INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak dunia pada perdagangan Kamis (23/7/2026) masih melanjutkan tren penguatan dan bergerak mendekati level US$90 per barel. Reli tersebut didorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Laut Merah yang memicu kekhawatiran meluasnya perang Iran ke kawasan regional. Di saat yang sama, potensi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Rusia turut memperkuat sentimen positif bagi harga minyak.
Kelompok Houthi Yaman mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah menggunakan rudal dan drone. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan tersebut menyasar kapal tanker yang mengangkut sekitar setengah juta barel minyak mentah. Laporan itu juga diperkuat oleh kantor berita Tasnim Iran.
Tak lama berselang, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker kembali diserang di Laut Merah, tepatnya di dekat Kota Al-Shuqaiq, Arab Saudi, di wilayah utara pesisir Yaman. Peristiwa tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi energi global.
Sentimen bullish juga datang dari perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Rusia. Intelijen AS tengah menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam serangan drone Iran terhadap sejumlah fasilitas CIA di kawasan Teluk. Berdasarkan laporan yang beredar, Rusia diduga memasok informasi penargetan maupun teknologi drone canggih yang digunakan dalam serangan tersebut.
"Setidaknya dua fasilitas CIA diserang pada Maret lalu, termasuk stasiun CIA di Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, serta lokasi lain di Irak timur," demikian disebutkan dalam laporan Data Ekonomi Harian ICDX yang mengutip empat sumber.
Di sisi lain, terdapat secercah harapan meredanya ketegangan di kawasan setelah Lebanon dan Israel dijadwalkan menggelar putaran lanjutan pembicaraan damai pada 4 Agustus di Italia. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan penarikan awal pasukan Israel dalam program zona percontohan yang berlangsung pekan ini menjadi "langkah pertama yang signifikan untuk mencapai kesepakatan damai lebih lanjut."
Sementara itu, dari sisi fundamental pasokan, laporan mingguan Energy Information Administration (EIA) justru menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat sebesar 2,01 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan stok sebesar 1,25 juta barel.
Persediaan bensin AS juga tercatat naik 765.000 barel, padahal konsensus pasar memperkirakan penurunan sebesar 1,54 juta barel. Data tersebut mengindikasikan permintaan energi di Amerika Serikat masih relatif lemah sehingga berpotensi membatasi ruang penguatan harga minyak.
Secara teknikal, harga minyak masih memiliki peluang melanjutkan kenaikan dengan target resistance terdekat di kisaran US$91 per barel. Namun apabila muncul sentimen negatif, harga diperkirakan berpotensi terkoreksi menuju level support di sekitar US$86 per barel.