sama, kita tidak menunjukkan ketakutan terhadap kuasa dosa. Kita tidak menghargai kasih-Nya yang yang begitu besar, yang dinyatakan melalui kerelaaan berkorban. Rela sengsara dan mati di kayu salib.
Kiranya Tuhan boleh memakai wabah Covid-19 ini untuk membawa kita lebih mengerti akan keganasan kuasa dosa. Bahwa, kuasa dosa jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan masalah virus corona yang sedang kita hadapi saat ini.
Kiranya melalui wabah virus ganas ini, kita semua bisa kembali menghargai pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Semoga fakta pahit yang tengah kita alami mampu mengarahkan mata hati dan pikiran kita pada betapa mahabesarnya kuasa Allah dan kemurahan kasih karunia-Nya.
Kiranya semua pengalaman menghadapi Covid-19 menuntun hati, pikiran, dan perbuatan kita untuk lebih fokus kepada kebenaran dan hidup memuliakan nama-Nya yang kudus.(b1)
Selamat Hari Paskah.
Penulis adalah James T Riady CEO Lippo Group dan Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan