INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak dunia bergerak melemah pada penutupan perdagangan pekan ini setelah pasar merespons sinyal aliansi OPEC+ yang berpotensi kembali menaikkan target produksi mulai September. Meski demikian, tekanan tersebut diperkirakan masih akan dibatasi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta rencana Kazakhstan memangkas produksi minyak.

OPEC+ disebut berpeluang menyepakati kenaikan target produksi saat pertemuan pada 2 Agustus mendatang. Tiga sumber menyebutkan tujuh anggota utama OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, diperkirakan akan meningkatkan target produksi sekitar 188.000 barel per hari (bph) pada September, sejalan dengan kenaikan yang telah diterapkan pada Juni, Juli, dan Agustus.

Di sisi lain, sentimen bullish masih membayangi pasar setelah Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat melalui Perdana Menteri Irak. Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa Washington belum siap membuka kembali perundingan gencatan senjata dengan Teheran.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump menegaskan akan memberikan respons militer besar-besaran terhadap Iran dan kelompok Houthi menyusul serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, di dekat pelabuhan Jazan, Laut Merah. Insiden tersebut turut mendorong lonjakan biaya asuransi pengiriman melalui Laut Merah bagian selatan yang dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat untuk sejumlah perusahaan.

Dari sisi pasokan, dukungan terhadap harga juga datang dari Kazakhstan. Kementerian Energi Kazakhstan mengumumkan akan mengurangi produksi minyak untuk sementara waktu setelah serangan drone Ukraina diduga memaksa penutupan terminal ekspor utama di Laut Hitam. Operator Jalur Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) juga dilaporkan menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah menangguhkan aktivitas pemuatan akibat serangan terhadap kapal tanker di terminal tersebut.

"Pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak terkoreksi bearish dipicu oleh isyarat aliansi OPEC+ untuk kembali meningkatkan produksi pada September. Meski demikian, potensi harga kembali bullish masih cukup kuat didukung oleh memudarnya harapan kesepakatan damai AS-Iran dalam waktu dekat, ancaman penutupan jalur pengiriman penting kedua di wilayah Timur Tengah, dan keputusan Kazakhstan untuk mengurangi produksi," demikian isi analisis pasar ICDX, Jumat (24/7/2026). 

Secara teknikal, harga minyak diperkirakan masih memiliki ruang penguatan apabila didukung sentimen positif. "Harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$94 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$89 per barel," demikian hasil analisis tersebut.