INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pergerakan IHSG secara teknikal mengkonfirmasi false break level psikologis 6000 dengan potensi bergerak melemah jangka pendek menguji support 5950 meskipun dari Indikator semua cukup positif dari MACD yang bergerak divergent positif, RSI yang memiliki momentum cukup rendah dan Stochastic yang membuka peluang penguatan yang masih melebar.

Advertisement

"Sehingga secara teknikal kami masih perkirakan IHSG masih akan bergerak mencoba tutup diatas level psikologis 6000 dengan support resistance 5950-6050," kata analis Relance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Saham-saham yang cukup menarik secara teknikal diantaranya; HOKI, MAIN, TPIA, BBRI, TLKM, JSMR, ERAA.

Advertisement

IHSG (-0.79%) mengawali pekan dengan melemah 47.52 poin kelevel 5952.08 mengiringi pelemahan mayoritas indeks acuan di Asia. Data defisit transaksi berjalan kuartal ke-4 melebar jika di bandingkan tahun sebelumnya kelevel defisit $8.12 Miliar berbanding defisit $7.49 Miliar. Meskipun secara keseluruhan Defisit transaksi berjalan 2019 menyempit menjadi 2,72% dari PDB dari 2,99% dari PDB ditahun 2018. Data ini direspon negatif pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD yang ditutup melemah 0.27% kelevel Rp13711.50 per USD. Saham-saham pertanian (-3.37%) yang terkoreksi dalam memimpin pelemahan IHSG.

Katalis pelemahan CPO (-1.92%) yang kembali terjadi setelah indikasi surplus karena penurunan stok persediaan turun tidak lebih dalam dari penurunan ekspor dimana stok turun sebesar 12.7% sedangkan ekspor turun lebih dalam 13.2% di Malaysia. Investor asing melakukan aksi beli bersih sebesar 380.25 miliar rupiah pada bursa saham Negosiasi sedangkan net sell 49.83 miliar rupiah pada pasar reguler.

Advertisement

Bursa Eropa dibuka kompak melemah dengan bursa saham Asia. Indeks Eurostoxx (-0.44%), FTSE (-0.37%) dan DAX (-0.39%) turun mendekati setengah persen dipimpin oleh perusahaan traven dan media. Pound Inggris turun 0,1%. Euro sedikit berubah pada $ 1,0947. Investor terlihat berhati-hati akan dampak dari krisis kesehatan Tiongkok dimana tercatat korban kematian global dari coronavirus naik menjadi lebih dari 900, yang lebih banyak daripada wabah SARS. Investor di Eropa menanti Presiden ECB berbicara di Parlement Eropa guna mencari indikasi-indikasi stimulus dan kabar kebijakan Brexit di mata Eropa.

Advertisement